HR Excellency

Trapologist at Work: Mewaspadai 7 Perangkap Kerja Ini!

Trapologist at Work: Mewaspadai 7 Perangkap Kerja Ini!
Okt 7, 23|Business Management| 3275 times

Pernahkah Anda melihat seekor hamster yang terus berlari di sebuah alat yang berupa roda lingkaran? Ia begitu sibuknya berlari. Rupanya itu adalah instink hamster yang suka bosan dan selalu suka berlari kemana-mana. Dan kembali ke hamster kita yang berlari di mainan lingkaran roda. Makin semangat ia berlari, rodanya berputar semakin kencang. Namun jika diperhatikan, setelah sekian lama berlari, dimanakah si hamster ini? Ia tidak dimana-mana. Tetap berada di lokasi yang sama di dalam roda lingkaran itu.

Apakah Anda merasa bahwa apa yang dilakukan oleh hamster ini mirip dengan yang sebagian besar kita lakukan di tempat kerja. Sibuk. Melakukan berbagai hal. Namun, tidak produktif sama sekali.

Dalam bukunya yang menarik, Trap Tales, David Covey serta Stephen Mardyks menginspirasi kita soal perangkap kehidupan. Mereka menyebut diri mereka sebagai Trapologist, yakni ahli yang berusaha mengidentifikasi, serta membantu prang supaya tidak terperangkap dalam berbagai perangkap ini. Dan terkait dengan dunia kerja, mereka lantas mengidentifikasi 7 perangkap di tempat kerja yang perlu diwaspadai. Nah apakah ketujuh perangkap kerja yang perlu diwaspadai itu?

Oya, sebelum kita lihat ketujuh perangkap ini, dibagi menjadi 3 kelompok. Tiga yang pertama terkait dengan masalah personal. Tiga berikutnya terkait masalah tim. Dan satu sisanya terkait organisasi.

Yuk kita dalami apa saja ketujuh perangkap kerja tersebut!

1. Perangkap Kesibukan: sibuk tapi tidak produktif. Dalam perangkap pertama ini, Anda sibuk melalukan sesuatu tapi tidak ada hasilnya. Bisa jadi Anda kebanyakan melakukan sesuatu. Bisa juga karna tidak fokus. Atau bisa juga karena tidak jelas apa yang mau dicapai. Yang jelas, antara energi dan waktu yang Anda habiskan dengan apa yang Anda capai, tidak seimbang.

2. Perangkap Nunda-nunda : kebiasaan berpikir masih bisa nanti atau diundur besok urusan kerjaan Anda. Ada istilah manusia "tarsok" alias entar esok untuk menggambarkan orang yang suka menunda-nunda pekerjaan. Mereka tahu apa yang harus dikerjakan, apa yang harus jadi prioritas tapi selalu saja menunda-nunda. Kadang, banyak kerjaan yang akhirnya tak selesai atau kalaupun dikerjakan, dikerjakannya dengan kondisi terburu-buru, dengan kualitas rendah.

Trapologist at Work: Mewaspadai 7 Perangkap Kerja Ini! (gambar 1)

3. Perangkap Ego/Image: maunya sempurna, kelihatan hebat, takut dengan kegagalan, keliruan serta enggan mencoba sesuatu yang tampaknya akan membuat dirinya kelihatan tidak mampu. Perangkap orang ini adalah tak mau melakukan hal yang bisa membuat dirinya kelihatan tak mampu. Akhirnya, diapun terjebak dalam zona nyamannya. Ia tak mau mencoba hal-hal baru yang bisa mengungkap ketidakmampuannya. Orang ini akhirnya tidak berani ambil risiko, kurang kreatif dan mencoba hanya yang ia rasa aman saja.

4. Perangkap Emosi/Stress: dikit-dikit stress, tersinggung, gampang marah dengan orang disekitarnya. Di tempat kerja, ia adalah manusia dengan "sumbu pendek". Sedikit saja hal menyinggung dirinya, ia akan mudah marah dan jengkel. Akibatnya, ia pun menjadi orang yang tidak gampang diajak kerjasama. Karna gampang stress dan emosian, ia pun menularkan energi ini ke sekelilingnya.

5. Perangkap Single Fighter: maunya lakuin sendiri, nggak percaya orang lain. Ini adalah perangkap yang seringkali disebut "Superman atau Superwoman complex" dimana seseorang merasa bisa menyelesaikan semuanya sendiri tanpa bantuan orang lain. Disini, ia cenderung memilih melakukan apapun sendirian. Ia pun tidak mau bekerjasama dengan orang lain, bahkan ia meragukan kemampuan orang lain. Akibatnya, ia lebih suka menjadi pemain tunggal yang menyelesaikan semuanya sendirian.

6. Perangkap Engagement: cuma terlibat fisiknya doang, hatinya nggak ada disitu. Ini adalah perangkap dimana seseorang berada di dalam sebuh tugas, proyek ataupun kegiatan, namun pikiran dan hatinya tidal berada disana. Hal ini terlihat dari kehadiran orang ini secara fisik, namun ia tidak mencurahkan dirinya secara total untuk melakukan pekerjaannya. Dalam kepanitiaan, ia hanya setor muka, tapi tidak memberikan kontribusi yang berharga. Sebab utamanya, hatinya tidak ada disana.

7. Perangkap Rabun Jauh: nggak bisa lihat dampak besar dari kerjaannya, hanya lihat jarak dekat. Ini adalah perangkap dimana seseorang tidak melihat bagaimana pekerjaannya akan berdampak buat orang lain, apalagi buat organisasinya. Baginya kerjaannya hanyalah sebuah upaya menyelesaikan daftar tugas. Akibatnya, kadang ia melakukan pekerjaan asal-asalan ataupun dengan kualitas rendah, serta tidak peduli bagaimana kerjanya akan berdampak buat orang lain.

Nah, begitulah ketujuh perangkap kerja yang seringkali ditemui ditempat kerja. Pertanyaannya. Apakah Anda termasuk yang terjebak dalam perangkap ini? Berita baiknya adalah kita bisa keluar dari perangkap tersebut.

Dalam buku dan seminarnya, David Covey menganjurkan kita untuk pertama-tama membaca dan memahami soal perangkap ini. Lantas bertanya dengan jujur seberapa dalamkah kita terjebak dalam perangkap kerja itu. Lalu, berikutnya melihat cara-cara konvensional yang umumnya kita lakukan, yang tidak berhasil. Selanjutnya, kita disarankan untuk menciptakan "ephiphany approach" yakni pendekatan baru yang lebih inovatif dan kreatif untuk mengatasi perangkap kerja itu. Semoga tulisan ini membuat kita menjadi tak sekedar hanya "zombie" di tempat kerja!

Related Blog

Apa Itu Kecerdasan Emosional dan Mengapa Itu Penting?

Kecerdasan emosional atau yang biasanya disebut kecerdasan emosi ini sering disingkat dengan sebutan EI (Emotional Intelligence) atau EQ (Emotional Quotient). Meskipun istilah EI dan EQ kurang lebi...

Emotional Dashboard: Menjaga Emosi Tetap Terkendali di Tempat Kerja

Bayangkan Anda sedang mengemudi mobil di jalan tol. Anda menekan pedal gas, kecepatan bertambah, dan mata Anda sesekali melirik ke dashboard kendaraan. Indikator bahan bakar, suhu mesin, hingga spe...

Mengenali dan Me-manage 7 Ciri Toxic Employee!

Pembaca, pernah mendengar istilah Toxic Employee? Dalam salah satu bahasan di buku bestseller saya berjudul Smart Emotion 1 dan 2, saya membahas soal ini. Topik ini rupanya mendapat respon cukup be...

5 Kisah Inspiratif Yang Sering Diceritakan Dalam Training Kecerdasan Emosional (EQ)
Tips & Motivasi| 26829 times

5 Kisah Inspiratif Yang Sering Diceritakan Dalam Training Kecerdasan Emosional (EQ)

Dalam pelatihan Kecerdasan Emosionalk (EQ), salah satu cara terbaik untuk mengajarkan adalah melalui cerita dan kisah yang inspiratif. Berikut ini adalah 5 cerita inspiratif yang seringkali kami pa...

10 Ketrampilan Street Smart Yang Penting Diketahui dan Dikuasai!
Tips & Motivasi| 4021 times

10 Ketrampilan Street Smart Yang Penting Diketahui dan Dikuasai!

Mark McCormack pernah menjadi kesal. Ia lulusan sekolah bagus, tapi merasa pendidikannya ternyata tidak menyiapkan dia untuk jadi pebisnis yang tangguh. Lantas, ia menulis buku terkenal “What They ...

EQ Parenting: Menjadi Orang Tua yang Cerdas Emosinya
Parenting| 634 times

EQ Parenting: Menjadi Orang Tua yang Cerdas Emosinya

Seorang ibu bercerita dengan sedih saat mengikuti pelatihan Kecerdasan Emosional. “Pak Anthony, saya merasa ngeri dengan anak saya sendiri.” Saya terdiam sejenak. “Mengapa? Memangnya anak Anda sepe...

Kecerdasan Emosimu Rendah? Inilah 4 Hal Yang Akan Anda Korbankan!

“Banyak orang tidak berhasil bukan karena tidak pintar di sekolah, tapi karena kecerdasan emosi mereka bermasalah!” (Anthony Dio Martin, www.anthonydiomartin.com) Ryan, lulusan terbaik dengan predi...

Dari Trainer Menjadi Learning Architect: Mengapa Banyak Training Gagal Mengubah Perilaku?

Ada sebuah fenomena yang sering kami temui selama bertahun-tahun bergerak di dunia training dan pengembangan sumber daya manusia. Program training berjalan meriah. Peserta terlihat antusias. Diskus...