- info@hrexcelleny.com
- Jl. Tanah Abang V, no. 32, Jakarta Pusat 10160
Ada sebuah fenomena yang sering kami temui selama bertahun-tahun bergerak di dunia training dan pengembangan sumber daya manusia.
Program training berjalan meriah. Peserta terlihat antusias. Diskusi berlangsung hidup. Aktivitas kelompok berjalan seru. Nilai evaluasi tinggi. Di akhir program, peserta memberikan apresiasi yang positif. Sertifikat dibagikan, foto bersama dilakukan, dan semua orang pulang dengan perasaan puas.
Sekilas, semuanya terlihat berhasil. Namun beberapa minggu kemudian, ketika peserta kembali ke tempat kerja, banyak hal ternyata tidak berubah. Pola komunikasi yang sama masih terjadi. Konflik yang sama masih muncul. Target yang sebelumnya sulit dicapai tetap menjadi tantangan. Perilaku yang ingin diperbaiki belum menunjukkan perubahan yang berarti.
Situasi seperti ini sebenarnya bukan kasus yang jarang terjadi. Bahkan bisa dikatakan menjadi salah satu tantangan terbesar dalam dunia pembelajaran dan pengembangan manusia saat ini.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah training tersebut benar-benar berhasil?
Atau jangan-jangan yang berhasil hanyalah penyelenggaraan acaranya?
Masalah Terbesar Training Bukan Pada Materinya
Banyak organisasi menginvestasikan anggaran yang sangat besar untuk program pelatihan. Mereka menghadirkan trainer terbaik, menyusun kurikulum yang menarik, menyediakan fasilitas yang nyaman, bahkan mengalokasikan waktu khusus agar peserta dapat belajar dengan optimal.
Namun hasil yang diharapkan sering kali tidak sebanding dengan investasi yang telah dikeluarkan.
Menariknya, berbagai penelitian dan laporan dari perusahaan konsultasi global seperti McKinsey menunjukkan fenomena yang serupa. Banyak program pembelajaran menghasilkan peningkatan pengetahuan, tetapi tidak selalu menghasilkan perubahan perilaku yang berkelanjutan.
Masalahnya sering kali bukan pada kualitas materi. Masalahnya juga bukan karena peserta tidak memiliki motivasi untuk belajar. Yang sering terjadi adalah apa yang dipelajari di ruang kelas tidak memiliki keterhubungan yang cukup kuat dengan realitas pekerjaan sehari-hari.
Peserta memahami konsepnya. Mereka mengerti teorinya. Mereka bahkan dapat menjelaskan kembali apa yang dipelajari.
Namun ketika kembali ke lingkungan kerja, mereka menghadapi tekanan target, tuntutan pelanggan, keterbatasan waktu, budaya kerja yang sudah terbentuk, serta kebiasaan lama yang sulit diubah.
Akhirnya, apa yang dipelajari perlahan menghilang dan kehidupan kerja kembali berjalan seperti biasa.
Ketika Training Hanya Berhenti Menjadi Pengetahuan
Dalam dunia pembelajaran orang dewasa, terdapat satu prinsip yang sangat penting.
Mengetahui sesuatu tidak otomatis membuat seseorang berubah.
Seseorang bisa memahami pentingnya komunikasi yang baik, tetapi tetap gagal berkomunikasi secara efektif.
Seseorang bisa mengetahui pentingnya leadership, tetapi tetap kesulitan memimpin tim.
Seseorang bisa memahami pentingnya customer service, tetapi tetap memberikan pelayanan yang buruk.
Mengapa?
Karena perubahan perilaku tidak terjadi hanya melalui pengetahuan. Perubahan perilaku terjadi melalui pengalaman, praktik, pengulangan, refleksi, umpan balik, dan penerapan yang konsisten.
Inilah alasan mengapa banyak peserta merasa terinspirasi saat mengikuti training, tetapi kesulitan mempertahankan perubahan tersebut ketika kembali ke tempat kerja. Mereka memperoleh insight. Namun insight belum tentu menjadi kebiasaan.
Mereka memperoleh pemahaman. Namun pemahaman belum tentu menjadi tindakan. Dan selama pembelajaran hanya berhenti pada pengetahuan, maka dampaknya akan selalu terbatas.
Dunia Membutuhkan Trainer yang Berbeda
Perubahan dunia kerja menuntut perubahan dalam cara kita mendesain pembelajaran.
Di masa lalu, seorang trainer sering dinilai dari kemampuannya berbicara di depan kelas.
Semakin menarik presentasinya, semakin dianggap berhasil. Semakin banyak peserta tertawa dan terhibur, semakin dianggap efektif. Hari ini ukuran tersebut sudah tidak cukup.
Organisasi membutuhkan trainer yang mampu menciptakan perubahan nyata.
Trainer tidak lagi cukup menjadi penyampai materi. Trainer perlu menjadi fasilitator perubahan.
Lebih jauh lagi, trainer perlu menjadi seorang Learning Architect. Learning Architect adalah seseorang yang mampu merancang pengalaman belajar secara menyeluruh. Ia tidak hanya memikirkan apa yang akan diajarkan, tetapi juga bagaimana peserta akan menerapkannya setelah pelatihan selesai. Ia memahami bahwa pembelajaran bukan sekadar transfer informasi.
Pembelajaran adalah proses transformasi.
Karena itu, Learning Architect akan memikirkan keterkaitan antara kebutuhan bisnis, tantangan pekerjaan, pengalaman belajar, praktik lapangan, coaching, hingga tindak lanjut setelah program selesai.
Fokusnya bukan pada aktivitas belajar. Fokusnya adalah pada perubahan perilaku dan hasil kerja.
Mengapa Transfer Learning Menjadi Kunci?
Salah satu konsep yang semakin penting dalam dunia pelatihan modern adalah transfer learning.
Transfer learning berbicara tentang kemampuan peserta untuk menerapkan apa yang dipelajari ke dalam pekerjaan nyata.
Banyak training gagal bukan karena materi yang buruk. Banyak training gagal karena peserta tidak memiliki sistem yang membantu mereka menerapkan pembelajaran tersebut setelah kembali bekerja.
Karena itulah program pembelajaran yang efektif tidak hanya berisi presentasi dan diskusi. Program yang efektif juga melibatkan simulasi, studi kasus, action plan, praktik langsung, coaching, mentoring, peer learning, serta mekanisme tindak lanjut yang memastikan perubahan benar-benar terjadi.
Ketika peserta mampu menghubungkan pembelajaran dengan tantangan nyata yang mereka hadapi setiap hari, peluang terjadinya perubahan akan meningkat secara signifikan.
Mempersiapkan Trainer Masa Depan
Kebutuhan inilah yang mendorong lahirnya berbagai pendekatan baru dalam dunia pengembangan trainer.
Trainer masa depan tidak cukup hanya menguasai teknik presentasi. Mereka perlu memahami bagaimana orang dewasa belajar, bagaimana perubahan perilaku terjadi, dan bagaimana menciptakan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan organisasi.
Atas dasar pemikiran tersebut, HR Excellency bersama MiniWorkshopSeries (MWS) International Indonesia menghadirkan program Essential Licensed Trainer (ELT) dengan tema “Great Trainer in Action”.
Program ELT MWS ini dirancang untuk membantu para trainer, fasilitator, leader, coach, dan praktisi SDM mengembangkan kompetensi sebagai Learning Architect. Peserta tidak hanya belajar bagaimana menyampaikan materi dengan baik, tetapi juga bagaimana merancang proses pembelajaran yang berdampak, meningkatkan transfer learning, serta menciptakan perubahan yang berkelanjutan.
Jika dipikir-pikir, tantangan terbesar seorang trainer bukanlah membuat peserta terkesan selama kelas berlangsung. Tantangan terbesarnya adalah membuat peserta melakukan sesuatu yang berbeda setelah kelas berakhir.
Training yang Berdampak Adalah Transformasi
Di era ketika informasi dapat diakses dalam hitungan detik melalui internet, video pembelajaran, maupun artificial intelligence, nilai seorang trainer tidak lagi terletak pada kemampuannya menyampaikan informasi. Informasi tersedia di mana-mana. Pengetahuan dapat dipelajari kapan saja. Namun transformasi tidak terjadi dengan sendirinya.
Transformasi membutuhkan desain pembelajaran yang tepat. Transformasi membutuhkan pengalaman yang relevan. Transformasi membutuhkan penerapan yang konsisten.
Karena itu, mungkin sudah saatnya organisasi mengubah cara pandangnya terhadap training. Pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi:
“Apakah peserta menikmati kelas ini?”
Tetapi, “Perilaku apa yang berubah setelah kelas ini selesai?”
Sebab training tanpa dampak hanyalah sebuah aktivitas. Namun training yang mampu mengubah cara berpikir, cara bekerja, dan cara bertindak seseorang akan selalu menjadi investasi yang bernilai. Karena pada akhirnya, tujuan pembelajaran bukanlah membuat peserta mengetahui sesuatu yang baru.
Tujuan pembelajaran adalah membantu mereka menjadi pribadi yang berbeda dan bekerja dengan cara yang lebih baik. Not inform, but transform.
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| Website | : | www.hrexcellency.com |
