HR Excellency

Kenali 4 Tipe Karyawan atau pun Pengikut di Kantor!

Kenali 4 Tipe Karyawan atau pun Pengikut di Kantor!
Agu 31, 16|Leadership| 4995 times

Sebelum bicara soal empat tipe pengikut yang umumnya kita temui di suatu organisasi, saya punya tiga fakta penting yang ingin saya ungkapkan. Pertama, 90% kesuksesan sebuah inisiatif dalam organisasi tergantung pada pengikut yang menjalankan. Kedua, kepemimpinan yang baik tidak mungkin terjadi tanpa anak buah yang baik! (ya iya dong, bagaimana kita bisa bilang orang itu pemimpin yang bagus, kalau anak buahnya pada nggak mau nurut?). Lantas, ketiga dan yang terpenting, sebuah organisasi yang efektif adalah perpaduan antara LEADERSHIP plus FOLLOWERSHIP. Kepemimpinan dan kepengikutan.

Nah masalahnya, selama ini kita terlalu terpaku pada persoalan pentingnya pemimpin. Tapi, perhatian yang sama juga perlu kita berikan pada sisi pengikutnya. Percuma sebenarnya punya pemimpin yang bagus, tetapi anak buahnya berantakan. Dan dari pengalaman saya melakukan workshop maupun training mengenai kepemimpinan, yang seharusnya “Cuma” mengajarkan bagaimana jadi pemimpin yang baik, biasanya saya pun menyelipkan soal pengikut ini. Masalahnya, saya percaya, pada dasarnya setiap hari kita selain jadi pemimpin (paling nggak pemimpin buat diri sendiri) kitapun jadi pengikut. Makanya saya setuju dengan kalimatnya Jim Collins, sang penulis buku “From Good To Great” yang berkata, “Everybody got a boss. The vice president reports to the president and the president reports to the CEO. The CEO reports to the chairman of the board and the chairman reports to his wife. All God’s children got a boss. If you want to be a great leader you must also be a great follower.” (Semua orang punya boss. Wakil presiden lapor sama presiden dan presiden lapor sama CEO. Dan CEO lapor sama pemilik dan pemilik lapor sama istrinya. Semua anak Tuhan punya boss. Kalau mau jadi pemimpin yang baik, kamupun harus jadi pengikut yang baik”.

Dan dari tipenya si pengikut ini, kita bisa membaginya menjadi empat tipe. Yakni dilihat dari kemampuan berpikir kritis sertra kontribusinya. Lantas, apa saja pembagiannya?

Pertama, tipe ini tidak berpikir dan juga tidak berkontribusi. Inilah yang kitasebut sebagai tipe kambing. Eh, kambing sendiripun masih bisa berguna untuk diambil dagingnya. Apa cirri tipe kambing ini? Mereka ini tidak pernah berpikir, hanya disuruh-suruh melakukan apapun. Tidak pernah berpikir kreatif dan juga tidak pernah berkontribusi apapun. Maunya cuma mendapatkan keuntungan, tetapi tidak mau berkorban. Mereka banyak menuntut, tetapi kontribusi minimal. Itulah tipe ini. Misalkan, ada seorang pengantar barang yang sangat malas, kadan-kadang ia sengaja mengambil rute yang panjang, hanya supaya tidak akan dikasih pekerjaan tambahan. Setelah mengatar satu dua barang, kerjanya nongkrong di warung. Dan tatkala ketahuan perilakunya, akhirnya dan pun dipecat!

Tipe kedua, kita sebut sebagai tipe alien. Tipe ini adalah tipe pengikut yang cerdas. Otak mereka jalan. Mereka kritis dan mungkin mengkritisi banyak hal. Tetapi sayagnya mereka tidak berkontribusi. Mirip seperti alien, mereka mahkluk yang cerdas, namun tidak pernah kelihatan kerjaan dan hasilnya. Sebagai contoh, di sebuah organisasi LSM pernah merekrut seorang lulusan luar negeri bertitel PhD untuk mengurusi suatu unit bantuan langsung. Si anak yang cerdas ini, malas ke lapangan. Tapi kalau bicara dia paling jago. Bahkan cenderung banyak mengkritik sana sini. Tapi, tatkala disuruh ke lapangan dan melakukan kegiatan terjun langsung, ada saja alasannya untuk menolaknya.

Tipe ketiga, kita sebut sebagai tipe yes-man. Mereka ini jarang berpikir, jarang mau berinovasi apalagi berpikir kreatif. Tapi, mereka biasanya terus berkontribusi melalui pekerjaan rutinnya.  Misalkan saya masih ingat kisah yang pernah diceritakan oleh seorang Presiden Direktur tentang pembantunya. Ini adalah pembantunya yang selama bertahun-tahun menemani anaknya les bahasa Inggris. Namun, tatkala ia mencoba tes kemampuan bahasa Inggris si pembantunya, ia merasa heran, karena si pembantu ternyata tidak bisa bahasa Inggris sama sekali. Maka dengan heran iapun bertanya kepadanya, “Kok sambil kamu bawa anakku les, bukannya kamu juga belajar bahasa Inggris?” Namun, apa jawabn si pembantu ini, “Kan tugasku hanya membawanya ke tempat les dan menjaganya, bukannya mau les bahasa Inggris!”

Akhirnya, kita mengenal pengikut kategori star (bintang) yang mau berpikir juga mau berkontribusi. Nah, tipe yang terakhir ini memang agak langka di organisasi. Sebagai contoh, saya teringat dengan seorang karyawan di suatu perusahaan yang kondisinya parah. Banyak karyawan yang kerjanya asal-asalan. Orang pun bekerja seperti zombie, tanpa merasakan kedekatan emosi. Nah, sebagai anak yang baru, daripada mengeluh iapun berinisitaif. Ia memulainya dengan membuat tim olah raga. Lalu, ada tim hobi lainnya. Iapun mengusulkan berbagai proyek, memimpinn dan melakukannya, dan ternyata sukses. Inisiatifnya berdampak positif, sampai akhirnya ia pun dihargai oleh manajemen dan diberikan posisi lebih baik karena selain kontribusi kerjanya bagus, ia pun membantu menciptakan lingkungan kerja yang sangat kondusif.

Akhirnya, apapun tipe pengikut itu, saya percaya, hal itu bukanlah bawaan lahir. Semuanya tergantung pada niat, kebiasaan serta apakah ia melihat tujuan dibalik pekerjaan itu. Jadi, kalau mau berubah ya ketiganya harus mulai disentuh. Pertama, tanyakan kembali apa niatnya. Kedua, ubah kebiasaan yang salah selama ini dan akhinya, mengali lebih jauh apakah tujuan dari pekerjaan itu yang sebenarnya. Tugas pemimpin sendiri adalah mengubah ketiga elemen ini pada pengikutnya. Tapi eits…sebelum ia mengubah orang lain, ia harus mengubah dirinya dulu menjadi pengikut yang baik!

(Anthony Dio Martin, Managing Director HR Excellency, Best EQ Trainer Indonesia, Host Program Radio SmartEmotion di SmartFM, Telp: 021-3518505 atau 021-3862521 atau Email: info@hrexcellency.com. Website:  www.hrexcellency.com

 

Related Blog

LEGO®️ SERIOUS PLAY®️: Seni Bermain yang Membangun Strategi dan Budaya Perusahaan
Tips & Motivasi| 1289 times

LEGO®️ SERIOUS PLAY®️: Seni Bermain yang Membangun Strategi dan Budaya Perusahaan

Di tengah dunia bisnis yang penuh tantangan dan tekanan, muncul sebuah metode pelatihan yang tampak sederhana namun menyimpan kekuatan luar biasa. Bukan lewat slide yang panjang, bukan lewat teori ...

Micromanaging at Work: Perlu ataukah Mengganggu?
Manajemen HRD| 3903 times

Micromanaging at Work: Perlu ataukah Mengganggu?

Ada berbagai tipe pimpinan. Dari yang nggak peduli sama sekali dengan timnya. Sampai ada yang justru sebaliknya, dia hobinya micromanaging. Apa itu? Ini tipe pimpian yang melakukan pengaturan sampa...

Connect with Your Audience!

Les Brown, salah satu trainer terkemuka, pernah mengatakan, “Ada perbedaan antara mengesankan (impressing) audiens dengan “connecting” dengan audiens. Sekali Anda sudah bisa “connect”, Anda bisa me...

Emotional Dashboard: Menjaga Emosi Tetap Terkendali di Tempat Kerja

Bayangkan Anda sedang mengemudi mobil di jalan tol. Anda menekan pedal gas, kecepatan bertambah, dan mata Anda sesekali melirik ke dashboard kendaraan. Indikator bahan bakar, suhu mesin, hingga spe...

Training Kecerdasan Emosional: Membangun Emosi Positif untuk Sukses

Kecerdasan emosional (EQ) adalah kemampuan untuk mengenali, memahami, mengelola, dan mengarahkan emosi sendiri dan orang lain. EQ sangat penting untuk mencapai kesuksesan dalam berbagai bidang kehi...

7 Langkah Pasti Menciptakan Sistem SDM Berbasis EQ Oleh: Anthony Dio Martin
Tips & Motivasi| 2792 times

7 Langkah Pasti Menciptakan Sistem SDM Berbasis EQ Oleh: Anthony Dio Martin

Seringkali, kami di HR Excellency, sebagai lembaga yang turut concern  dengan pelatihan dan training Kecerdasan Emosi (EQ) ditanya, “Bisakah Kecerdasan Emosi, Kecerdasan Emosional atau EQ dibuat me...

“Help, Aku Nggak Pernah Cuti!”: Cuti Panjang dan Pengaruhnya Bagi Produktivitas Kerja Anda
Tips & Motivasi| 4026 times

“Help, Aku Nggak Pernah Cuti!”: Cuti Panjang dan Pengaruhnya Bagi Produktivitas Kerja Anda

Saya pernah bertemu dengan seorang top management di suatu perusahaan ritel. Dengan bangga ia berkata, “Selama nyaris lima belas tahun kerja disini, saya tidak pernah cuti panjang sama sekali!”. Na...

Ketika Pelatihan Tidak Lagi Bisa Berjalan Seperti Dulu

Setiap tahun, dunia kerja selalu berubah. Namun dalam beberapa tahun terakhir, perubahan terasa jauh lebih cepat, lebih dalam, dan lebih tidak terduga. Teknologi berkembang pesat, tekanan bisnis me...