- info@hrexcellency.com
- Jl. Tanah Abang V, no. 32, Jakarta Pusat 10160
Bayangkan Anda sedang berdiri tepat di bawah sebuah pohon besar. Dari posisi itu, Anda bisa melihat rumput, akar, batang pohon, bahkan mungkin semut yang berjalan di tanah. Semuanya terlihat sangat detail. Tapi ada satu masalah: Anda nggak bisa melihat hutannya.
Kondisi seperti ini ternyata juga sering terjadi dalam dunia kerja.
Banyak leader bertumbuh dari bawah. Awalnya mereka menjadi staf yang sangat menguasai pekerjaannya. Lalu dipercaya menjadi supervisor, manager, bahkan akhirnya memimpin sebuah unit bisnis. Pengalaman mereka semakin banyak, tanggung jawab semakin besar, tetapi belum tentu cara pandangnya ikut melebar.
Mereka hebat melihat “pohonnya”, tetapi belum tentu mampu melihat “hutannya”.
Padahal semakin tinggi posisi seseorang, semakin penting kemampuannya melihat big picture. Ia nggak lagi cukup hanya memahami pekerjaannya sendiri. Ia perlu memahami bagaimana keputusan marketing memengaruhi operasional, bagaimana penggunaan resource memengaruhi hasil, bagaimana kualitas orang memengaruhi strategi, dan bagaimana sebuah keputusan hari ini bisa menciptakan konsekuensi beberapa langkah ke depan.
Inilah yang kita kenal sebagai business acumen atau kecerdasan dalam memahami bagaimana sebuah bisnis bekerja.
Dari Functional Expert Menjadi Business Leader
Salah satu tantangan terbesar ketika seseorang naik menjadi leader adalah mengubah cara berpikirnya.
Dulu pertanyaannya mungkin sederhana:
“Bagaimana pekerjaan saya bisa selesai dengan baik?”
Sekarang pertanyaannya berubah menjadi:
“Bagaimana seluruh resource yang saya miliki bisa menghasilkan outcome terbaik bagi bisnis?”
Nah, ini dua dunia yang berbeda.
Seorang leader harus belajar membaca medan. Kapan harus maju? Kapan menahan resource? Siapa yang harus ditempatkan di posisi tertentu? Kapan perlu berkolaborasi? Kapan harus berkompetisi? Dan kalau kondisi berubah, apakah strategi lama masih relevan?
Masalahnya, kemampuan seperti ini nggak selalu efektif kalau hanya diajarkan lewat slide dan ceramah.
Orang bisa memahami konsep strategi secara teori. Tetapi ketika harus mengambil keputusan di tengah keterbatasan resource, tekanan kompetisi, konflik kepentingan, dan ketidakpastian, ceritanya bisa berbeda.
Karena itulah dibutuhkan sebuah business simulation.
Lahirnya THE MAP Business Simulation
Sejak 2018, dikembangkanlah THE MAP Business Simulation, yang diprakarsai oleh James Leow dari Malaysia dan didukung oleh sejumlah pemikir serta praktisi pembelajaran di Asia, termasuk HRE dan MWS Indonesia.
Tujuannya sederhana tetapi penting: bagaimana membuat orang belajar business acumen dan business intelligence bukan hanya dengan mendengarkan, tetapi dengan mengalaminya.
THE MAP mengambil setting dunia fantasi ala Middle Earth. Peserta masuk ke sebuah dunia yang penuh tantangan, keterbatasan resource, karakter dengan kemampuan berbeda, kompetisi, kolaborasi, dan pilihan-pilihan strategis.
Kelas pun berubah menjadi arena permainan bisnis.
Peserta biasanya dibagi menjadi empat tim. Mereka akan berhadapan dengan berbagai karakter seperti Knight, Assassin, Wizard, dan Elf. Setiap karakter mempunyai kelebihan, fungsi, dan kontribusinya sendiri.
Di sinilah permainan mulai menjadi menarik.
Karena memiliki karakter yang kuat belum tentu membuat sebuah tim menang. Sama seperti perusahaan.
Punya Orang Hebat Belum Tentu Punya Tim Hebat
Bayangkan sebuah tim punya Wizard yang hebat. Tim lain punya Knight yang kuat. Ada Assassin dengan kemampuan tertentu. Ada pula Elf dengan keunggulannya sendiri.
Pertanyaannya bukan lagi:
“Siapa karakter yang paling hebat?”
Tetapi:
“Bagaimana kita mengoptimalkan karakter yang kita punya?”
Ini sangat dekat dengan realitas seorang leader.
Dalam pekerjaan, kita juga nggak selalu bisa memilih anggota tim yang sempurna. Ada orang yang sangat analitis tetapi kurang komunikatif. Ada yang kreatif tetapi kurang detail. Ada yang cepat bertindak tetapi kurang sabar. Ada pula yang interpersonalnya luar biasa tetapi membutuhkan dukungan dalam pengambilan keputusan.
Tugas seorang leader bukan terus-menerus mengeluh karena nggak mendapatkan “pemain terbaik”.
Tugasnya adalah membuat kombinasi pemain yang tersedia menghasilkan permainan terbaik.
THE MAP membuat prinsip ini terasa nyata.
Strategi, Resource, Kompetisi dan Kolaborasi
Selama simulasi berlangsung, setiap tim mempunyai tujuan yang harus dicapai. Mereka harus membaca situasi, membuat strategi, mengalokasikan resource, menggunakan kekuatan anggota tim, dan menentukan langkah berikutnya.
Kadang-kadang mereka harus bersaing.
Di kesempatan lain, mereka justru perlu berkolaborasi.
Dan menariknya, strategi yang kelihatannya sangat bagus di awal belum tentu tetap bagus ketika situasi berubah.
Bukankah begitu juga bisnis?
Kompetitor bergerak. Customer berubah. Resource terbatas. Orang datang dan pergi. Kondisi pasar berubah. Target tetap harus dicapai.
Di sinilah peserta mulai menyadari bahwa business intelligence bukan sekadar punya banyak informasi. Kecerdasan bisnis adalah kemampuan membaca informasi, melihat hubungan antarfaktor, lalu mengubahnya menjadi keputusan yang tepat.
Itulah mengapa THE MAP juga memasukkan berbagai prinsip strategi, termasuk pembelajaran dari The Art of War karya Sun Tzu.
Peserta diajak memahami bahwa strategi bukan sekadar menyerang. Ada saatnya kita perlu membaca lawan, memahami medan, mengelola kekuatan, memilih momentum, bahkan memutuskan kapan sebaiknya tidak bertempur.
Dalam dunia bisnis, prinsipnya sangat relevan.
Ketika Belajar Terasa Seperti Bermain
Salah satu kekuatan simulation-based learning adalah peserta nggak merasa sedang dijejali teori.
Mereka bermain. Mereka berdiskusi. Mereka tertawa. Mereka berdebat menentukan strategi. Kadang-kadang mereka terlalu percaya diri. Kadang-kadang salah mengambil keputusan. Ada yang berhasil membaca situasi. Ada pula yang baru sadar bahwa strateginya keliru setelah melihat hasilnya.
Dan justru di situlah pembelajaran terjadi.
Dalam pengalaman kami menjalankan THE MAP, puluhan kelompok leader dari berbagai perusahaan dan industri telah mengalami dinamika ini. Salah satunya adalah para leader dari Pfizer Indonesia, yang mendapatkan berbagai insight setelah menjalani simulasi, berdiskusi, mengambil keputusan, dan kemudian merefleksikan apa yang terjadi selama permainan.
Karena setelah permainan selesai, pertanyaan terpentingnya bukan:
“Tim mana yang menang?”
Tetapi:
“Kenapa mereka menang?”
Apa keputusan yang mereka ambil?
Bagaimana mereka membaca situasi?
Bagaimana mereka menggunakan resource?
Bagaimana mereka mengelola orang?
Apa yang dilakukan tim lain sehingga strateginya gagal?
Dan yang paling penting:
“Kalau pola yang sama terjadi di perusahaan kita, apa yang akan kita lakukan secara berbeda?”
Dari Game Menuju Realitas Bisnis
Di HR Excellency, kami percaya bahwa sebuah training yang bagus bukan hanya membuat peserta berkata, “Wah, seru!”
Keseruan memang penting. Engagement penting. Energi kelas juga penting.
Tetapi semuanya harus berujung pada insight dan perubahan cara berpikir.
THE MAP menggunakan permainan sebagai laboratorium kecil untuk melihat bagaimana seseorang berpikir dan bertindak ketika menghadapi target, kompetisi, keterbatasan resource, dinamika manusia, serta perubahan situasi. Karena pada akhirnya, bisnis juga seperti sebuah peta.
Kita mungkin tahu tujuan yang ingin dicapai. Tetapi jalan menuju ke sana nggak selalu lurus. Ada kompetitor. Ada keterbatasan. Ada peluang. Ada risiko. Ada orang-orang dengan kekuatan berbeda yang harus kita kelola.
Dan di situlah seorang leader membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan teknis. Ia membutuhkan business acumen, kecerdasan membaca situasi, kemampuan mengelola resource, memahami manusia, serta keberanian mengambil keputusan strategis.
Sebab ketika seseorang naik semakin tinggi dalam organisasi, ia nggak boleh terus-menerus berdiri di bawah pohon dan hanya melihat rumput.
Ia harus mulai naik lebih tinggi.
Melihat pohonnya.
Melihat hubungan antar-pohon.
Dan akhirnya… mampu melihat seluruh hutannya.
Itulah salah satu esensi yang ingin kami bangun melalui THE MAP Business Simulation.
| Tel. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| Website | : | www.hrexcellency.com |
