HR Excellency

FILOSOFI BAMBU!

FILOSOFI BAMBU!
Feb 28, 18|Tips & Motivasi| 8486 times

Berguru tidaklah hanya pada dosen di ruang kuliah saja. Tapi, juga pada alam. Alam yang menjadi ruang seluruh denyut kehidupan ini bisa menjadi mahaguru yang baik. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari alam. Kita bisa belajar banyak tentang filosofi hidup. Bahkan, apa yang tidak ada dalam buku-buku dan diktat-diktat pelajaran, bisa kita dapatkan dalam buku raksaksa bernama ALAM!

Nah, kali ini, saya ingin mengajak pembaca untuk belajar dari pohon bambu. Alkisah, ada seorang pemuda yang bertekad menjadi seorang pendekar sakti. Ia mengembara untuk mencari seorang guru terbaik yang bisa mengajarinya ilmu bela diri. Setelah ketemu, ia berusaha keras agar guru sakti itu mau menerimanya menjadi muridnya. Namun, ada satu syarat yang diminta guru itu, yakni harus mengikuti pelajaran apa pun yang diberikan guru itu. Pemuda itu menyanggupi.

Guru itu menyuruh si pemuda untuk menimba air, mencuci baju, dan memanjat pohon untuk mencari sarang burung dan telurnya. Itu harus dilakukan setiap hari tanpa absen satu pun. Lama kelamaan, selama dua tahun, pemuda itu mulai gelisah. Kebosanan mulai merayap di hatinya. Ia merasa ‘dikerjain’ oleh gurunya. Pada tahun ketiga, kebosanan seakan memuncak dan membuatnya berani mengungkapkan protes pada gurunya. Ia siap mengundurkan diri dari padepokan. Sang guru tahu benar isi hati pemuda itu. Diajaklah pemuda itu ke sebuah taman penuh dengan tanaman bambu. Sang guru menyuruh pemuda itu mencabut satu pohon bambu saja. Pemuda itu mencoba dan tidak berhasil. Ia mencobanya berkali-kali dan kegagalan yang sama terulang terus.

Guru itu mulai bercerita soal pohon bambu. Bambu, katanya, adalah tanaman yang unik. Waktu ditanam, kurang lebih empat tahun pertama, bambu belum menampakkan pertumbuhannya yang penting. Tapi, pada saat itulah, akar-akar bambu tumbuh subur. Pada tahun kelima, setelah pertumbuhan akarnya selesai, barulah batang bambu akan muncul. Tumbuh, menjulang ke atas langit. “Itulah yang sedang kamu pelajari. Belajarlah dari pohon bambu ini. Kalau kamu mau menjadi orang hebat dan besar, kamu harus membangun pondasinya lebih dulu. Itulah yang sedang saya latihkan padamu selama tiga tahun ini,” kata guru itu. Pemuda itu pun mulai menyadari maksud gurunya. Ia malu dan melanjutkan pelajaran beladirinya.

 Kita perlu belajar seperti pemuda itu. Untuk menjadi baik dan memperoleh kesuksesan, tidak ada jalan lain selain ketekunan dan kegigihan dalam berusaha. Namun, orang cenderung males berproses, apalagi kalau proses itu sarat dengan kerja keras, keringat, dan penderitaan. Filosofi bambu ini mengajarkan kita untuk setia menanam dan merawat. Memang hasilnya tidak akan langsung kelihatan Tetapi, selama kita terus maju dengan gigih dan berusaha, pada saatnya kita akan memetik hasilnya. Persis seperti suatu kata bijak, orang yang pergi ke ladang dengan cucuran air mata akan pulang bersama berkas panennya dengan sorak-sorai. Intinya, tidak ada kesuksesan sejati yang gratis.

Pelajaran kedua dari bambu adalah soal karakter dan cara hidupnya. Bambu adalah satu-satunya tanaman di Asia Pasifik yang fungsinya sangat banyak. Ia pun bisa hidup di alam dengan ragam cuaca, dari tropis ke subtropis. Dari klasifikasinya, bambu tergolong dalam tanaman rumput. Tapi, bambu adalah rumput spektakuler. Tingginya terentang dari 30 cm sampai 30 meter. Ia sebuah tanaman rumput yang unik. Nah, inilah pelajarannya. Meskipun berlatar tanaman rumput, bambu menjadi beda lantaran karakternya. Kegunaan dan caranya bambu mengekspresikan dirinya menjadikan bambu sebagai rumput yang berbeda. Dalam kehidupan pun, latar belakang kita sebenarnya bukanlah penentu. Tetapi, bagaimana kita berupaya mengekpresikan potensi diri, tidak peduli latar belakang yang ada. Itulah yang akhirnya, membuat kita menjadi pribadi yang luar biasa.

Filosofi bambu lainnya adalah soal kegigihan dan  keinginan untuk hidup dalam situasi sulit sekalipun. Saat Hiroshima dan Nagasaki dihujani bom atom, hampir seluruh kehidupan di wilayah itu hancur, semua bangunan rata dengan tanah. Tapi, tidak lama, ada jenis mahkluk hidup yang kembali menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Tak lain adalah bambu. Hal ini mengajari kita untuk tidak terkungkung oleh masa lalu, kegagalan, tetapi segera bangkit untuk berusaha maju. Tidak berlama-lama mengutuki kegelapan, tetapi segera bangkit untuk menyalakan pelita.

Soal ini, bisa belajar dari petinju legendaris George Foreman. Foreman kalah telak oleh Muhammad Ali pada tahun 1974 di Kinshasa, Zaire. Ini adalah peristiwa mengejutkan sekaligus memalukan. Foreman yang sebelumnya dielu-elukan bakal di atas angin, justru kalah. Banyak orang, termasuk suporter-nya, ikut mencaci makinya. Dunia pun segera melupakannya. Tapi, Foreman tidak mau dibekap oleh kegagalan itu.  Ia mau menunjukkan sebagai pemenang sejati. Ia banting stir menjadi wirausahawan. Bahkan, pada tahun 1994, ia kembali naik ring dan mengalahkan Michael Moorer.  Kemenangan ini menjadikan Foreman sebagai petinju tertua yang memenangkan sabuk tinju kelas berat. Itulah ‘karakter bambu’ pada diri Foreman.

Terakhir, bambu juga mengajari kita soal fleksibilitas. Jarang, kita menyaksikan bambu roboh. Di tengah tumbangnya pohon-pohon lain akibat serangan angin puting beliung, bambu tetap kokoh tak bergeming. Selain karena akarnya yang kuat, juga batangnya yang bergoyang bersama angin. Akibatnya, dalam cuaca dan angin kencang, pohon bambu bergoyang dan mengeluarkan desis suara, mengikuti irama angin. Tapi, tidak pernah tumbang. Sementara itu, pohon-pohon lain dengan batang lebih besar, justru tidak kuat menghadapi ganasnya angin. Inilah yang saya sebut dengan fleksibilitas. Pelajarannya? Kita perlu fleksibel dalam menghadapi tantangan dan kesulitan. Dengan begitu, kita tetap akan hidup dan berjaya.

Nah, saatnya belajar dari pohon bambu!

Related Blog

PUNYA ANAK BUAH MILENIAL ??  INILAH 7 TIPS PENTING UNTUK MEMIMPIN DAN MENGELOLA PARA MILENIAL
Leadership| 3336 times

PUNYA ANAK BUAH MILENIAL ?? INILAH 7 TIPS PENTING UNTUK MEMIMPIN DAN MENGELOLA PARA MILENIAL

Generasi MILLENIAL! Di Indonesia, inilah sebutan yang kita berikan untuk generasi yang lahir setelah tahun 1980an. Konon, mereka akan lebih kaya (karena mewarisi asuransi orang tuanya!), lebih seha...

Jangan Hanya Kelola Waktu, tetapi Kelola Energi Anda!
Tips & Motivasi| 4091 times

Jangan Hanya Kelola Waktu, tetapi Kelola Energi Anda!

“Energilah faktor utama tingginya kinerja, bukan waktu” (Jim Loehr & Tony Schwartz, penulis “The Power of Full Engagement”) Saya sering menjumpai orang yang merasa bangga sekaligus memelas terkait...

Menata Kebiasaan Setiap Hari Untuk Mencapai Kesuksesan
Tips & Motivasi| 3413 times

Menata Kebiasaan Setiap Hari Untuk Mencapai Kesuksesan

Kesuksesan adalah hasil dari proses dan kerja keras seseorang. Maka dari itu Top Trainer Indonesia selalu mengingatkan untuk membangun kebiasaan yang baik untuk kesuksesan kita. Ingin sukses tanpa ...

Training Top Negotiator: Training Paling Komprehensif Soal Negosiasi di Indonesia

Negosiasi adalah seni yang setiap hari kita jalani. Saat tawar-menawar di pasar, saat membicarakan proyek dengan klien. Bahkan saat berdiskusi dengan anak atau pasangan, kita sedang bernegosiasi. K...

Perhatian Buat Trainer, Presenter & Guru, Energi Di Ruangan Kelas!

Banyak trainer, atau presenter ataupun guru, nggak menyadari soal energi dalam ruangan. Kenapa sih gampang merasa capek? Kenapa sih, udah dengan susah payah berusaha menaikkan energi peserta tetap ...

Annoying Co-Worker: Tips Menghadapi Rekan Kerja Yang Menyebalkan

Pernahkah menghadapi rekan kerja yang menyebalkan? Mereka bisa muncul dalam berbagai bentuk sikap dan tingkah laku. Lusi, misalnya. Ia adalah tipe teman kerja yang suka sirik. Ia tidak suka ketika ...

Crisis Proof Memasuki Tahun 2026 Dengan Filosofi Stoik dan EQ

Inilah refleksi akhir tahun dari salah satu seminar dimana tim HR Excellency menjadi salah satu narasumber utamanya. Seminar nasional yang penitianya memghadirkan menteri tersebut membahas satu ke...

Anti Bullying: Bagaimana Korea Selatan Mengajari Dunia Soal Bullying dan Pendidikan Karakter

Di tahun ini, ada satu pesan keras yang sedang disampaikan Korea Selatan kepada generasi mudanya. Pesan yang sederhana, tapi menghentak bagi para murid di sekolah. "Nilai akademik setinggi apa pun ...