- info@hrexcelleny.com
- Jl. Tanah Abang V, no. 32, Jakarta Pusat 10160
Kita semua pernah menyaksikan cerita klasik ini. Di bangku sekolah, ada satu murid yang selalu jadi juara kelas. Nilainya nyaris sempurna. Ia ahli menjawab soal. Cepat menyerap pelajaran. Lalu suatu hari, ketika guru menunjuknya menjadi ketua kelas, semua orang menaruh harapan besar padanya. Begipun sang guru.
Tapi kenyataannya, suasana kelas justru tak terkendali. Ia angkuh. Ia merasa besar kepala karna jadi ketua kelas. Ia sok ngatur. Tapi tak bisa atur kelas. Ia tak bisa tegas saat ada masalah di kelas. Lebih pikirkan ego-nya. Singkat kata, ia jadi ketua kelas yang tak becus. Dan dari sinipun kita pun belajar satu hal penting. Kepintaran akademik tidak otomatis menjamin kemampuan memimpin.
Itulah wajah nyata dari Peter Principle, sebuah teori manajemen klasik yang terasa semakin relevan di dunia kerja modern.
Diperkenalkan oleh Dr. Laurence J. Peter dan Raymond Hull dalam bukunya The Peter Principle (1969). Prinsip ini menyatakan bahwa dalam organisasi hierarkis, karyawan akan dipromosikan berdasarkan keberhasilan di posisi sebelumnya hingga akhirnya mereka mencapai level yang tak lagi mereka kuasai. Dalam istilah kasarnya: karyawan dipromosikan sampai mereka tak lagi kompeten.
Dan inilah yang terjadi di banyak perusahaan saat ini, bahkan mungkin di tempat kerja Anda.
Bayangkan seorang sales yang luar biasa. Target selalu tercapai. Relasi dengan klien sangat kuat. Lalu ia dipromosikan menjadi Sales Manager. Tugasnya berubah. Bukan lagi menjual, tapi mengelola tim, menyusun strategi, dan menghadapi dinamika manusia. Sayangnya, ia tak dibekali kemampuan itu. Ia panik, bingung, bahkan kehilangan kepercayaan diri. Timnya pun ikut tenggelam. Dari bintang, ia menjadi beban.
Begitu juga dengan seorang supervisor teknis yang brilian di lapangan. Paham mesin, bisa menyelesaikan kerusakan dalam sekejap. Tapi saat ia menjadi manajer, tugasnya bergeser. Ia harus menyusun rencana, memimpin rapat, memberi feedback, dan menjembatani komunikasi lintas departemen. Tanpa keterampilan itu, ia pun kehilangan arah.
Dan parahnya, banyak organisasi yang tidak menyadari bahwa promosi bisa menjadi jebakan. Niatnya ingin memberi penghargaan, tapi tanpa kesiapan, justru membuat seseorang gagal di mata banyak orang. Justru membuat organisasi rugi besar.
Peter Principle bukan hanya soal ketidakmampuan. Ini soal ketidaksiapan.
Sayangnya, banyak organisasi hanya menilai promosi dari angka, dari pencapaian teknis, bukan dari kapasitas kepemimpinan. Padahal, jabatan itu bukan hadiah. Ia adalah tanggung jawab yang mengubah peran dan memerlukan keterampilan baru.
Lalu bagaimana seharusnya organisasi bersikap?
Di sinilah HR Excellency mengambil peran penting. Selama lebih dari dua dekade melatih dan mempersiapkan para pemimpin di berbagai organisasi, kami menyadari satu hal ini. Tidak ada yang otomatis siap menjadi pemimpin hanya karena ia hebat di posisi sebelumnya.
Kami telah melatih ratusan supervisor yang baru naik jabatan, dan mayoritas dari mereka mengaku:
“Saya nggak menyangka akan sesulit ini.”
“Saya pikir jadi manajer itu cuma soal memberi arahan.”
“Saya pintar soal teknis, tapi soal manusia, saya kebingungan.”
Dan di sinilah pentingnya pelatihan yang tepat dan transformatif. Program pelatihan di HR Excellency menjadi ruang persiapan bagi mereka yang akan naik tangga karier. Agar mereka tidak tersandung ketika sampai di puncaknya.
Kami melatih mereka untuk:
*Mengenal gaya kepemimpinan mereka.
*Melatih kemampuan coaching dan komunikasi.
*Memahami dinamika tim dan motivasi manusia.
*Mengasah kecerdasan emosional dalam memimpin.
*Menjadi pengambil keputusan yang strategis.
Kami pun percaya, bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Dan dalam dunia kerja, mencegah promosi yang prematur lebih baik daripada harus menghadapi pemimpin yang gagal.
Banyak organisasi sekarang mulai sadar. Mereka membekali para calon manajer dengan pelatihan sebelum promosi. Bukan hanya seminar sehari, tapi pelatihan berkelanjutan, mentoring, bahkan coaching individual. Karena mereka tahu, kompetensi baru tidak tumbuh begitu saja karena jabatan diberikan. Ia harus dilatih. Dibentuk. Diasah.
Sebagai individu pun, kita perlu bertanya pada diri sendiri:
“Apakah saya benar-benar siap menerima tanggung jawab baru?
Ataukah saya hanya merasa pantas karena saya hebat di pekerjaan saya sekarang?”
Naik jabatan bukan hanya tentang reputasi, tapi juga kesiapan menghadapi kompleksitas baru. Dan Peter Principle mengingatkan kita semua, bahwa tanpa kesiapan itu, kita bisa menjadi pemimpin yang sebenarnya bukan pada tempatnya.
Pada akhirnya, promosi adalah seperti menaiki gunung. Semakin tinggi, semakin sempit jalannya, dan semakin berat beban di punggung. Bukan siapa yang paling cepat yang berhasil, tapi siapa yang paling siap.
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| Website | : | www.hrexcellency.com |
