HR Excellency

Kendalikan Amarahmu!

No Image
Agu 31, 16|Emotional Intelligence| 3452 times

Elizabeth Kenny, seorang perawat yang menciptakan Kenny Methods untuk perawatan penderita polio, suatu hari bertemu dengan sahabatnya, sesama perawat yang sedang marah-marah. Elizabeth tahu beban-beban pekerjaan temannya tersebut, tetapi ia berusaha menasihati supaya temannya tersebut dapat menjaga emosinya. "Ayolah, berusahalah tetap riang dan tersenyum", kata Elisabeth. Dengan nada yang masih agak kesal, temannya berkata, "Mudah bagimu untuk mengatakannya. Dengan beban sebanyak ini bagaimana saya nggak marah-marah tiap hari! Tetapi, saya sendiri bingung, bagaimana caranya kamu bisa menjaga dirimu supaya tetap tersenyum?" Dengan senyum khasnya, Elisabeth pun bercerita. Suatu ketika, ia sedang begitu marahnya pada temannya karena persoalan yang sebenarnya sepele. Lantas, ia dinasihati ibunya yang kini selalu jadi pedomannya, yakni, "Elizabeth, ingatlah. Orang yang bisa membuatmu marah, berarti ia telah menaklukkanmu".

Pembaca, sebenarnya marah atau tidaknya kita, lebih tergantung pada respon kita daripada penyebabnya. Sayangnya, kita seringkali membiarkan orang lain maupun situasi yang menaklukkan dan mengendalikan tombol kemarahan kita. Saat di dalam antrian yang panjang, saat mobil kita disalip, saat berdebat untuk hal-hal yang sepele, saat benda yang kita butuhkan justru macet bekerja, saat tidak mendapatkan pelayanan yang kita harapkan, saat kata-kata orang tidak seperti yang kita harapkan, semuanya dengan cepat memicu api kemarahan kita.

Bertahun-tahun, melakukan studi tentang kemarahan melalui Kecerdasan Emosional, membuat saya yakin amarah bukanlah faktor genetik, bukanlah sesuatu yang tak dapat dikendalikan, tetapi suatu proses yang bisa dipelajari. Sayangnya, tidak banyak sekolah ataupun pembelajaran yang mengajarkan bagaimana kita bisa mengelola kemarahan kita lebih baik. Padahal, akibat serta dampak negatif dari kemarahan tersebut sudah tidak terhitung banyaknya. Saya mengenal beberapa orang yang sempat mendekam di penjara karena kemarahannya yang tidak terkendali. Saya pun mengenal karyawan yang karirnya mandeg hanya karena pernah khilaf dan kehilangan kendali emosinya di depan bossnya. Ada juga keluarga yang akhirnya retak gara-gara sang suami tidak bisa mengendalikan emosinya. Bayangkan, sudah berapa banyak ongkos yang harus dibayarkan gara-gara emosi yang tidak terkendali ini.

Jangan Biarkan Orang Lain Menaklukanmu

Kadang-kadang, memang banyak situasi dimana orang lain akhirnya memicu kemarahan kita. Karena cara berpikir mereka yang aneh, karena kata-kata mereka yang menyakitkan, karena tindakan mereka yang membuat 'panas' hati Anda. Apapun tindakan mereka, sebenarnya ada suatu prinsip yang mengajarkan, "Selalu ada intensi yang baik dibalik perilaku seseorang". Meskipun intensi tersebut tidaklah selalu sesuatu yang pas dan bisa Anda terima, tetapi sesuatu itu bisa jadi positif. Misalkan saja, seorang rekan saya belum lama ini kehilangan seekor ikan Arwananya yang berharga jutaan rupiah. Gara-garanya sangat sederhana sekali. Ketika ia sedang keluar kota, istrinya mencoba mencuci akuariumnya. Rupanya justru tindakan itu membunuh ikan mahalnya. Saat pulang, ia begitu murka saat tahu ikan kesayangannya telah mati. Akhirnya, selama seminggu lebih mereka kemudian tidak ngomong satu sama lain, karena betul-betul merasa marah.

Jadi, prinsip pertama yang perlu dipelajari disini adalah melihat adanya intensi atau niat baik dibalik perilaku maupun tindakan seseorang. Dengan cara ini, biasanya level kemarahan kita yang tinggi akan lebih terkendali karena akhirnya kita mulai mecoba melihat bahwa ada alasan yang 'sebenarnya baik' dibalik perilaku seseorang tersebut. Seperti kisah si istri yang mencuci akuarium suaminya, sebenarnya kan maksudnya baik yakni 'membersihkan akuarium kotor sehingga ikannya tidak mati'. Tetapi justru perilaku tersebut membuat ikan suaminya malah mati. Maksudnya si istri sebenarnya kan baik?

Nah, hal berikutnya yang dapat mengendalikan emosi kita adalah memahami bahwa terkadang orang mempunyai banyak masalah dan problem yang dlemparkannya kepada kita. Yang sebenarnya punya masalah dan punya problem adalah orang lain, tetapi karena tidak tahu harus mengeluarkannya kemana, akhirnya kitalah yang kena getahnya. Dengan memahami hal ini, maka kita pun akan menjadi lebih tenang menghadapi orang lain yang kesel ataupun marah. Saya pun teringat seorang yang bekerja di bagian Customer Service yang selalu bisa mengendalikan dirinya dengan baik tatkala menghadapi complain yang begitu banyak dari para customer. Saat ditanya mengenai strateginya, ia mengatakan, "Kenapa harus menanggapi orang marah dengan kemarahan? Kita kan tidak apa-apa. Mungkin pihak dia-nya sedang ribut dengan istri dan anaknya. Mungkin dia lagi punya masalah di kantor. Bayangkan, dia mungkin punya masalah dan ternyata produk kami membuatkan masalah 'baru' buat dirinya. Itulah sebabnya ia jadi marah-marah. Saya tidak perlu gusar. Tugas saya justru membantu melegakan bebannya dengan memberikan solusi buatnya".  Wow, sungguh suatu respon yang sangat luar biasa.

Jagalah Termometer Emosimu

Saya seringkali mengajari orang mengendalikan emosi dengan teknik membayangkan seakan-akan dalam tubuh kita terdapat sebuah termometer yang dapat mengukur emosi kita. Berikanlah batas-batas pada termometer emosi kita dimana kita tahu emosi kita masih termasuk wajar dan terkendali. Tetapi, sadarilah dan waspadalah tatkala kita merasa bahwa termometer emosi kita sudah menunjukkan tanda-tanda alarm yang berbahaya. Dan untuk bisa peka dengan termometer ini, satu-satunya cara adalah dengan menjadi peka kapankah tanda-tanda bahasa tubuh, reaksi fisik dimana biasanya berarti emosi Anda mulai tidak terkendali. Seorang sahabat saya mengatakan, "Kalau saya mulai diam dan antung saya mulai berdegup kencang dan seluruh tubuh saya rasanya siap untuk memukul. Saat itulah saya tahu, kemarahan saya sudah diambang batas".  Biasanya kalau sudah begitu, teman saya mengatakan ia akan minta ijin keluar ataupun pergi meninggalkan situasi tersebut supaya ia tidak perlu lebih terpicu emosinya. Bahkan, kalau tidak punya pilihan maka yang ia akan lakukan adalah duduk serta mengatur pernafasannya. Intinya, ia berusaha supaya emosinya tidak terpicu semakin lebih tinggi.

Memang, di dalam pelajaran Kecerdasan Emosional terdapat istilah eskalator emosi, yanag berarti pada saat ketika emosi kita tidak kita kendalikan, kecenderungannya adalah emosi tersebut biasanya akan menjadi semakin tereskalasi atau semakin meninggi. Kalau tidak percaya cobalah perhatikan orang yang berantem. Awalnya, hanya saling mengejek. Lantas dari situ, mulailah saling memaki dan berikutnya mulailah tindakan fisik terjadi. Ini menunjukkan proses eskalator emosi, seperti eskalator yang bergerak naik di mal-mal. Kalau sudah demikian, maka kita harus sadar sebelum eskalator emosi kita bergerak ke atasa semakin tak terkendali, kita harus menghentikannya dan kita harus keluar dari eskaltor tersebut.

Semoga beberapa butir mutiara pencerahan dari Kecerdasan Emosional ini membuat kita mampu mengendalikan kemarahan kita menjadi sesuatu yang lebih positif. Dan mari kita selalu berpegang pada prinsip, "Bukan emosi yang mengendalikan saya tetapi sayalah yang mengendalikan emosi saya setiap hari!"

Related Blog

Pentingnya Kecerdasan Emosi Saat Menghadapi Presentasi

Menjadi hal wajar ketika kita merasa gugup ketika berada di hadapan orang banyak untuk melakukan presentasi. Namun hal itu akan menjadi tidak wajar ketika Anda selalu gugup setiap melakukan present...

Miliki 3 Kompetensi Self Awareness Yang Penting Ini!
Tips & Motivasi| 4406 times

Miliki 3 Kompetensi Self Awareness Yang Penting Ini!

Self Awareness, adalah kompetensi Kecerdasan Emosi (EQ) yang paling dasar. Tanpa self awareness yang baik, kompetensi yang lainnya akan bermasalah. Kita sering kali ketemu orang yang tidak sadar de...

Awas, Jangan Kena Gejala Cabin Fever Di Tengah Pandemi Ini!
Tips & Motivasi| 2429 times

Awas, Jangan Kena Gejala Cabin Fever Di Tengah Pandemi Ini!

Bagaimanakah perasaan Anda dalam situasi terisolasi di rumah gara-gara wabah pandemi ini? Banyak yang mengalami situasi bosan, sedih serta jenuh berkepanjangan, hingga jadi depresi, karena tinggal ...

Dari Trainer Menjadi Learning Architect: Mengapa Banyak Training Gagal Mengubah Perilaku?

Ada sebuah fenomena yang sering kami temui selama bertahun-tahun bergerak di dunia training dan pengembangan sumber daya manusia. Program training berjalan meriah. Peserta terlihat antusias. Diskus...

Pengaruh EQ Terhadap Keuangan Anda

“Money will come when you are doing the right thing.”  - Mike Philips Tidak banyak yang menyadari bahwa kemampuan kita dalam mengelola emosi bisa sangat mempengaruhi kondisi keuangan kita. Dalam ko...

Emotional Dashboard: Menjaga Emosi Tetap Terkendali di Tempat Kerja

Bayangkan Anda sedang mengemudi mobil di jalan tol. Anda menekan pedal gas, kecepatan bertambah, dan mata Anda sesekali melirik ke dashboard kendaraan. Indikator bahan bakar, suhu mesin, hingga spe...

Tips Membangun Core Values Perusahaan: Inspirasi dari PetroChina Indonesia
Tips & Motivasi| 1819 times

Tips Membangun Core Values Perusahaan: Inspirasi dari PetroChina Indonesia

Setiap organisasi yang ingin bertahan dan tumbuh dalam jangka panjang membutuhkan pondasi yang kokoh. Pondasi ini sering dirumuskan dalam tiga elemen penting yang dikenal sebagai VMC: Vision (visi)...

6 Hal yang dibutuhkan seorang training manager

Saya akui. Judul ini saya contoh dari artikel yang ada di majalah Training edisi bulan Juni 2019 ini. Ditulis oleh seorang penulis lepas, Adela Belin di majalah tersebut. Artikel lengkapnya bisa di...