HR Excellency

Ketika Job Fair Berakhir Ricuh: Sebuah Alarm Keras untuk Para HR Profesional

Ketika Job Fair Berakhir Ricuh: Sebuah Alarm Keras untuk Para HR Profesional
Jun 3, 25|Manajemen HRD| 642 times

Beritanya viral. Di sebuah ruang luas Convention Center President University, ribuan pencari kerja berdesak-desakan, berebut sinyal, bahkan adu fisik hanya demi satu hal: scan QR code untuk melamar kerja. Job Fair Bekasi yang seharusnya menjadi pintu harapan, justru berubah menjadi potret luka sosial yang menyesakkan.

Belasan orang tumbang. Tapi yang lebih mengkhawatirkan adalah yang tak tampak secara kasat mata. Meningkatnya frustrasi sosial, keputusasaan anak muda, dan ancaman kepercayaan publik terhadap masa depan.

Lebih dari 25.000 pencari kerja hadir. Hanya 2.517 lowongan tersedia!

Dari data BPS dan Bank Indonesia, kondisi ini makin diperparah oleh tren meningkatnya pengangguran dari lulusan perguruan tinggi. Per Februari 2025, terdapat lebih dari 1 juta sarjana yang menganggur. Ini bukan lagi angka. Ini adalah krisis sistemik yang menyentuh inti bangsa. Pendidikan tinggi belum menjamin pekerjaan.
Bahkan, justru semakin menunjukkan adanya kesenjangan antara output pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja.

Namun di sisi lain, HR pun menghadapi dilema. Banyaknya pelamar tak selalu berarti mudahnya mencari kandidat. Kenyataannya, proses seleksi makin kompleks. Kita dihadapkan pada tumpukan CV yang seragam, tetapi minim bukti kompetensi.
Kita perlu mengulang satu realita keras. HR bukan sedang kekurangan orang. Kita kekurangan orang yang tepat.

Dan di titik inilah, peran HR sejati diuji.

Dave Ulrich, dalam salah satu karya pentingnya menyatakan:
“HR is not about HR. HR begins and ends with the business.”

Artinya, peran HR tidak bisa lagi dipisahkan dari dinamika bisnis. Kita bukan sekadar pengelola administrasi SDM. Kita adalah mitra strategis yang memengaruhi keberlanjutan organisasi. Dalam konteks sekarang, tugas kita bukan hanya menyaring kandidat, tapi menyelaraskan strategi SDM dengan tekanan ekonomi dan sosial yang sedang terjadi.

Ulrich juga menekankan:
"The ultimate goal of HR is to create value – for the business, for the customer, and for the employee."

Krisis pengangguran yang sedang terjadi adalah panggilan untuk HR menciptakan nilai yang lebih besar. Salah satunya adalah melalui upskilling dan reskilling. Bukan hanya merekrut, tetapi mengembangkan yang sudah ada.

Ketika perusahaan fokus hanya pada efisiensi jangka pendek lewat PHK massal, sebenarnya mereka sedang menggali lubang jangka panjang. Menambah jumlah pengangguran adalah menambah potensi ketidakstabilan pasar. PHK massal tak pernah jadi solusi bisnis. Itu adalah langkah 'desperate', yang justru menghancurkan reputasi bisnis.

Disinilah. HR tidak bisa berjalan sendiri. Ia perlu brainstorm bareng lini bisnis. Perlu bicara tentang transformasi, bukan hanya efisiensi. Perlu bicara tentang keberlanjutan, bukan sekadar survival.

Inilah saatnya HR bukan sekadar menjadi eksekutor, tapi pemimpin pemikiran (thought leader). HR perlu juga bertanya ulang: Apakah struktur organisasi kita masih relevan? Apakah posisi yang tersedia benar-benar membutuhkan gelar, atau justru keterampilan spesifik? Apakah kita terlalu kaku dengan job description lama, atau berani bereksperimen dengan model pekerjaan baru? Dan yang penting, sudahkah orang-orang kita optimal dengan 'talent'-nya?

Karena pada akhirnya, pekerjaan adalah soal manusia yang digunakan secara tepat untuk menjawab kebutuhan zaman. Dan HR adalah arsitek utama dalam proses itu.

Kisah job fair Bekasi seharusnya tak hanya menjadi berita viral sehari. Ia adalah alarm yang mengetuk hati nurani kita semua. Bahwa jika kita tidak bertindak sebagai HR yang strategis, maka kita hanya akan jadi saksi krisis, bukan solusinya.

Dan saat kita ditanya, apa kontribusi nyata HR di tengah badai ini, maka jawabannya adalah:
“Great HR makes the business better, not just HR better.” (Dave Ulrich)

Maka, jangan sekadar mengelola karyawan. Ciptakan masa depan. Jangan hanya merekrut pekerja. Bangun manusia unggul. Itulah pekerjaan sejati seorang HR profesional.

Related Blog

Kisah Lantai 80 dan Unfinished Business

Ada dua orang bersaudara. Mereka tinggal di lantai 80 yang sangat tinggi di suatu apartemen. Pada suatu ketika, mereka kembali ke apartemen tersebut. Tetapi sayangnya, lift diapartemen tersebut sem...

7 Kesalahan Orang Pintar yang Bikin Hidupnya Gagal
Tips & Motivasi| 769 times

7 Kesalahan Orang Pintar yang Bikin Hidupnya Gagal

Di banyak organisasi, kami sering menemukan satu fenomena yang menarik. Ada orang yang sangat pintar, cepat memahami masalah, hebat secara teknis, dan selalu punya jawaban dalam setiap diskusi. Awa...

BAGAIMANA BENTENGI DIRI DARI BISNIS TIPSANI (TIPU SANA SINI)

Belum lama ini, kasus First Travel mencuat dan bikin heboh gara-gara pemiliknya berhasil menipu hingga sekitar 800 Milyar untuk uang setoran umroh. Uangnya yang dipakai untuk keperluan pribadi pun ...

Micromanaging at Work: Perlu ataukah Mengganggu?
Manajemen HRD| 3903 times

Micromanaging at Work: Perlu ataukah Mengganggu?

Ada berbagai tipe pimpinan. Dari yang nggak peduli sama sekali dengan timnya. Sampai ada yang justru sebaliknya, dia hobinya micromanaging. Apa itu? Ini tipe pimpian yang melakukan pengaturan sampa...

No Image
NLP| 3554 times

Hati-Hati Sabotase Diri Anda!

“Self-sabotage  is when we say we want something and then go about making sure it doesn't happen.” - Alyce P. Cornyn - Seorang peserta training saya, pada suatu kesempatan mengajak saya makan malam...

10,5 Tips Menjadi Pemimpin Pendidikan yang Hebat: Ingat Transisi
Leadership| 1497 times

10,5 Tips Menjadi Pemimpin Pendidikan yang Hebat: Ingat Transisi

"Berubah itu mudah, yang sulit adalah transisi." - William Bridges Bayangkan ada seorang kepala sekolah yang baru diangkat, sebut saja Ibu Lestari. Ia diangkat untuk memimpin sebuah sekolah unggula...

Awas! Anak-Anak yang Makin Beringas!

Baru-baru ini di ibukota heboh lagi. Hati saya pun miris mendengarnya. Bayangkan. Dilaporkan begini. Seorang anak kelas 2 SD, bertengkar dengan temannya saat ada acara lomba menggambar. Ternyata ca...

INILAH KELEBIHAN DAN KERENNYA PROGRAM POWER TRAINERNYA HR EXCELLENCY

Perusahaan butuh internal trainer. Kenapa? Karena ketika pengetahuan hanya ada di satu orang, apa yang terjadi? Ketika seseorang itu tidak ada.Entah karena pindah, sakit atau amit-amit, meninggal....