- info@hrexcelleny.com
- Jl. Tanah Abang V, no. 32, Jakarta Pusat 10160
Pada suatu Minggu sore yang tenang, sepasang suami istri memutuskan mengunjungi museum seni paling terkenal di kota mereka. Suasana di dalam museum begitu hening, seakan setiap karya lukisan dan patung berbisik dalam diamnya. Sang istri melangkah perlahan, matanya menyapu setiap garis dan warna dengan kelembutan. Sementara sang suami masuk dengan dada tegak, memancarkan aura superioritas, seperti ingin berkata, “Di antara semua pengunjung di sini, akulah yang paling mengerti seni.”
Begitu masuk lobi, sang suami mendadak tersentak, “Wah, aku lupa… kacamataku tertinggal di rumah.”
Sang istri dengan tenang bertanya, “Kita pulang dulu ambil?”
Dengan nada ketus sang suami menepis, “Tidak perlu. Seorang ahli sejati tidak butuh kacamata.”
Mereka pun berjalan menyusuri galeri. Di setiap karya seni, sang istri berhenti sejenak, membiarkan hatinya menyentuh makna yang tersembunyi. Tapi sang suami bergerak cepat, membiarkan mulutnya lebih aktif dari matanya.
“Komposisinya lemah.” “Warna-warnanya murahan.” “Subjeknya sangat tidak bernilai seni.”
Kata-kata keluar seperti peluru dari senapan kritik. Ia tak sedang menikmati seni. Ia sedang menunjukkan siapa dirinya. Tanpa sadar.
Lalu mereka berhenti di depan sebuah lukisan besar. Sang suami menyilangkan tangan, menggeleng, dan dengan penuh rasa muak berkata: “Lukisan macam apa ini? Tak ada yang bisa menyentuh perasaanku. Ini hanya hasil dari selera buruk seorang pelukis biasa.”
Saat itu, sang istri, yang berada tak jauh darinya, melangkah mendekat, menatap lukisan itu sebentar, lalu menatap suaminya dan berkata dengan suara pelan namun tajam:
“Sayang… kamu sedang melihat cermin.”
**
Kisah ini sederhana, namun seperti pisau yang perlahan masuk ke dalam kesadaran kita. Karena sesungguhnya, banyak dari kita adalah pria itu. Kita masuk ke kehidupan dengan percaya diri, membawa ‘kacamata’ penilaian terhadap orang lain, tapi lupa membawa alat paling penting yakni kejujuran melihat diri sendiri.
Inilah inti dari self awareness. Kesadaran diri. Ini bukan sekadar mengenali emosi. Tapi berani mengakui saat diri sedang marah, cemburu, sinis, sombong, atau bahkan rapuh. Dan ini adalah elemen pertama dari Emotional Intelligence (EQ), sebagaimana dijelaskan oleh Daniel Goleman. Juga dibahas di buku Emotional Quality Management (EQM) karya Anthony Dio Martin.
Tanpa self awareness, EQ tak pernah bisa tumbuh. Kita akan terus menjadi seperti pria di museum: lantang menilai, tapi tak tahu apa yang rusak dalam dirinya.
Lihatlah banyak kegagalan hubungan, konflik di kantor, bahkan keputusan-keputusan besar yang keliru. Seringkali bukan karena orang itu tak punya ilmu, tapi karena ia tak mengenali dirinya. Ia tak sadar bahwa ketusnya melukai. Ia tak tahu bahwa kritiknya berasal dari luka batin. Ia tak tahu bahwa sinisme itu adalah bentuk ketakutan dan rasa tidak aman yang dibungkus dengan arogansi.
Orang yang sadar dirinya, tahu kapan harus diam.
Tahu kapan perasaannya sedang menguasai. Tahu saat dirinya terlalu keras pada orang lain karena sedang keras pada dirinya sendiri.
Lihatlah Howard Schultz, CEO Starbucks. Di awal kepemimpinannya, ia menyadari bahwa dirinya terlalu cepat bicara, terlalu dominan. Ia tidak menyadari bahwa timnya enggan berbicara karena takut memotongnya. Setelah sebuah sesi coaching pribadi, ia mulai mengubah gaya kepemimpinannya. Ia berkata, “Saya harus belajar menahan diri, agar orang lain bisa didengar.” Dan dari situlah, budaya saling mendengarkan tumbuh di Starbucks. Perubahan itu dimulai bukan dari training, tapi dari cermin batin.
Atau Nelson Mandela. Di penjara Robben Island selama 27 tahun, ia tak hanya belajar sabar. Ia belajar mengenali emosi dirinya sendiri. Marah, sakit hati, dendam. Semuanya. Tapi dari self awareness itulah muncul pemaafan dan kematangan yang menjadikannya pemimpin yang dirindukan dunia.
Self awareness bukan datang dari cermin di dinding, tapi dari keberanian menatap ke dalam.
Tanya diri kita:
–Kenapa aku mudah marah?
–Kenapa aku selalu merasa ingin disalahpahami?
–Kenapa aku merasa tak nyaman saat orang lain lebih sukses?
–Kenapa aku sering merasa dikritik, padahal orang hanya bercanda?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk mempermalukan diri, tapi untuk menumbuhkan kita.
Latihlah keheningan sebelum bereaksi.
Tanyakan kepada diri sebelum menilai: “Apakah yang kulihat ini benar adanya, atau justru cerminan dari diriku sendiri?”
Beri ruang untuk refleksi sebelum menghakimi.
Karena di dunia ini, yang paling susah dilihat bukanlah bintang di langit… tapi bayangan kita sendiri dalam kegelapan emosi.
Sebagai akhir dari tulisan ini, izinkan saya menutup dengan sebuah kutipan menarik dari psikolog terkemuka Carl Gustav Jung. “Your vision will become clear only when you look into your heart. Who looks outside, dreams. Who looks inside, awakens.”
Dan hanya dengan keberanian untuk melihat ke dalam, kita benar-benar bisa bangun. Menjadi pribadi yang utuh, pemimpin yang matang, dan manusia yang pantas untuk dicintai.
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| Website | : | www.hrexcellency.com |
