HR Excellency

Tujuh Pelajaran Paling Inspiratif dari Tokoh Gatotkaca

No Image
Mei 8, 17|Manajemen HRD| 37363 times

Dalam pewayangan, ia dikenal dengan sebutan si “Otot Kawat dan Bertulang Baja”. Dalam tokoh pewayangan Jawa, ia digambarkan sebagai tokoh yang bisa terbang. Dan dalam pewayangan Jawa-India, ia tergambarkan sebagai sosok langka yakni ksatria keturunan bangsa raksasa. Dialah Gatotkaca. Tetapi, meskipun keturunan raksasa, kesetiaan Gatotkaca pada tugasnya hingga ajal menjemputnya, membuatnya dikenang sebagai tokoh yang sangat inspirasional. Meskipun, karena emosinya dan salah paham pula, Gatotkaca pun dikisahkan pernah membunuh pamannya sendiri. Inilah tokoh yang paling menarik minat dalam kisah Baratayudha. Lantas, apa sajakah pelajaran kehidupan yang bisa kita petik dari tokoh Gatotkaca buat kehidupan, pekerjaan, dan karir kita?

Tujuh Pelajaran Inspiratif
Perlajaran pertama, untuk menjadi sukses, akan ada ongkosnya.
Kisahnya, setelah lahir, para dewa melemparkan tubuh bayi Tetuka ke kawah Candradimuka, di Gunung Jamurdipa. Selanjutnya, para dewa melemparkan semua senjata ke dalam kawah itu. Tetuka yang kemudian berganti nama menjadi Gatotkaca, terus keluar dengan segala kesaktian itu melebur di dirinya! Intinya, Gatotkaca harus disiksa di kawah Candradimuka dulu sebelum akhirnya jadi sakti mandraguna!

So, apakah pembelajarannya? Intinya, sejak kecil, jangan bermanja-manja. Pengorbanan, kadang dibutuhkan untuk melewati semua rasa sakit dan ketidaknyamanan, tapi dari ketidaknyamanan itu akan lahir pribadi yang semakin matang, dan dewasa!

Pelajaran kedua, hargai karunia, dan keunikanmu.
Gatotkaca dikasih karunia oleh dewa dengan berbagai karunia yang unik, dan dia menggunakan semua karunia itu untuk kebaikan. Tepatnya, Gatotkaca dikasih 3 karunia oleh Batara Guru yakni: Kotang Antakusuma, yang membuatnya bisa terbang; Topi bernama “Caping Basunanda” yang membuatnya kalau panas nggak terasa panas dan kalau hujan nggak basah; lalu Sepatu “Pada Kacarma” yang membuatnya tidak terpengaruh suatu tempat

Apakah artinya? Pertama-tama, setiap dari kita pasti punya keunikan, manfaatkanlah itu untuk kebaikan kita! Selain itu, 3 karunia itu juga bisa kita miliki dalam arti kiasan. Misalkan, Kotang Antakusuma bisa bermakna perlunya kemampuan untuk membuat kita terbang lebih tinggi dari masalah kita sekarang, jangan terpaku dan terbelenggu oleh masalah. Berikutnya, anti hujan-panas bisa bermakna perlunya jas hujan emosi dalam kondisi apapun. Selanjutnya, sepatu yang tidak terpengaruh yakni miliki pijakan yang membuat kita punya prinsip, jangan gampang terpengaruh oleh lingkungan yang buruk!

Pelajaran ketiga, berpikirlah sebelum bertindak dan jangan dibutakan oleh emosi.
Tahukah Anda, Gatotkaca pernah membunuh pamannya sendiri yakni Kalabendana, karena Gatotkaca terbutakan oleh emosinya sendiri. Jadi pelajarannya pentingnya, berpkirlah sebelum bertindak! Jangan hanya karena rasa cinta dan sayang membuat kita bertindak dengan emosi kepada orang lain yang justru akhirnya bikin kita menyesal.

Pelajaran keempat, marilah menjadi pribadi yang tahu membalas budi.
Dalam kisahnya, Gatotkaca membalas kebaikan Arjuna, dengan menjaga anaknya bahkan melindungi Arjuna dengan nyawanya sendiri. Ingat Arjuna yang memotong tali pusarnya. Dan sejak itulah Gatotkaca merasa berhutang budi. Di perang Baratayuda, Gatotkaca mengorbankan dirinya supaya Arjuna bisa menang!

Disinilah Gatotkaca mengajarkan kita untuk selalu mengingat dan menghargai siapa yang telah berjasa dan membantu kita sukses. Dan, janganlah lupa untuk membalas kebaikan budi mereka.

Pelajaran kelima, yakni setia pada tugas sampai pada titik terakhir.
Yang jelas, Gatotkaca bisa saja pergi dan menghilang, tapi dia menyelesaikan tugasnya hingga gugur di medan perang. Inilah yang paling heroik. Dalam perang Baratayuda, Gatotkaca gugur di hari ke 15 oleh senjata Kunta yang sarungnya sudah ada di tubuhnya. Senjata ini dipanahkan oleh Adipati Karna yang harusnya dipakai untuk membunuh Arjuna.

So, apakah pelajarannya? Sederhana. Kalau memang sudah merupakan tugas kita, lakukan dengan tanggung jawab dan jangan berhitung-hitung. Itulah pelajaran terpenting soal tugas dari Gatotkaca.

Pelajaran keenam, belajarlah untuk taat dan tunduk pada otoritas.
Sebenarnya, dalam perang Baratayuda, Gatotkaca tahu bahwa ia ditumbalkan, tapi ia melakukan pekerjaannya dengan ikhlas! Waktu perang Baratayudha terjadi, Adipati Karna dari Kurawa, enggan pakai senjata Kunta (Kuntawijayadanu). Rencananya, ia hanya pakai untuk membunuh Arjuna. Nah, Prabu Kresna meminta Gatotkaca untuk melakukan perusakan dan membunuh sebanyak-banyaknya, sehingga mau nggak mau senjata Kunta terpaksa dipakai. Waktu diperintahkan, Gatotkaca sadar nyawanya jadi taruhan, tapi, tetap ia laksanakan. Dan seperti yang telah diperkirakan, maka Gototkaca pun akhirnya terbunuh dengan senjata Kunta.

Disinilah kita belajar dari Gatotkaca soal pentingnya untuk belajarlah soal kesetiaan dan kepatuhan pada otoritas. Misalkan di kantor, belajar untuk setia dan taat pada perintah atasan, mengikuti dan melakukan apa yang atasan katakan. Termasuk juga patuh pada mereka yang punya otoritas, missal kepatuhan pada orang tua, pada guru atau pun pihak-pihak yang memiliki otoritas.

Dan akhirnya, pelajaran terakhir atau ketujuh adalah tidak perlunya kita untuk mencari nama untuk mendapatkan pengakuan.
Intinya, Gatotkaca tidak pernah mencari nama dan pengakuan meskipun dalam beberapa kejadian justru Gatotkacalah yang telah berjasa. Ia tidak menuntut bahkan ketika namanya tidak diakui.

Sebagai contoh, sewaktu Prabu Niwatakawaca dari Imaimantaka menyerbu kahyangan Jonggring Saloka. Tapi usaha itu akhirnya berhasil digagalkan oleh Arjuna dibantu oleh Gatotkaca. Semua bangsa Dewa tahunya hanya Arjunalah yang berjasa. Bangsa Dewa menganggap biasa saja peran Gatotkaca, karena menurut mereka, memang demikianlah tujuan Gatotkaca dilahirkan.

Nah disinilah Gatotkaca mengajarkan soal kerendahatian. Pelajarannya, nggak perlu mencari nama dan kepopuleran, lakukan dan jangan banyak bicara. Dan pada akhirnya orang pun akan melihat kok. Orang akhirnya akan tahu siapa yang hebat dan siapa yang pintar, serta siapa yang sebenarnya paling berjasa dan berkontribusi!

Demikianlah ketujuh pelajaran paling inspioratif yang bisa kita petik dari sosok Gatotkaca. Tentunya, masih banyak tokoh pewayangan lain yang sama inspiratifnya. Tapi, semoga dengan mengenal dan memahami salah satu tokoh penting dalam pewayangan yakni Gatotkaca membuat kita semakin mencintai budaya tetapi juga semakin terinspirasi dengan kehidupan para tokohnya yang bisa kita jadikan sebagai filosofi hidup kita.

Anthony Dio Martin, "Best EQ trainer Indonesia", direktur HR Excellency, pembicara, ahli psikologi, penulis buku-buku best seller, host program motivasional di salah satu radio terkemuka di Indonesia, host beberapa acara di salah satu TV kabel di Indonesia, kolomnis di berbagai harian dan majalah. Website: www.anthonydiomartin.com dan twitter: @anthony_dmartin

Related Blog

No Image
Leadership| 3973 times

Wakil Pimpinan yang Suka Marah-Marah

Bpk Anthony Dio Martin, Saya adalah pimpinan sebuah bank perkreditan rakyat. Saat ini saya punya masalah dengan salah satu salah wakil saya.Orang tersebut sebenarnya secara umum baik dan loyal. Tet...

No Image
NLP| 8819 times

Ubah Hidupmu dengan Reframing!

Sewaktu kecil, saya dibesarkan di daerah Siantan di KalBar yang sarat dengan tradisi Tionghoa. Saya masih punya ingatan samar-samar dengan tradisi pernikahan dimana ada seorang mak comblang yang fu...

#1 Most Favourite Presentation Skills Training: "RAHASIA APA YANG BISA MEMBUAT PESERTA SUKA DENGAN PROGRAM PRESENTASINYA HR EXCELLENCY?"

Bagi sebagian orang, berbicara di depan umum menjadi suatu hal yang menakutkan. Hal itu bisa terjadi kepada siapapun, baik yang masih bersekolah, kuliah, ataupun yang sudah bekerja dan berkeluarga....

Kepemimpinan yang Tidak Efektif: 10 Tanda Pemimpin dengan EQ Rendah
Leadership| 4869 times

Kepemimpinan yang Tidak Efektif: 10 Tanda Pemimpin dengan EQ Rendah

Steve Jobs adalah salah satu pemimpin yang brilian namun dianggap memiliki EQ rendah. Dia dikenal sebagai sosok yang sering berperilaku otoriter, tidak peka terhadap perasaan karyawan, dan seringka...

Launching Buku "NLP: Self Training" Tepat Perayaan 78 Tahun Indonesia Merdeka
NLP| 2515 times

Launching Buku "NLP: Self Training" Tepat Perayaan 78 Tahun Indonesia Merdeka

Bertepatan dengan perayaan 17 Agustus 2023, dilakukan launching secara online buku baru terbitan MWS Indonesia yakni "NLP: Self Training". Sekaligus, juga bagi-bagi 78 buku secara gratis, buat iku...

Dari Trainer Menjadi Learning Architect: Mengapa Banyak Training Gagal Mengubah Perilaku?

Ada sebuah fenomena yang sering kami temui selama bertahun-tahun bergerak di dunia training dan pengembangan sumber daya manusia. Program training berjalan meriah. Peserta terlihat antusias. Diskus...

Kecerdasan Emosi (EQ) di Era Industri 4.0: Mengapa Kita Makin Membutuhkannya?

Di sebuah kafe kecil yang tersembunyi di sudut kota, seorang pria muda, katakanlah bernama Anwar, duduk termenung di depan laptopnya. Ia adalah seorang software engineer di sebuah perusahaan startu...

Tindakan Tepat untuk Karyawan Terlambat

Pengaruh buruk yang bisa muncul dari kebiasaan datang terlambat seorang karyawan adalah kemarahan karyawan lainnya kepada karyawan yang suka datang terlambat. Maka hal ini bisa berdampak pada suasa...