HR Excellency

EQ for Operations Support: Pentingnya EQ Bagi Yang di Belakang Layar

EQ for Operations Support:  Pentingnya EQ Bagi Yang di Belakang Layar
Mei 20, 25|Emotional Intelligence| 612 times

Bayangkan situasi begini. Pagi-pagi, Anda baru saja duduk, membuka laptop, belum sempat menyesap kopi pertama, notifikasi sudah berdentang. Vendor minta klarifikasi, user kirim email panjang soal laporan yang katanya “tidak sesuai harapan,” sementara di sisi lain, manajemen juga meminta update laporan progress. Di saat seperti itu, kadang kita ingin berteriak… tapi tidak bisa. Kita hanya bisa menghela napas, menelan emosi, dan melanjutkan.

Inilah realitas kita, team members ataupun para leaders di bagian operations support. Ini bisa terjadi khususnya di banking atau perusahaan finance, dimana bagian operations berfungsi untuk mendukung bagian bisnis di kantor pusat atau cabang. Bisa juga di asuransi dimana bagian support operations mendukung para agent yang jualan. Atau di jenis bisnia manapun dimana para operations support ada dibelakang buat mendukung bagian jualan, marketing atau mereka yang berurusan langsung dengan customer.

Di lini inilah, banyak dari kita merasa berada di tengah-tengah pusaran. Bukan ujung tombak seperti tim bisnis yang kinerjanya lebih terlihat, tapi juga bukan bagian belakang. Kita adalah penopang. Kita adalah pilar. Tapi sialnya, ketika semua berjalan lancar, kerjaany para opertions ini dianggap “sudah seharusnya.” Namun saat satu celah muncul, satu data terlambat, satu dokumen tertunda, kitalah yang pertama kali disorot, dipertanyakan, bahkan dimarahi.

Dan di sinilah Emotional Intelligence (EQ) bukan sekadar teori di modul pelatihan. Ia adalah kebutuhan. Ia adalah penyelamat.

Pertama: Self Awareness. Sadari Isi Batin Kita
Jangan tunggu sampai kita meledak karena akumulasi emosi yang tak pernah diakui. Kita perlu belajar mengenali tekanan sebelum ia berubah menjadi kemarahan. Sadari kapan tubuh kita menegang, kapan suara kita naik, kapan hati kita mulai kesal. Sadar diri bukan kelemahan. Justru itu kekuatan pertama untuk menjadi pemimpin sejati. Karena hanya mereka yang sadar dengan dirinya, yang bisa mengatur langkah dengan jernih.

Kedua: Self Management Mengelola Diri Sebelum Mengelola Orang Lain
Apalah arti awareness kalau kita tak mampu mengelolanya? Di sinilah self-management hadir. Mengelola emosi bukan berarti menekan. Tapi menyalurkannya secara sehat. Menjaga vibrasi harian agar tetap positif meski tantangan datang silih berganti. Jangan sampai kita terpancing emosi dari satu pihak, lalu menularkannya ke tim kita. Jangan biarkan satu masalah meracuni seluruh hari kita. Bangun pagi bukan hanya untuk mengecek email, tapi untuk mengecek emosi kita: “Apa yang saya bawa hari ini ke meja kerja?”

Ketiga: Social Awareness Belajarlah Mendengar Lebih Dalam
Di dunia operations support, kita berhadapan dengan banyak pihak. User, para sales, para agent, cabang, yang tak sabar, atau bisa juga urusan dengan vendor yang punya ritme sendiri, bisa pula advisor atau management yang menuntut presisi, dan tim internal yang punya dinamika tersendiri. Dalam kondisi seperti ini, empati adalah mata ketiga. Ia membuat kita memahami perspektif orang lain sebelum bereaksi. Ia menghindarkan kita dari reaksi defensif dan membuka ruang untuk kolaborasi.

Keempat: Relationship Management Seni Menyesuaikan Diri
Akhirnya, semua akan bermuara pada relasi. Kita bukan mesin. Kita adalah manusia yang hidup dalam jaringan interaksi. Maka kemampuan untuk menjaga, merawat, dan membangun relasi yang sehat akan jadi pembeda antara leader biasa dan leader yang dihormati. Fleksibilitas bukan berarti lemah. Justru itulah kekuatan. Karena pemimpin yang mampu menyesuaikan diri dengan berbagai tipe manusia, akan lebih mudah dipercaya, diajak bicara, dan dijadikan mitra kerja.

Jika Anda adalah bagian dari team member ataupun leader di dunia operations, mungkin Anda tak selalu mendapatkan spotlight. Tapi Anda adalah fondasi yang membuat panggung itu berdiri. Maka jagalah diri Anda. Bangun EQ Anda. Jadikan itu perisai Anda menghadapi tekanan, dan jembatan Anda membangun pengaruh.

Problemnya, biasanya banyak team member atau leader di bagian operation yang sangat canggih secara teknis, dan logika. IQ-nya jalan. Tapi kadang saat berurusan dengan pihak lain, EQ-nya bermasalah.

Makanya, dalam training EQ yang kami berikan, saya tekankan. Tak ada artinya training EQ, seminar, atau modul leadership yang mereka ikuti, jika tidak dilatih dalam realitas kerja sehari-hari. Justru di sinilah panggung nyatanya. Di tengah vendor yang sulit dihubungi, user, bagian bisnis, sales yang tidak sabar, laporan yang mendesak, dan manajemen yang menuntut, di situlah kemampuan soft skills, termasuk skills EQ dibutuhkan.

Karena itulah di operasion pun kita tidak hanya perlu sebatas cerdas, tapi juga perlu matang emosionalnya. Karena dari sanalah ketenangan kerja, kekuatan tim, dan keberhasilan jangka panjang akan dibangun.

Related Blog

Ingin Tidak Gampang Stress? Kembangkan Kecerdasan Emosional Yang Baik

Tito adalah pimpinan yang sangat cerdas dan tahu mengenal seluk beluk pekerjaannya. Ia memulai karirnya dari bawah. Makanya, kalau menyangkut tugas, anak buahnya tidak berani macam-macam. Hanya saj...

BACK TO WORK AGAIN! BAGAIMANA KEMBALIKAN SPIRIT KERJA SETELAH LIBUR PANJANG?

Liburan resmi baru saja selesai. Kali ini, liburannya memang agak panjang. Ada liburan lebaran plus liburan sekolah. Belum lagi ditambah dengan cuti bersama yang ditetapkan pemerintah. Dan saat ini...

“Help, Aku Nggak Pernah Cuti!”: Cuti Panjang dan Pengaruhnya Bagi Produktivitas Kerja Anda
Tips & Motivasi| 4026 times

“Help, Aku Nggak Pernah Cuti!”: Cuti Panjang dan Pengaruhnya Bagi Produktivitas Kerja Anda

Saya pernah bertemu dengan seorang top management di suatu perusahaan ritel. Dengan bangga ia berkata, “Selama nyaris lima belas tahun kerja disini, saya tidak pernah cuti panjang sama sekali!”. Na...

Mengapa Banyak Ikut Training, Tapi Tidak Banyak Berubah?

Masalah klise. Ikut Training tapi tidak banyak berubah, bagaimana menjelaskannya? Suatu ketika, saat melakukan TNA (Training Need Analysis) di suatu perusahaan, seorang supervisor jujur berkisah te...

No Image
Service| 4053 times

Melayani Pelanggan dengan Beres

Apakah yang dibutuhkan pelanggan saat mereka marah dan jengkel? Anda mungkin setuju dengan saya bahwa yang jelas ada dua hal yang dibutuhkan, yakni pertama, didengarkan dan kedua, diberikan solusi....

10 Pelajaran Cerdas Emosi Dari Film “Inside Out”
Tips & Motivasi| 8434 times

10 Pelajaran Cerdas Emosi Dari Film “Inside Out”

Emosi mana yang kendalikan kamu? Berbagai emosi SENANG, TAKUT, SEDIH, MARAH, JIJIK silih akan berganti mempengaruhi hidupmu. Tidak ada emosi yang lebih baik. Semua emosi itu penting. Tiap emosi pun...

Pemerintah Baru: Amanahkah?
Leadership| 1166 times

Pemerintah Baru: Amanahkah?

Hari ini adalah awal dari sebuah babak baru. Pemerintahan lama telah berganti, dan yang baru datang membawa angin harapan. Presiden Prabowo, yang baru saja terpilih, memimpin Indonesia di bawah Kab...

Karyawan Berprestasi: Sumber Iri atau Inspirasi?

Johan (25) adalah karyawan sukses di sebuah perusahaan multinasional di negeri ini. Perjalanan karirnya tergolong cepat. Di usia mudanya itu, ia telah jadi manager. Nyaris tiap tahun ia dipromosika...