HR Excellency

EQ for Service: Melayani dengan Hati!

No Image
Sep 2, 16|Service| 5432 times

(Bacaan Khusus untuk Para Peserta Seminar EQ for Nation, Semarang, 11 Juni 2011)

EQ for Service: Melayani dengan Hati!

Ada sebuah iklan yang begitu menyentuh saya. Dikisahkan, ada seorang nenek mantan pemain piano yang terkenal. Namun, sejak kena stroke, hobinya main piano tidak bisa lagi dilanjutkan. Badannya menjadi mati sebelah. Ia pun tak lagi bisa melakukan apa yang disukainya. Terkadang, si nenek itu hanya duduk di depan piano, menangis sesungukan. Akhirnya, si perawat muda yang selama ini merawat si nenak itu, menjadi begitu tersentuh. Diam-diam, demi menolong nenek yang dirawatnya ini, ia pun mulai ambil les piano di tengah-tengah waktunya yang lowong. Setelah beberapa tahun belajar akhirnya, si pembantu itupun menguasai pianonya. Dan tatkala hari specialnya tiba, si pembantu ini duduk di samping si nenek, lalu mulailah membunyikan tuts piano di depannya. Si nenek itu pun terkejut, lalu tak lama kemudian, nenek itupun turut membunyikan tut piano itu dengan salah satu tangannya. Jadi, tampaklah suatu pemandangan yang menakjubkan. Si nenek dan perawatnya ini bermain piano bersama-sama. Satu dengan tangan kanan dan satu dengan tangan kirinya. Sungguh pemandangan yang mengharukan!

Pembaca dan peserta Seminar "EQ for Nation" di Semarang, itulah sekelumit kisah yang akan mengawali pembahasan saya soal apa artinya melayani dari hati. Dan kalau kita perhatikan kisah di atas, sebenarnya ada banyak alasan bahwa si perawat itu tidak perlu melakukan hal ekstra itu. Si perawat bisa saja beralasan, "Kan bukan tugasku?" "Kan selama ini aku sudah membantu nenek tua itu dengan makan, memandikan dan merawatnya tiap hari?" "Sudah nasib nenek itu menjadi seperti itu, tidak ada yang bisa dilakukan lagi". Berbagai alasan, bisa saja muncul dari pikiran si perawat. Namun, berbagai pikiran ini dikesampingkan dan ia pun rela mengambil kursus demi membahagiakan nenek yang dirawatnya. Itulah bentuk pelayanan yang luar biasa, suatu pelayanan dari hati, yang saat ini makin langka.

Makin Jarangnya Pelayanan dengan Kecerdasan Emosional
Setiap harinya, pada dasarnya kita saling melayani ataupun dilayani. Kita menerima pelayanan dari setiap orang yang ada disekeliling kita. Tetapi, kita pun sebenarnya memberikan pelayanan kepada orang-orang di dekat kita, minimal ya kepada keluarga kita sendiri. Namun, tatkala suatu pelayanan tidak beasal dari kedalaman hati, berubahlah ia menjadi sebuah rutinitas dan keharusan. Bahkan, di level pelayanan di tempat kerja maupun masyarakat, pelayanan hanya berganti baju bukan saja sebagai kerutinan tetapi juga biasanya dibarengi harapan mendapatkan imbalan. Perhatikan kisah-kisah di bawah ini.

Di sebuah sekolah, seorang guru yang jadi pembina OSIS ketahuan menilep uang OSIS dari siswa-siswanya. Dan tatkala, ia ditanyai dalam sidang guru, jawabnya sederhana, "Bukankah sebagai seorang guru yang melayani dan membantu siswa melalui OSIS, seharusnya saya mendapatkan suatu imbalan. Apa penghargaan atas apa yang saya lakukan selama ini?" Begitu pula, kasus yang terjadi di tengah jalan tol. Saat itu, ada seorang Ibu mobilnya mogok sehingga perlu diderek. Padahal, janji yang diberikan oleh perusahaan yang memberikan service derek itu adalah jasanya dilakukan secara gratis. Namun, tatkala mobil si ibu itu berhasil dibawa sampai ke bengkel, maka petugas yang mendereknyapun berulah. Ongkos secukupnya yang diberikan oleh si ibu itu ditolak mereka. Mereka mengharapkan lebih. Dan ketika si ibu itu menanyakan bukannya servis derek seharusnya gratis, jawaban petugas derek itu sederhana, "Ibu, sekarang untuk kencing aja perlu bayar. Masak diderek mobilnya nggak mau bayar?"

Menumbuhkan Kembali Pelayanan Berbasis Kecerdasan Emosional
Secara umum, pelayanan dengan kecerdasan emosional berarti pelayanan dengan hati. Suatu pelayanan yang dilakukan dengan "tulus", bukannya "fulus". Bukan karena embel-embel ataupun karena ada 'harapan' di belakangnya. Namun, justru karena pelayanan ini dilakukan demgan hati, justru mereka yang melakukannya sering mendapatkan balasan yang luar biasa. Saya sendiri mengenal seorang tuna netra yang memberikan dirinya untuk membantu agar semua orang buta agar bisa membaca dan mengakses informasi. Hal ini dilakukannya dengan cuma-cuma, tanpa mengharapkan balasan. Ia mencoba menolong orang yang senasib dengannya dengan mengajarkan pada mereka kesempatan membaca hingga mengakses internet. Namun, karyanya menjadi monumental bahkan dihargai hingga ke luar negeri. Hingga akhirnya, yayasan yang dibangunnya yakni Mitranetra, menjadi salah satu yayasan yang paling memberdayakan orang buta saat ini. Berbagai bantuan, sumbangan serta uluran tangan diperoleh yayasan ini. Padahal, awal gerakan ini bukanlah demi uang tetapi untuk menolong, namun oleh karena dilakukan dengan hati yang tulus, maka berkat yang melimpah ruah akhirnya pun kembali kepada mereka yang melakukannya.

Nah, pada kesempatan ini, mari kita bicarakan bagaimanakah sifat-sifat pelayanan yang berasal dari hati ini?

Ada Alasan yang Lebih Mendasar
Pertama-tama, ciri awal dari pelayanan yang berasal dari hati adalah sifatnya yang lebih dari sekedar mendapatkan keuntungan jangka panjang. Bahkan, kalau dipikir-pikir, seandainya hanya untuk sekedar mendapatkan uang, para pelayan ini tidak perlu bekerja di bidang yang digelutinya saat ini. Namun, karena adanya suatu misi yang mendalam, maka hal itu mereka kerjakan. Misalkan saja, ada seorang insinyur pertanian dari Yogya yang akhirnya hidup bersama dengan para petani di Kaliurang. Sehari-hari, ia mengajari mereka becocok tanam dan bertani lebih baik. Padahal, dengan latar belakangnya ia bisa bekerja dengan gaji yang lebih besar, namun hal ini ditolaknya. Jawabannya sederhana, "Kepuasan yang saya peroleh dari membina para petani jauh lebih berharga dari uang yang saya peroleh dari gaji saya".

Fokus Mengembangkan Yang Dilayani
Ciri kedua ini terkait dengan fokus dari pelayanan ataupun kerja yang dilakukan. Beda pelayanan yang dilakukan umumnya dengan pelayanan yang dilakukan dari hati, terletak pada fokusnya untuk mengembangkan orang yang mereka layani. Bandingkanah seorang guru yang hanya sekedar mengajarakan matematika, dengan seorang guru yang sungguh-sungguh ingin anaknya bisa dan senang matematika. Akibatnya, bahkan ketika ia mengajarkan, berbagai peralatan dan perlengkapanpun disiapkan. Bahkan, demi membantu siswanya agar pintar matematika, si guru pun masih rela meluangkan waktu di luar jam sekolah untuk membantu mereka. Termasuk rumahnyapun kerap didatangi oleh siswa yang minta bantuan kepadanya untuk ditolong dengan keulitan belajar. Itulah contoh pelayanan dengan hati yang luar biasa. Hal inipun segera mengingatkan saya kepada kisah Patch Adam yang dibintangi oleh Robbins Williams. Bahkan, di dalam kisah tersebut diceritakan bagaimana Patch Adam melakukan praktek dokter yang lebih manusiawi. Ia berkomunikasi dan berusaha menyembuhkan pasiennya, bukan hanya secara fisik tapi juga psikis. Tetapi, risikonya adalah ia pun dibenci oleh rekan sejawatnya. Namun, bergagai tantangan inipun ia berani lewati demi keinginannya membantu dan mengembangkan orang yang dilayaninya.

Tiada Harapkan Imbalan, Tapi Justru BerlipatGanda Balasannya
Itulah yang terjadi misalnya saat seorang kapten sebuah maskapai penerbangan dunia terkemuka, Budi Soehardi membangun sebuah rumah yatim piatu bagi anak-anak di Kupang. Satu-satunya hal yang ingin dilakukan adalah membantu anak-anak yang tidak punya orang tua ataupun yang orang tuanya tak sanggup lagi menghidupi agar anak-anak itu dapat hidup secara layak. Iapun melakukan ini dari hatinya, tanpa mengharapkan suatu balasan apapun. Hatinya hanya tergerak. Dengan koceknya sendiri dan didukung keluarganya, Kapten Budi pun melakukan tugasnya. Namun, tugas mulianya tercium oleh wartawan dan ia pun diekspos, bukan saja oleh lokal tapi nasional. Akhirnya, di tahun 2009 pun ia mendapatkan penghargaan CNN Heroes. sebuah penghargaan di dunia yang amat bergengsi. Padahal, dalam setiap wawancaranya, Kapten Budi mengatakan, ia sama sekali punya niat untuk jadi populer ataupun dikenal karena jasanya. Tetapi, justru karena tidak mengharapkan imbalan, itulah yang membuatnya layak dihargai dan iapun mendapatkan banyak penghargaan, termasuk penghargaan dari dunia.

Begitulah pembaca, ditengah bertambahnya peradaban manusia, kita semakin haus akan pelayanan yang sungguh-sungguh berasal dari hati. Sebenarnya, yang namanya pelayanan dari hati tidak harus dengan ongkos yang mahal, juga bisa dimulai dimanapun dan dengan siapapun yang kita berinteraksi. Intinya, inilah pelayanan yang makin langka tetapi juga makin dicari. Tetapi sayangnya, saat ini kita bertemu dengan banyak orang yang melayani dengan harapan imbalan, namun di sisi lain kita juga tahu banyak dari mereka yang melayani dengan hati yang tidak pernah dikenal dan dikenang. Justru mereka itulah yang sebenarnya pasti diteladani dan dicntai. Hal ini jadi mengingatkan saya dengan kalimat yang pernah diucapkan Ibu Teresa Dari Calcuta, penerima hadiah nobel perdamaian, "Orang yang selalu memberikan cintanya tanpa mengharapkan balasan, mereka adalah orang yang pantas dicintai. Dan pada akhirnya, mereka itupun akan dicintai!"

EQ for Nation and EQ for Service
Program EQ for Service yang dilakukan di Semarang adalah bagian dari prokgram EQ for Nation. Inilah suatu program bagi bangsa yang berusaha memperkenalkan Kecerdasan Emosional kepada para pihak yang jarang mendapatkan kesempatan untuk belajar soal Kecerdasan Emosional. Khusus di Semarang dan Jawa Tengah, fokusnya adalah untuk para guru, para pendidik sekolah anak-anak catat, para perawat rumah jompo, mpara pelayan masyarajat (listrik, telpon) yang sering terlupakan jasa-jasanya. Kita berharap, adanya program pembelajaran semacam ini akan memacu lebih banyak lagi perusahaan dan organisasi untukterlibat dalam mengembangkan mereka dan memberikan penghargaan atas keja kerasa dan usaha yang telah mereka lakukan dari ketulusan hati mereka! Di sisi lain, bagi para penggiat sosial, akan lebih tergerak untuk melakukan pekerjaan mereka dari hati, bukan cuma sekedar rutinitas dan keharusan! Terima kasih dan acungan jempol kita berikan bagi mereka yang melayani tanpa pamrih ini!

(Anthony Dio Martin, Managing Director HR Excellency, Best EQ Trainer Indonesia, Host Program Radio SmartEmotion di SmartFM, ahli Psikologi, penulis buku-buku best seller)

Related Blog

Kuasai Teknik S.P.E.A.K untuk Presentasi yang Lebih Memukau

Dalam dunia kerja yang semakin kompetitif, kemampuan menyampaikan ide bukan lagi sekadar keterampilan tambahan. Ini adalah kompetensi inti. Kami sering melihat bahwa banyak profesional sebenarnya m...

Apa Itu Coaching? Pengertian, Sejarah dan Prinsip Utama Coaching Yang Perlu Dipahami!
Training Presentasi| 11673 times

Apa Itu Coaching? Pengertian, Sejarah dan Prinsip Utama Coaching Yang Perlu Dipahami!

Mari kita awali dengan sedikit kisah soal coaching. Pagi-pagi, sebelum jam kantor, Roni sudah tiba. Ia memutuskan untuk menuju ke pantry buat bikin kopi arabica kesukaannya. Waktu berjalan ke sana,...

No Image
Service| 4053 times

Melayani Pelanggan dengan Beres

Apakah yang dibutuhkan pelanggan saat mereka marah dan jengkel? Anda mungkin setuju dengan saya bahwa yang jelas ada dua hal yang dibutuhkan, yakni pertama, didengarkan dan kedua, diberikan solusi....

Menciptakan Lingkungan Kerja yang Nyaman

Memiliki karyawan sendiri tetap harus dapat bekerja sama dengan orang-orang di lingkungan kerja. Perusahaan akan menjadi seperti mesin yang diberikan pelumas jika kita menciptakan hubungan positif ...

EQ for Operations Support: Pentingnya EQ Bagi Yang di Belakang Layar

Bayangkan situasi begini. Pagi-pagi, Anda baru saja duduk, membuka laptop, belum sempat menyesap kopi pertama, notifikasi sudah berdentang. Vendor minta klarifikasi, user kirim email panjang soal l...

Amazing! Sebuah Model Kepemimpinan ala Pesawat Terbang dari HR Excellency Untuk Mencetak Pemimpin Handal

Ada fakta yang cukup menarik. Banyak CEO dari dunia penerbangan yang sangat inspiratif. Pertama, ada Herb Kelleher dari Southwest Airlines, yang belum lama ini meninggal. Ada Sir Richard Branson, p...

Secrets of More Productive & More Result: How? (Rahasia Menghasilkan Lebih Banyak)
Tips & Motivasi| 2452 times

Secrets of More Productive & More Result: How? (Rahasia Menghasilkan Lebih Banyak)

“Gimana sih menjadi lebih produktif?”. Itulah yang menjadi pertanyaan penting sepanjang tahun. Tempat kerja selalu membutuhkan kita untuk cepat berproduksi dan menghasilkan, belum ditambah dengan t...

15 Tahun Training Kecerdasan Emosional (EQ) Terbaik di Indonesia: Apa Rahasianya?

15 tahun program kecerdasan emosional (EQ) dilaksanakan di Indonesia. Sebagai salah satu pelopor utama training EQ di Indonesia, bukanlah perkara mudah. EQ sendiri banyak disalahtafsirkan. Salah sa...