HR Excellency

Hati-Hati Anak yang Kekurangan Cinta

No Image
Feb 15, 17|Parenting| 2438 times

Inilah kisah tentang Karna dalam perang Baratayudha. Kalau Anda pernah membacanya. Diceritakan Karna adalah anak Kunti yang lahir dengan cara yang aneh. Karna tidak dilahirkan secara normal tapi lahir dari telinganya Kunti karena Kunti malu, sebab ia belum bersuami. Karnapun harus dilahirkan gara-gara Kunti mencoba mantra yang membuatnya mampu memangil para dewa. Namun, seteah mencoba memanggil Dewa Surya, iapun dikasih seorang anak, meskipun ia tidak memintanya. Maka lahirlah Karna itu. Tapi, karena malunya, Kunti membuang Karna ke sungai. Setelah itu Karna dibesarkan seorang kusir kereta yang menemukannya. Setelah sempat dipermalukan oleh Bima sebagai anak kusir, Karna akhirnya bisa diperalat oleh Duryudana. Ia pun begitu setia serta tetap memihak pada Duryudana, bahkan setelah diberitahu bahwa Pandawa Lima yang akan dilawannya di perang Baratayuda adalah saudaranya. Namun, karena rasa sayangnya pada Duryudana, membuat Karna tetap berperang untuk pihak Kurawa. Dan di akhir cerita, Karna tewas oleh panah pasopatinya Arjuna, yang sebenarnya adalah adik kandungnya sendiri.

Kisah Karna adalah kisah tragis orang yang mencari kasih sayang, cinta dan penghargaan. Kesalahan terjadi tatkala Kunti merasa malu dan membuangnya. Di situlah Karna merasa membutuhkan kasih sayang serta mencari orang tuanya. Kehausan akan kasih sayang itulah yang membuatnya akhirnya buta, meskipun yang menyayanginya adalah orang yang sebenarnya jahat yakni Duryudana. Maka, kisah ini sebenarnya mengajarkan penting kasih sayang dan cinta kepada anak. Meskipun sesulit dan seruwet apaun, seoarng anak harus dibesarkan dengan cinta yang cukup. JIka akhirnya ia tidak mendapatkan cinta yang cukup, akhirnya anak itu akan merampoknya dari dunia. Tak heran banyak anak yang jadi kriminal, memberontak dan melawan. Kadangkala, mereka-mereka adalah wujud dari “Karna” yang sebenarnya sedang berjuang untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Jangan sampai, kasih sayang itu justru diperoleh dari orang yang keliru!

Tidak Selalu Harus Begitu

Sebenarnya, saya termasuk orang positif. Saya tidak termasuk yang percaya bahwa kalau anak itu masih kecilnya kurang cinta dan kasih sayang, maka ketika besarpun ia akan haus mencari cinta dengan cara-cara yang negatif. Kembali, ini adalah soal pilihan.

Kalau dalam kisah Baratayudha ada contoh Karna, maka dalam kehidupan realita ada Dave Pelzer. Ngomong-ngomong  Dave adalah seorang penulis dan pembicara sohor yang sempat korteoversial gara-gara bukunya yang menggambarkan betapa sadisnya ia disiksa oleh ibunya sejak kecil. Isahnya sempat dibukukan dalam buku A Child Called ‘It’. Sejak kecil ia disiksa bahkan pernah ditikam oleh orang tuanya. Akhirnya, setelah ditolong oleh seorang gurunya, Davepun dibesarkan di rumah yatim piatu sejak usia 12 tahun.

Nah, kalau kita mengikuti hukum di atas, maka Dave pun berpeluang besar untuk menjadi seorang yang jahat dan criminal, tetapi adalah proses dalam dirinya yang melawan kecenderunagn itu. Akhirnya, Dave justru memilih untuk menceritakan kisahnya serta menjadi motivator. Sebuah pilihan yang berbeda?

So, pertanyaannya mengapa Dave tidak tumbuh menjadi seperti Karna dalam Baratayudha? Mengapa ada pengecualian?

Jawabannya, karena kita adalah manusia yang punya akal budi dan diciptakan untuk punya pilihan. Disinilah kita kembali bergelut dengan pemikiran konsep psikologi jaman dahulu dan sekarang. Dahulu, para ahli psikologi cenderung beraliran deterministic. Artinya, kalau manusia itu latar belakangnya A, maka ketika besarpun ia akan jadi A. Jadi, kalau masa lalunya buruk maka sudah dipastikan ia akan buruk. Tetapi belakangan muncullkan psikologi humanistic yang lebih menekankan bahwa manusia itu mahkluk yang punya pilihan. Setiap orang bisa memutuskan jalan hidupnya sendiri-sendiri. Dan teori belakangan inilah yang benayak berkembang.

Namun, kembali lagi kepada kisah soal Karna, bukan berarti bahwa masa lalu tidak akan ada pengaruhnya juga. Memang tidak selalu bahwa anak yang dibesarkan dengan kondisi kekuarangan cinta dan kasih sayang, akan tumbuh menjadi anak yang bengal. Sebagaimana, tidak selalu pula anak yang cukup kasih sayang, tidak mungkin menjadi anak yang bermasalah. Tetapi, kembali lagi tulisan ini mengingatkan bahwa pengaruh masa kecil tetaplah penting. Orang-orang yang akhirnya menjadi beban dan penyakit bagi dunia, terbukti banyak mengalami kepahitan pada masa kecilnya.  Hal ini telah terbukti, dai sekitar 37 kriminal pembunuh yang akhirnya dihukum meati, ternyata rata-rata punya masa lalu yang amat menyakitkan. Itulah yang ditulis Journal Violence and Victims, yang memuat hasil penelitiannya Dorothy Van Soest, dekan dari School of Social Work di University of Washington. Intinya, meskipun anak kita ketika kesara akan punya pilihan untuk menentukan masa depannya, tetapi perlakuan yang diterimanya di masa kecilnya, akan mementukan kualitas karaktenya. Karena itulah mari kita tutup dengan kalimat ini, “Seorang anak yang dibesarkan dengan cinta yang cukup, kelak ketika besar ia pun akan bisa cukup untuk memberikan cintanya untuk dunia”.

Related Blog

EQ FOR SERVICE:  ANTARA PELAYANAN TULUS ATAU FULUS ?
Tips & Motivasi| 3184 times

EQ FOR SERVICE: ANTARA PELAYANAN TULUS ATAU FULUS ?

Alkisah, ada seorang nenek mantan pemain piano terkenal. Namun, sejak kena stroke, hobinya main piano tidak bisa lagi dilanjutkan. Badannya menjadi mati sebelah. Ia pun tak lagi bisa melakukan apa ...

GROGI MENGHADAPI INTERVIEW KERJA? INI TIPSNYA!

Baru-baru ini, saya menyaksikan sebuah penelitian dilakukan oleh tim dari BBC. Apa yang dilakukan, sebenarnya sederhana. Ada dua wanita kembar identik yang diminta jadi sukarelawan, lantas mereka b...

WHY NEED EQ TRAINING: KAPAN SIH BUTUH TRAINING KECERDASAN EMOSIONAL?

"Dia bawahan yang tidak becus kerjanya, semoga dengan training EQ, spirit kerjanya bisa berubah" "Dia pimpinan yang suka marah-marah, semoga setelah ikut training Kecerdasan Emosi (EQ) maka dia ngg...

Membentuk Otak yang Tajam: Jalan Menuju Kesuksesan dan Kebahagiaan
Tips & Motivasi| 3134 times

Membentuk Otak yang Tajam: Jalan Menuju Kesuksesan dan Kebahagiaan

Bayangkan Anda sedang berada dalam situasi yang sangat penting—mungkin sedang mempresentasikan ide revolusioner di depan para pemimpin perusahaan, atau mungkin sedang menghadapi ujian yang akan men...

Mengapa Sih Perlu Training NLP?
NLP| 2545 times

Mengapa Sih Perlu Training NLP?

Ilmu NLP yang digagas di tahun 1970an oleh Richard Bandler dan John Grinder, adalah ilmu yang fenomenal. Berawal dari memodel teknik terapi para psikoterapis dunia yang telah berhasil menolong ribu...

Cara Super Meningkatkan Kecerdasan Emosional Kita (Part 1)

Kita tentu telah sering mendengar istilah IQ atau kecerdasan intelektual. Seperti yang kita ketahui bahwa IQ menyangkut semua tentang kecerdasan dan ketangkasan otak. Berbeda dengan EQ yang berhubu...

Mengapa Revolusi Mental Butuh Kecerdasan Emosi?

Revolusi Mental adalah jargon politik yang dikumandangkan oleh Joko Widodo - Jusuf Kalla bersama para rakyat pendukungnya dalam masa kampanye Pilpres dulu. Itu bukan sekedar jargon politik, tapi me...

Tips Presentasi Jitu ke 4 Tipe Atasan Anda!

Di dunia pekerjaan, sudah pasti kita akan sangat dekat dengan aktivitas presentasi. Kita pun tidak bisa menolak. Karena tetap saja giliran menyampaikan suatu die, pastinya kita akan diminta untuk...