HR Excellency

Awas, Jangan Kena Gejala Cabin Fever Di Tengah Pandemi Ini!

Awas, Jangan Kena Gejala Cabin Fever Di Tengah Pandemi Ini!
Jun 10, 20|Tips & Motivasi| 2429 times

Bagaimanakah perasaan Anda dalam situasi terisolasi di rumah gara-gara wabah pandemi ini? Banyak yang mengalami situasi bosan, sedih serta jenuh berkepanjangan, hingga jadi depresi, karena tinggal terlalu lama di dalam rumah. Kondisi ini ada nama kerennya, yakni Cabin Fever.

Awalnya, istilah cabin fever ini banyak dipakai di daerah-daerah dengan musim dingin yang panjang. Akibatnya, selama berminggu-minggu hingga bulanan orang harus terkurung dalam rumah ataupun pondokannya yang kecil serta tidak bisa kemana-mana. Semua aktivitas hanya dilakukan di rungan yang terbatas. Tidak bisa keluar. Aktivitasnya hanya itu-itu saja dan ketemunya pun hanya dengan orang itu-itu saja. Lama kelamaan kebosananpun melanda. Awalnya bosan, tapi lama kelamaan, perasaan bosan itu menjadi stress yang berkepanjangan. Dampaknya pun bisa menjadi sangat berat, hingga membahayakan baik buat dirinya maupun orang lain.

Berbagai kisah kejadian para penghuni ataupun para peneliti yang hidup lama dan terasing di wilayah kutub seperti Antartika menceritakan banyak kisah yang mencemaskan hingga banyak yang berakhir tragis. Misalkan saja si tahun 1983, seorang dokter yang tinggal di stasiun Argentina Almirante Brown minta dirinya dan rekan-rekannya segera dievakuasi. Sampai-sampai mereka nekat membakar stasiun mereka. Bahkan, gara-gara stress, seorang peneliti dari Soviet nekat membunuh rekannya dengan kapak, hanya urusan main kartu. Bahkan, ada juga kejadian di tahun 2000 dimana, gara-gara stress terisolasi di kutub kelamaan, sampai-sampai seorang ahli astrofisika dari Australia diracun rekannya.

Ternyata, cabin fever telah menjadi urusan yang ilmiah dan serius. Bahkan pada tahun 1984, Universitas Minnesota meneliti soal cabin fever ini. Mereka menanyakan 35 orang soal pengalaman dan perasaan mereka ketika mengalami Cabin Fever? Jawabannya: bosan, nggak puas, nggak tahan lagi di rumah, anak-anak sampai nggak bisa lagi diatur hingga keinginan besar tak peduli lagi, untuk keluar rumah padahal ada ramalan meteorologi soal adanya ancaman badai salju.

Dengan demikian, dapat kita rasakan bahwa Cabin Fever ini merupakan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa disepelekan. Awalnya masih wajar, tetapi jika ini berlanjut bisa menjadi sesuatu yang membahayakan bagi diri maupun orang lain.

Karena itulah pertanyaan pentingnya adalah bagaimanakah menghadapi cabin fever ini? Paling tidak, para ahli menyarakan ada lima hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi cabin fever ini dalam masa pandemi ini.

Awas, Jangan Kena Gejala Cabin Fever Di Tengah Pandemi Ini! (gambar 1)

Pertama-tama, adalah keluar dari rumah sejenak. Tetapi tetap waspadai kerumuman. Hal ini hanya untuk menciptakan perubahan suasana ataupun situasi. Dan apabila memungkinkan, para ahli bahkan menyarankan untuk berjalan sejenak ataupun aktivitas di luar rumah sejenak, selama tetap menjaga social distanding dengan orang lain.

Kedua, melakukan olahraga ringan misalkan dengan gerakan-gerakan ringan ataupun dengan alat bantu olah raga statis. Ataupun melakukan fitness ataupun latihan olah tubuh dirumah, seperti yoga. Berbagai aktivitas ini mengeluarkan hormon endorphin dalam diri kita, yang penting untuk membuat mood klita menjadi lebih baik.

Ketiga ada baiknya punya goal ataupun punya rencana harian hingga mingguan tentang apa yang mau dicapai serta mau dilakukan. Dengan demikian, diri kita tetap disibukan dengan aktivitas yang punya bertujuan.

Keempat, tetaplah mengaktifkan pikiranmu. Misalkan saja dengan belajar sesuatu ketrampilan ataupun pengetahuan yang baru. Bisa juga dengan mengerjakan teka teki silang, yang intinya biarkan otak tetap aktif.

Kelima, tetaplah untuk menjaga kontak. Untungnya , di tengah pandemic ini kita masih bisa tetap terhubung dan terkontak. Karena itu, jagalah untuk bisa kontak komunikasi dengan orang-orang disekitar kita. Memahami bahwa kita tidak sendirian, akan membantu meringankan beban dan perasan sulit yang kita rasakan pula.

Intinya, cabin fever bukanlah istilah popular yang dibuat-buat. Ini sesuatu yang nyata, yang bisa kita alami saat ini di tengah pandemi ini. Hanya, saja, kita punya pilihan. Apakah kita membiarkan diri kita tenggelam dalam perasaan tak berdaya karena cabin fever ini. Ataukah, kita bangkit dan lakukan sesuatu untuk tidak membiarkan perasaan ini terus mebgantui diri kita. Stay at home, stay productive.

Anthony Dio Martin. Writer, inspirator, speaker, entrepreneur (WISE). CEO Excellency dan penulis 18 buku best seller penerima MURI. Narasumber tetap acara “Smart Emotion” di radio smartfm. Executive coach, yang oleh media dijuluki “The Best EQ Trainer Indonesia”. IG @anthonydiomartin; youtube channel: Anthony Dio Martin Official

Related Blog

Dari Trainer Menjadi Learning Architect: Mengapa Banyak Training Gagal Mengubah Perilaku?

Ada sebuah fenomena yang sering kami temui selama bertahun-tahun bergerak di dunia training dan pengembangan sumber daya manusia. Program training berjalan meriah. Peserta terlihat antusias. Diskus...

Management by Love

Dalam buku Chicken Soup for the Soul, karya Jack Canfield dan Mark Victor Hansen, terdapat sebuah kisah menarik yang tidak pernah saya lupakan, yakni kisah yang berjudul "Sarung Tangan Jesse". Dala...

Ternyata Memasang Foto Orang Yang Kita Cintai Dapat Tingkatkan Gairah Kerja

Angelina Jollie termasuk salah satu artis yang suka membawa foto-fotonya saat shooting. Begitu juga banyak aktor tersohor, juga para eksekutif yang memasang wajah dari orang-orang yang dikasihinya ...

Apakah Kamu Punya Semua Yang Dipersyaratkan Buat Jadi Trainer?

Sewaktu siaran di SmartFM kemarin, pertanyaan muncul dari pendengar, "Apa yang dibutuhkan kalau saya ingin menjadi trainer?". Pertanyaan yang sama muncul di instagram saya (@anthonydiomartin): "Bag...

Mengapa Mahasiswa Membutuhkan EQ: Kunci Sukses di Dunia Akademik dan Sosial
Tips & Motivasi| 914 times

Mengapa Mahasiswa Membutuhkan EQ: Kunci Sukses di Dunia Akademik dan Sosial

Ketika berbicara tentang kesuksesan mahasiswa di lingkungan akademik dan sosial, seringkali fokus diberikan pada kecerdasan intelektual mereka. Namun, tanpa kecerdasan emosional (EQ), kemampuan ini...

Inilah Kunci Rahasia Kerja Produktif dan Bahagia? Tetaplah Antusias dan Kelola Energimu!

Max hobinya reparasi mobil dan otomotif. Dia bisa seharian menghabiskan waktu untuk membongkar mesin mobilnya, membersihkan dan memasangnya kembali. Padahal itu bisa menghabiskan waktu seharian. Be...

Inilah 7 Pertanyaan Yang Menyengsarakan Hidupmu!

Ada satu jenis pertanyaan yang seringkali dipertanyakan orang ribuan kali dalam hidup ini. Betul-betul tidak disadari. Tapi sering ditanyakan. Dan ini pula yang sering menyengsarakan hidup mereka. ...

Training Kecerdasan Emosional (EQ) Di Perusahaan, Buat Apa?
Tips & Motivasi| 8307 times

Training Kecerdasan Emosional (EQ) Di Perusahaan, Buat Apa?

Di ruang meeting, pimpinan perusahaan bertanya dengan serius, "Mengapa butuh pelatihan Kecerdasan Emosional (EQ)?" Itu! Pertanyaan itulah yang banyak kami terima. Dimulai sejak tahun 2002, ketika H...