HR Excellency

Cinderella Complex: Sindroma Wanita yang Tak Pernah Dewasa-Dewasa!

No Image
Sep 1, 16|Parenting| 3457 times

Setiap kali berantem dan punya problem keluarga, Yanti selalu ngambek dan minggat pulang ke rumah orang tuanya. Padahal, perkawinan Yanti dengan Leo sudah jalan lima tahun dan mereka telah dikarunia seorang bocah berusia 3 tahun. Begitu pula dengan Mega. Hingga sekarang ia masih sering berfantasi akan datang pangeran yang akan menyuntingnya. Usia Mega, kini hampir mencapai 30tahun dan masih berperilaku, yang menurut teman-temannya, ‘kekanak-kanakan’. Hobinya masih suka kemana-mana dengan boneka kesayangannya. Mega dua kali pacaran dan berakhir dengan perpisahan dimana Mega ditinggalkan pacarnya, lantaran tidak tahan dengan sikapnya yang suka ngambek dan penuntut.

Itulah simtom-simtom yang mendekati gambaran yang oleh Colette Dowling dalam bukunya yang diterbitkan tahun 1981 yang berjudul “The Cinderella Complex: Women's Hidden Fear of Independence”. Buku ini pada dasarnya berkisah soal kecenderungan pada beberapa wanita dewasa, yang berperilaku tidak matang, karena ketakutan mereka untuk menjadi mendiri. Dan realitasnya, meskipun saat ini banyak wanita metropolitan yang tampak independen, karirnya bagus dan sukses, ternyata banyak yang mengalami kecemasan, rapuh tapi terus-menerus men-fantasikan hadirnya figur pendamping.

Bagaimana awal mula istilah ini? Seperti yang diketahui, istilah Cinderella sebenarya diambil dari dongeng anak-anak karya Disney yang terkenal. Kisah Cinderella itu sendiri sebenarnya pertama kali ditulis di tahun 1697 oleh penulis Perancis, Charles Perrault. Kisahnya menceritakan seorang putri cantik nan malang. Awalnya, Cinderella memiliki masa kecil yang bahagia. Namun, ketika beranjak dewasa, ibu kandungnya meninggal. Petaka dimulai tatkala ayahnya kemudian menikah lagi dengan wanita lain yang kemudian menjadi ibu tirinya. Apalagi, si ibu tiri ini ternyata sudah mempunyai dua orang putri yang kelak akan menjadi saudara bagi Cinderella. Penyiksaan demi penyiksaan dilakukan oleh ibu tiri dan dua saudara kandungnya Cinderella. Hingga akhirnya diceritakan, bagaimana suatu malam, terjadilah keajaiban dimana Cinderella ditolong oleh seorang peri yang baik dan akhir kehidupannya bahagia karena kemudian ia bisa bertemu dengan sang pangeran yang kemudian mencarinya setelah Cinderella sempat kehilangan sepatu kacanya. Di Akhir kisahnya, Cinderella hidup bahagia selamanya bersama pangeran pujaan hatinya.

Itulah kisah singkat Cinderella yang kemudian diadaptasikan kedalam kehidupan beberapa wanita dewasa, yang secara usia telah dewasa namun secara mental tampaknya kurang matang. Istilah sindrom Cinderella Complex menjelaskan ketakutan tersembunyi pada beberapa perempuan untuk mandiri. Jika digali dan ditelusuri, mereka punya harapan bahkan fantasi bahwa hidup mereka akan diselamatkan, dilindungi, dan tentunya disayangi oleh “sang pangeran”. Dalam kehidupan sehari-hari, “penyakit psikologis” ini biasa disebut dengan Sindrom Umur 20, Sindrom Umur 21, Syndrom Umur 22, Syndrom Umur 23, dan seterusnya sesuai usia si perempuan itu, selama dirinya masih sering berkhayal akan bertemu dengan pangeran impiannya sebagaimana yang terjadi di dalam dongeng Cinderella.

Ciri dan Latar Kehidupan Penderita Cinderella Complex

Yang jelas, perempuan yang mengalami cinderella kompleks ini akan tampak tidak mature. Antara usia biologis dengan usia kematangan mental-emosional, terpaut jauh. Secara fisik mereka dewasa, tetapi secara mental mereka kekanak-kanakaan. Mereka pun sangat bergantung  bak ‘parasit’ pada orang yang bisa digantunginya. Bahkan, tatkala mereka mulai berpacaran dan menikah, mereka berharap hidup mereka akan selalu dilindungi dan dijaga. Mereka sangat rapuh, terutama menghadapi tekanan dan masalah hidup. Tak heran, dalam beberapa kasus ketika sudah menikah dan mengalami masalah, mereka dengan mudahnya minggat kembali ke orang tuanya yang selalu setia menampungnya. Itulah sebabnya, seorang wanita yang mengalami Cinderalla compleks ini, sangat membutuhkan seorang pacar ataupun suami yang bisa bersifat seperti ayahnya, yang lebih dewasa, yang bisa melindungi serta mengayomi hidupnya. Kadang-kadang, mereka pun bisa serta merta memutuskan hubungan, tatkala mereka merasa cowok ataupun suaminya yang menjadi pasanganya, tidak seperti harapannya. Atau bisa jua sebaliknya, mereka diputus lantaran laki-laki yang menjadi tumpuan hidupnya merasa ‘capek’ terus-menerus harus membela dan melindungi diri wanita ini, yang tak pernah mandiri dalam mengambil keputusan dan melakukan sesuatu (misal: kemana-mana harus diantar, menuntut laki-lakinya harus berperilaku gentlemen seperti dalam buku etika, dll). Bahkan, dalam beberapa  kasus, sering terjadi wanita dewasa penderita Cinderella Compleks ini masih menggunakan pakaian ataupun berperilaku seperti anak-anak remaja.

Bagaimana latar belakangnya? Seringkali, wanita penderita sindroma Cinderella Compleks ini lahir dari keluarga yang terlalu protektif. Orang tua mereka terlalu melindungi mereka, bahkan ketika mereka dewasa, orang tuanya pun banyak campur tangan melindungi mereka. Akibatnya, mereka tak pernah dewasa. Di sisi lain, hal ini bisa terjadi pada orang tua yang sering membiarkan anak putrinya bermanja-manja secara berlebihan, ataupun banyak mengambil tanggung jawab atas kehidupan putrinya.

Stop Sindrom Cinderella Compleks!

Salahkah Cinderella Compleks ini? Tidak sepenuhnya. Namun, untuk jangka panjang, para penderita sindroma Cinderella Compleks ini sangat meletihkan, menghabiskan banyak energi orang disekitarnya bahkan sulit diandalkan. Karena itulah, sindrom Cinderella Compleks bisa diputus dengan adanya kesadaran untuk menjadi lebih mandiri.

  1. Stop berfantasi. Jika Anda belum menikah, berhentilah berfantasi akan datang pangeran tanpa cacat yang menolong Anda. Belajar untuk bersikap realitis kepada pasangan Anda. Kalau Anda sudah menikah, jangan lagi berpikir masih mencari “soulmate” Anda. Belajar Belajar menerima kekurangan dan kelebihan pasangan Anda.
  2. Persiapkan masa depan. Jangan berharap dan bergantung masa depan pada siapapun. Anda boleh bercita-cita akan kehidupan yang nyaman, tetapi siapkanlah untuk hal yang terburuk.
  3. Jadilah orang yang bisa diandalkan pula. Pasangan Anda pun membutuhkan Anda, jangan hanya bergantung, jadilah orang yang bisa diandalkan pula.
  4. Biasakan mendiri dan melakukan hal-hal kecil secara mandiri. Misalkan: pergi kemana-mana, jangan mengandalkan jemputan, mendaftar, berbelanja atau aktivitas lain, usahakan lakukan sendiri.
  5. Belajar menyelesaikan masalah secara mandiri. Jangan menjadi malas dan selalu menyerahkan keputusan pada orang lain. Anda boleh konsultasikan tetapi belajarlah putuskan sendiri.
  6. Tak perlu cemas dan yakinlah kemampuan Anda jauh melebihi ketakutan Anda. Kalaupun Anda harua mandiri, hidup sendiri dan tidak ada yang membantu, Anda sebenarnya siap dan mampu, hanya saja Anda tidak melatihnya.

Anthony Dio Martin, ahli psikologi, motivator dan penulis buku-buku bestseller. Hubungi  via facebooknya di www.anthonydiomartin.com/go/facebook

Related Blog

No Image
Parenting| 3169 times

Menjadi Orang Tua Ber-EQ Tinggi!

Dalam salah satu posting yang saya terima di fanpage saya, salah seorang tua berkata “Saat ini kelihatannya semakin sulit untuk menjadi seorang tua dan juga menjadi semakin sulit menjadi seorang an...

Uncaring Boss: Menghadapi Atasan Yang Nggak Peduli Sama Sekali

Uncaring Boss! Ada lho, pimpinan yang sama sekali tidak peduli, khususnya orang-orangnya. Terus, Siapa yang dia pedulikan? Dirinya dan tergetnya. Kadang, orang lain, rekan dan bawahan hanyalah jadi...

FILOSOFI BAMBU!
Tips & Motivasi| 8487 times

FILOSOFI BAMBU!

Berguru tidaklah hanya pada dosen di ruang kuliah saja. Tapi, juga pada alam. Alam yang menjadi ruang seluruh denyut kehidupan ini bisa menjadi mahaguru yang baik. Banyak hal yang bisa kita pelajar...

Atasi 5 Racun Emosionalmu!

Seorang anak yang gagal dalam rumah tangga dan bisnisnya, siap untuk mengakhiri hidupnya. Tali gantungan dan semua perlengkapan telah ia siapkan. Bahkan, ia pun telah menyalakan kamera HP-nya. Ia i...

Tips Problem Solving & Decision Making: Seni Menghadapi Tantangan dengan Bijak
Tips & Motivasi| 1032 times

Tips Problem Solving & Decision Making: Seni Menghadapi Tantangan dengan Bijak

Pada akhir Februari 2025, saya bersama rekan trainer dari Malaysia, Bro Khairul Mazlan, yang juga terafiliasi dengan Miniworkshopseries (MWS) International, mendapatkan kesempatan berbagi wawasan t...

Energy Sucker: Waspada Orang Yang Diam-Diam Menguras Energi dan Produktivitas Anda
Tips & Motivasi| 652 times

Energy Sucker: Waspada Orang Yang Diam-Diam Menguras Energi dan Produktivitas Anda

Dalam berbagai sesi coaching yang kami lakukan bersama para profesional dan leader di berbagai organisasi, ada satu pola yang cukup sering muncul. Ketika kinerja seseorang menurun, asumsi awal bias...

Salah Kaprah Seputar Emosi dan Kecerdasan Emosional

Kenapa sih Cerdas Emosi? Emangnya emosi bisa cerdas? Terus, kalau cerdas emosi, apakah artinya kita bakalan nggak pernah marah lagi? Apakah cerdas emosi lebih cocoknya buat cewek aja. Cowok, masih ...

EQ for Operations Support: Pentingnya EQ Bagi Yang di Belakang Layar

Bayangkan situasi begini. Pagi-pagi, Anda baru saja duduk, membuka laptop, belum sempat menyesap kopi pertama, notifikasi sudah berdentang. Vendor minta klarifikasi, user kirim email panjang soal l...