HR Excellency

Prinsip Magnet & Prinsip People Developement

Prinsip Magnet & Prinsip People Developement
Nov 3, 17|Tips & Motivasi| 4303 times

No one knows everything, but everyone can learn something (Sean Gregory Derrick)

Pembaca, hari ini mari kita belajar dari PRINSIP MAGNET. Ini adalah salah satu cara saya mengilustrasikan proses pengembangan manusia. Magnet adalah logam yang memunyai daya menarik logam besi di sekitarnya. Ia juga memunyai daya menolak jika didekatkan dengan logam magnet lain yang berkutub sama.  Batu magnet (lodestones) ditemukan pertama kali di pegunungan Magnesia, Yunani.  Banyak kebudayaan yang mempunyai cerita dan nama sendiri soal magnet.  Lantas, bagaimanakah pengetahuan dan prinsip-prinsip magnet dapat dipakai untuk pengembangan orang?

Bahan Dasarnya Penting

Prinsip pertama, magnet hanya bisa menarik benda-benda yang mengandung muatan besi tertentu. Begitu pula dalam menciptakan daya magnet ini selanjutnya. Tidak semua materi dijadikan sumber magnet. Oleh karenanya, menjadi sangat berarti bahan dan kualitas dasar manusia yang akan dibentuk. Minat, bakat, dan kemampuan dasar sering sangat menentukan. Banyak program pengembangan manusia gagal karena minus perhatian pada faktor di atas. Sehebat-hebatnya kemampuan menanam dan merawat pohon, bagaimana pun bibit pohon itu sangat menentukan. Jauh lebih mudah membentuk magnet dari logam besi ketimbang logam lainnya. Tidak semua logam bisa dijadikan magnet.  Oleh karenanya, sebelum membentuk seseorang menjadi sales, leader, ataupun profesi tertentu, penting pula memerhatikan bibit, bobot, dan bebetnya. Jim Collins dalam bukunya “From Good to Great” mengatakan, “Get the right people on your bus.” Hanya orang-orang tertentu yang kita izinkan naik ke bus organisasi kita. Kalau tidak, mungkin kita akan buang-buang waktu saja.

Continuous and Never Ending Improvement

Prinsip magnet kedua mengatakan batu magnet sebenarnya berasal dari batu besi biasa, yang karena proses “exposure” terus-menerus dengan gelombang magnet bumi, lantas berubah menjadi magnet berkekuatan yang luar biasa.  Bahkan, menurut legenda, kisah magnet dimulai dari Magnes, seorang gembala Yunani yang menemukan magnet alami pada saat tongkat besinya tertarik pada batu. Saking kuat dayanya, tongkat itu tidak bisa ditarik lagi. Si polos Magnes pun lari ketakutan. Itulah kekuatan magnet alami yang terekspose dengan medan daya magnet selama ratusan tahun.  Kekuatan itu berbeda dengan kekuatan magnet buatan yang relatif lebih rendah.  Nah, prinsip ini bisa kita jadikan referensi untuk pembentukan manusia dalam organisasi. Jika ingin bertahan lama, dibutuhkan proses CANI (Continuous and Neverending Improvement). Tidak sekadar instan dan hanya proses satu dan dua tahapan saja.

3 Proses Menciptakan “Manusia”

Prinsip ketiga terkait dengan upaya kita bisa membentuk dan menciptakan magnet buatan. Pertama-tama harus ada dulu sumbernya, yakni batu alami magnetik yang ditemukan dengan cara ditambang, sejenis batu berkandungan FerricOxide (FeO) yang sudah termagnetisasi. Dari sumber utama inilah magnet buatan lainnya dibentuk. Pembentukannya pun bisa melalui 3 cara. Pertama, magnet alami digosokkan pada materi magnet. Hasilnya materi tersebut termagnetisasi. Tetapi memiliki kekuatan yang rendah. Kedua, metode magnetisasi elektrikal. Sebuah kawat dililitkan melingkari logam besi dan listrik dialirkan melalui lilitan tersebut. Proses ini membuat magnet lebih kuat. Cara ketiga, para ilmuwan telah menciptakan sebuah mesin yang disebut magnetizer. Dalam hal ini, logam yang akan dijadikan magnet, dimasukkan dalam magnetizer ini. Dipertahankan kondisinya, diperngaruhi terus-menerus dalam lingkungan bermagnet ini untuk periode tertentu sehingga akhirnya magnet pun jadi terisi oleh magnetizer ini. Bagaimana analogi ini dipakai untuk pengembangan orang?

Prinsip pengembangan orang juga bisa dilakukan dengan 3 cara. Cara pertama adalah mengekspose orang yang akan dikembangkan dengan ide-ide yang kita harapkan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan memintanya membaca tulisan, berdialog, maupun arahan. Pokoknya diekspose dengan ide-ide positif. Tetapi, seperti yang dikatakan, efeknya seringkali sebentar. Cara kedua melalui proses “melilitkan” dengan orang-orang yang berpengalaman, melalui proses mentoring ataupun coaching terus-menerus. Hal ini biasanya akan menciptakan hasil yang lebih bertahan. Namun, ada hasil yang lebih optimal, yakni dengan dimasukkan dalam “magnetizer”. Cara ini bisa berarti, dikondisikan dalam ruang pelatihan yang intensif seperti kelas. Setelahnya dikendalikan dalam latihan panjang di lapangan di mana orang itu diekspose dengan kondisi yang memungkinkan ia mengembangan kapasitasnya.

Jangan pikir tulisan ini hanya untuk Anda yang memimpin orang lain. Prinsip-prinsip ini pun sebenarnya tidak hanya untuk pengembangan orang lain. Tetapi juga bagi diri kita sendiri.  Selamat mencoba!

Related Blog

3 Kompetensi Penting Self Awareness dan Tips Mengembangkannya
Tips & Motivasi| 8342 times

3 Kompetensi Penting Self Awareness dan Tips Mengembangkannya

Menurut Daniel Goleman, penulis buku “Emotional Intelligence: Why It Matter More than IQ”, yang juga penulis buku “Emotional Self Awareness” self awareness itu dibaginya menjadi tiga hal pokok: 1....

EQ GOES TO PAPUA 2016: PAPUA..OH..PAPUA!

Ceritanya berawal dari undangan dan ajakan untuk memberikan inspirasi  di Tembagapura, Timika serta Kuala Kencana. Meskipun ini bukan pertama kalinya, tapi kali ini lebih berkesan dan lebih luas ja...

Wabah Pembelajaran Online Di Tengah Pademi Covid-19
Tips & Motivasi| 1553 times

Wabah Pembelajaran Online Di Tengah Pademi Covid-19

Belakangan masyarakat Indonesia dihebohkan dengan pandemi Covid-19 yang menjadi permasalahan global. Pemerintah telah menghimbau masyarakat untuk melakukan Social distancing / Phisycal distancing a...

Inilah 3 Hal Yang HR Bisa Lakukan Untuk Perbesar Lingkar Pengaruhnya Bagi Orang -Orang di Perusahaan!
Tips & Motivasi| 2500 times

Inilah 3 Hal Yang HR Bisa Lakukan Untuk Perbesar Lingkar Pengaruhnya Bagi Orang -Orang di Perusahaan!

Tahu nggak apa kalimat terbaik yang bisa diterima seorang praktisi HR? Bagiku, kalimat itu datang dari salah satu pimpinan tinggi perusahaan yang mengatakan, "Tin, terima kasih ya. Selama ini aku t...

Psikologi Korupsi: Bisakah Kenaikan Gaji Mengurangi Korupsi?
Tips & Motivasi| 5321 times

Psikologi Korupsi: Bisakah Kenaikan Gaji Mengurangi Korupsi?

Kali ini, saya tergelitik untuk membahas Psikologi Korupsi! Mari kita mulai dari sebuah studi kasus aja. Hal ini terjadi di negeri Ghana. Di tahun 2010, pemerintah mereka melakukan reformasi di tub...

Miliki 3 Kompetensi Self Awareness Yang Penting Ini!
Tips & Motivasi| 4406 times

Miliki 3 Kompetensi Self Awareness Yang Penting Ini!

Self Awareness, adalah kompetensi Kecerdasan Emosi (EQ) yang paling dasar. Tanpa self awareness yang baik, kompetensi yang lainnya akan bermasalah. Kita sering kali ketemu orang yang tidak sadar de...

JANGAN NGAKU TRAINER KALAU GAK PUNYA POWER!

Menjadi trainer memang mengasyikkan. Gimana gak mengasyikkan, bisa melakukan perjalanan dinas ditambah berkuliner, bisa sharing knowlegde dengan berakhir dibayar. Untuk yang profesional bayarannya ...

Pertanyaan penting buat diajukan: "Mana lebih penting: LEADERSHIP atau MANAGERIALSHIP?"
Tips & Motivasi| 2580 times

Pertanyaan penting buat diajukan: "Mana lebih penting: LEADERSHIP atau MANAGERIALSHIP?"

Tadi pagi, di kelas Leadership yang dikasih judul Leadership Managerialship Quotient (LMQ) muncul pertanyaan. Pentingan mana sih, Leadership atau Managerialship? Terus terang, banyak yang kebablas...