HR Excellency

Berbagai Salah Kaprah Orang Soal Training Kecerdasan Emosional!

Berbagai Salah Kaprah Orang Soal Training Kecerdasan Emosional!
Agu 31, 16|Emotional Intelligence| 3345 times

Bertahun-tahun kita menyelenggarakan training Kecerdasan Emosional (EQ). Namun, hingga sekarang masih banyak peserta yang datang ke tempat training ataupun hadir di ruangan kelas dengan pikiran dan pertimbangan yang salah saol training EQ itu sendiri.

Nah, tulisan ini dimaksudkan untuk meluruskan berbagai persepsi yang salah di seputar training kecerdasan emosional.

Pikiran Pertama:

“Memangnya saya punya masalah emosi? Saya sama sekali tidak punya masalah emosi kok. Kenapa harus ikut kelas EQ?”

Jawabannya:

Siapa bilang hanya orang bernasalah dengan emosi yang perlu ikut kelas EQ? Belajar EQ tidaklah melulu soal emosi yang bermasalah. Memang, EQ mengajarkan cara bagaimaa kita menghadle diri saat marah, bagaimana menjaga mood kita tetap positif. Tapi bukan berarti yang ikut kelas EQ haruslah orang yang bermasalah. Prinsip pembelajaran dalam EQ adalah, “memuat yang punya masalah bisa teratasi dan membuat yang sudah baik menjadi lebih sukses lagi”. Bahkan orang yang tidak punya masalahpun bisa banyak tertolong dengan berbagai tips dan metode yang diajarkan. Bahkan, ketika Anda tidak punya masalah, Anda justru bisa menolong orang yang punya masalah sehingga diri mereka menjadi lebh baik. Anda bisa jadi coach dan penasihat buat mereka.

Pikiran Kedua:

“Cerdas emosi akan membuat saya jadi terlalu lembek. Di dunia kerjaan saya sekarang ini justru butuh orang yang bisa marah-marah?”

Jawabannya:

Cerdas emosi tidak berarti Anda lembek. Bahkan, EQ mengijinkan Anda untuk marah. Tapi haruslah marah yang cerdas (smart angry). Itulah sebabnya, setelah selesai belajar EQ seseorang akan memahami prinsip-prinsip marah yang cerdas. Jadi bukan membuat Anda menjadi orang yang tak akan pernah marah lagi. Yang dicoba dihindari dari EQ adalah janganlah menjadi pribadi tukang ngamuk, tukang marah-marah yang emosinya tidak terkendali. EQ akan justru akan mengajari kita bagaimana menjadi tegas dan mengekspresikan emosi kita secara cerdas. Apa gunanya ngamuk dan marah-marah tapi justru masalahnya tetap tidak terselesaikan?

Pikiran Ketiga:

“Kecerdasan emosional akan membuat organisasi jadi lambat dan kurang agresif dalam mencapai target. EQ bisa membuat orang akan jadi terlalu lembut termasuk soal target!”

Jawabannya:

Justru sebaliknya. Banyak organisasai yang tidak optimal karena terlalu blunder, ada terlalu banyak persoalan emosi dibaliknya. Orang jadi saling menikam, saling menjatuhkan. Itulah organisasi yang muncul dari pribadi yang tidak cerdas emosinya. Tujuan program kecerdasan emosi bukan untuk membuat kita lembek terhadap target. Justru membuat apa yang selama ini menghalangi, bisa diatasi. Atau paling nggak, buat yang belajar EQ bisa mengaatasi rintanagn dalam dirinya yang membuatnya tidak bisa meraih targetnya. Dan ingatlah dalam kecerdasan emosi adalah prinsip penting ini “Emotion drives people. People drives performance” (emosilah yang mendorong orang dan oranglah yang mendorong kinerjanya). Jadi dengan kata lain, emosilah yang mendrong kinerja seseorang. Jadi salah besar kalau dipikir justru emosilah yang selama ini menghambat kinerja seseorang!

Related Blog

Unhappiness Habits: Inilah 7 Kebiasaan Manusia Yang Tidak Bahagia, Bagaimana Menghindarinya?
Tips & Motivasi| 4363 times

Unhappiness Habits: Inilah 7 Kebiasaan Manusia Yang Tidak Bahagia, Bagaimana Menghindarinya?

Marcus Aurelius, seorang penyair dan pujangga berkata, “Menjadi bahagia itu tidak sulit. Semuanya ada dalam jangkauanmu dan semuanya ada di dalam pola berpikirmu!”. Sangat benar sekali! Tapi, kenya...

The Map: Simulasi Boardgame Keren Yang Mengajarkan 4 Ketrampilan Penting Buat Para Pemimpin Bisnis!
Leadership| 3819 times

The Map: Simulasi Boardgame Keren Yang Mengajarkan 4 Ketrampilan Penting Buat Para Pemimpin Bisnis!

Attack!! Dan begitu mendengar aba-aba tersebut. Serentak, semua peserta dalam satu tim, mengangkat pedangnya dan mengarahkan pada group yang diserang. Group yang diserang akan kehilangan poin dan h...

Tips Menjadi Trainer Online Yang Kreatif

Nah, setelah mengetahui kesalahan apa saja yang sering dilakukan oleh para trainer atau pengajar saat melakukan online training pada artikel yang sebelumnya. Maka inilah saatnya membuat online trai...

3 Tips Presentasi Persuasif: Mau Presentasi? Menarik Saja Tidak Cukup, Tapi Harus Persuasif!

Siapa yang ingin tahu bagaimana melakukan presentasi yang lebih baik itu di kantor atau kepada klien? Katakan, “Saya!” Saya rasa setiap harinya akan selalu ada orang yang melakukan presentasi apapu...

Energy Sucker: Waspada Orang Yang Diam-Diam Menguras Energi dan Produktivitas Anda
Tips & Motivasi| 653 times

Energy Sucker: Waspada Orang Yang Diam-Diam Menguras Energi dan Produktivitas Anda

Dalam berbagai sesi coaching yang kami lakukan bersama para profesional dan leader di berbagai organisasi, ada satu pola yang cukup sering muncul. Ketika kinerja seseorang menurun, asumsi awal bias...

EQ Bagi Pejabat Pemerintah: Mengapa Emosi Bisa Menentukan Stabilitas Bangsa

Tulisan ini adalah sebuah refleksi. Bukan dibuat untuk menghina, apalagi memperkeruh suasana yang kini reda. Justru sebaliknya, kita perlu belajar dari setiap peristiwa. Sayangnya bangsa kita serin...

Crucial Competence: 12 Kompetensi EQ Penting Yang Wajib Dimiliki Para Pemimpin!
Leadership| 8276 times

Crucial Competence: 12 Kompetensi EQ Penting Yang Wajib Dimiliki Para Pemimpin!

Baru-baru ini, Daniel Goleman, sebagai salah satu pelopor EQ di dunia, dalam EQ Summit 2017, memperkenalkan 12 kompetensi pemnting yang perlu dimiliki para pemimpin. Goleman bersama Richard Boyatzi...

Studi Kasus (Business Case) dan Best Practices Perusahaan yang Menerapkan Kecerdasan Emosi (EQ) di Dunia dan di Indonesia Oleh: Anthony DIo Martin
Tips & Motivasi| 13484 times

Studi Kasus (Business Case) dan Best Practices Perusahaan yang Menerapkan Kecerdasan Emosi (EQ) di Dunia dan di Indonesia Oleh: Anthony DIo Martin

Sejak membawakan konsep dan training kecerdasan emosi (EQ) di Indonesia sejak tahun 2002, melalui lembaga HR Excellency, salah satu pertanyaan yang muncul adalah: “Adakah contoh kasus atau best pra...