HR Excellency

Termostat Mental: Sebuah Standar Mental yang Membatasi Kualitas Hidup

Termostat Mental: Sebuah Standar Mental yang Membatasi Kualitas Hidup
Okt 2, 25|Tips & Motivasi| 532 times

Ada kisah seorang pria yang dicintai dengan tulus oleh seorang wanita. Mereka saling mengasihi, hingga akhirnya bertunangan dan merencanakan pernikahan. Semua tampak sempurna. Namun menjelang hari pernikahan, pria itu tiba-tiba kabur. Ia malah menikah dengan seorang wanita lain yang kondisinya jauh di bawah tunangannya. Alasannya membuat orang terdiam. “Aku merasa tidak pantas buatnya,” katanya pelan.

Ada juga kisah lainnya. Seorang wanita karier yang cerdas dan sukses. Ia menikah dengan pria yang awalnya tampak baik, namun ternyata sering melakukan kekerasan dalam rumah tangganya. Keluarga yang melihat penderitaannya memaksa ia untuk berpisah, hingga akhirnya ia berani bercerai. Setelah bebas, sebenarnya banyak pria baik yang mendekatinya. Ada seorang yang sungguh-sungguh mengasihinya dengan tulus, siap menerima dirinya apa adanya. Tetapi entah mengapa, ia justru memilih pria lain yang kaya raya namun juga kasar, bahkan melakukan kekerasan seperti suami pertamanya. Seolah-olah ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri, “Beginilah memang nasib saya. Saya pantas mendapat yang seperti ini.”

Inilah yang disebut termostat mental. Sama seperti pria yang kabur dari tunangannya karena merasa tidak pantas, begitu juga wanita ini yang tanpa sadar memilih jalan hidup yang terus melukai dirinya. Bukan karena tidak ada pilihan lain, melainkan karena keyakinan di dalam dirinya berkata ia tidak pantas diperlakukan dengan penuh cinta dan penghargaan.

Apa Itu Termostat Mental?

Bayangkan sebuah termostat yang mengatur suhu ruangan. Jika suhu terlalu panas, termostat menurunkannya. Jika terlalu dingin, ia menaikkannya kembali. Fungsinya menjaga kestabilan. Begitu juga dengan diri kita. Termostat mental mengatur tingkat kelayakan yang kita rasakan.

Sayangnya, banyak orang hidup dengan termostat mental yang rendah. Sejak kecil mereka dibesarkan dalam kritik, penolakan, atau rasa tidak dihargai. Maka terbentuklah keyakinan dalam diri bahwa mereka tidak pantas menerima cinta yang tulus, tidak pantas mendapatkan kekayaan besar, tidak pantas diperlakukan dengan baik, bahkan tidak pantas bahagia. Akibatnya, ketika sesuatu yang baik datang, mereka menolaknya atau merusaknya sendiri.

Lihatlah kisah nyata para pemenang lotere. Banyak dari mereka yang mendadak kaya raya. Namun hanya dalam hitungan tahun, sebagian besar justru kembali miskin. Uang yang begitu banyak tidak mampu mereka kelola. Ada yang menghamburkan untuk foya-foya, ada yang dimanfaatkan orang terdekat, ada yang jatuh ke dalam hutang. Mengapa bisa begitu? Karena batin mereka berkata, “Aku tidak pantas punya uang sebanyak ini.” Termostat mental mereka menolak kelimpahan yang tiba-tiba datang.

Begitu pula dengan seorang pebisnis sukses. Ia mampu membangun perusahaan dari nol hingga besar. Namun ketika memilih teman dekat, ia justru sering dikhianati. Setiap kali ada orang yang benar-benar tulus ingin menemaninya, ia curiga dan menjauh. Sebaliknya, ia justru merasa pantas ditemani oleh mereka yang memperalat dan menikamnya dari belakang. Lagi-lagi, termostat mental bekerja. Ia merasa tidak pantas diperlakukan dengan ketulusan.

Ciri Orang dengan Termostat Mental Bermasalah
Ada beberapa tanda yang bisa kita kenali pada orang dengan termostat mental bermasalah.

Pertama, merasa tidak pantas dengan kekayaan. Saat tiba-tiba mendapatkan uang banyak, ia justru menghamburkannya karena batinnya berkata bahwa uang sebanyak ini tidak layak dimilikinya.
Kedua, merasa tidak pantas dicintai. Ia menolak cinta tulus dan malah berakhir dengan pasangan yang memanipulasi dan merendahkannya.
Ketiga, merasa tidak layak bahagia. Saat hidup memberinya kebahagiaan, ia justru takut dan berkata dalam hati bahwa sebentar lagi pasti datang kesulitan.
Keempat, menolak persahabatan yang tulus. Ia curiga dengan orang yang benar-benar peduli padanya, tapi justru mendekat pada teman yang memperalatnya.
Kelima, merasa tidak berhak sukses. Ketika sukses diraih, ia malah ketakutan dan melakukan tindakan yang menghancurkan keberhasilannya sendiri.
Keenam, selalu merasa dirinya kurang. Sepintar apapun atau sekaya apapun, hatinya berkata bahwa ia masih tidak cukup.
Ketujuh, membatasi diri dari peluang besar. Ketika kesempatan emas datang, ia mundur dengan alasan bahwa itu bukan untuk orang seperti dirinya.
Kedelapan, membiarkan diri diperlakukan buruk. Ia menerima hinaan dan perlakuan tidak adil karena percaya bahwa dirinya memang pantas diperlakukan rendah.
Kesembilan, merasa bersalah menerima kebaikan. Ketika orang lain memberi hadiah atau pertolongan, ia menolak atau merasa sungkan berlebihan.
Kesepuluh, menyabotase diri di titik puncak. Saat hampir mencapai level terbaik, ia justru membuat keputusan yang merusak segalanya.

Belajar Menaikkan Termostat Mentalmu

Kabar baiknya, termostat mental bisa diatur ulang. Kita bisa belajar menaikkan rasa layak dalam diri. Caranya dengan mulai menyadari suara batin yang berkata “Aku tidak pantas”, lalu menggantinya dengan penerimaan diri. Belajar berkata, “Aku layak dicintai, aku layak bahagia, aku layak sukses.”

Kita juga bisa melatih kebiasaan baru. Setiap kali menerima kebaikan, belajarlah menerimanya dengan senyum dan rasa syukur. Setiap kali sukses kecil tercapai, rayakanlah sebagai bukti bahwa diri ini pantas. Semakin sering dilakukan, semakin tinggi setelan termostat mental kita.

Sebagai refleksi terakhir. Ingatlah, ada banyak orang gagal ataupun tak bahagia bukan karena tidak ada peluang. Tetapi karena termostat mentalnya yang sering berkata, “Itu bukan untukmu.”

Pada akhirnya, kita hanya akan menerima sebesar yang kita percaya layak untuk kita terima. Karena itu, beranilah menaikkan setelan termostat mental Anda.

Hidup tidak pernah salah memberi, seringkali kitalah yang sebenarnya menolak untuk menerimanya.

Related Blog

Tips Menghadapi Karyawan ‘Camper’

Bp. Antony Dio Martin Salam Antusias selalu, Saya A ( Branch Manager PT AAA Securities ) yg bulan lalu mengikuti smart business forum yg diadakan oleh Smart FM di Medan juga mengikuti seminar Bapak...

Empat Tipe Manusia Menghadapi Tekanan Hidup

“Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh” (John Gray) Pembaca, hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan. Lebih-lebih, hidup di alam modern ini yang meny...

Launching Buku "NLP: Self Training" Tepat Perayaan 78 Tahun Indonesia Merdeka
NLP| 2516 times

Launching Buku "NLP: Self Training" Tepat Perayaan 78 Tahun Indonesia Merdeka

Bertepatan dengan perayaan 17 Agustus 2023, dilakukan launching secara online buku baru terbitan MWS Indonesia yakni "NLP: Self Training". Sekaligus, juga bagi-bagi 78 buku secara gratis, buat iku...

Percuma Bikin Resolusi Tahun Baru!
Tips & Motivasi| 2037 times

Percuma Bikin Resolusi Tahun Baru!

Percuma bikin resolusi tahun baru. Survei oleh insideoutmastery.com mengatakan hanya 9% orang yang sukses dengan resolusi tahun barunya. So, buat apa dibikin kalau hanya buat dilanggar? Yang terjad...

Apa Itu Coaching? Pengertian, Sejarah dan Prinsip Utama Coaching Yang Perlu Dipahami!
Training Presentasi| 11673 times

Apa Itu Coaching? Pengertian, Sejarah dan Prinsip Utama Coaching Yang Perlu Dipahami!

Mari kita awali dengan sedikit kisah soal coaching. Pagi-pagi, sebelum jam kantor, Roni sudah tiba. Ia memutuskan untuk menuju ke pantry buat bikin kopi arabica kesukaannya. Waktu berjalan ke sana,...

Merindukan Pemimpin Yang Tidak Egois
Leadership| 4067 times

Merindukan Pemimpin Yang Tidak Egois

Tanggal 29 Mei 1953, hari yang bersejarah. Untuk pertama kalinya, puncak tertinggi di dunia ditaklukkan. Dunia mencatat ada dua orang yang pertama kali sampai ke Puncak Mount Everest yakni Edmund H...

Mengajarkan Kecerdasan Bisnis Melalui THE MAP Business Simulation

Mengapa ada organisasi yang memiliki sumber daya besar tetapi kalah bersaing? Mengapa ada perusahaan yang memiliki produk yang bagus tetapi gagal membaca perubahan pasar? Mengapa ada pemimpin yang ...

EQ Parenting: Menjadi Orang Tua yang Cerdas Emosinya
Parenting| 635 times

EQ Parenting: Menjadi Orang Tua yang Cerdas Emosinya

Seorang ibu bercerita dengan sedih saat mengikuti pelatihan Kecerdasan Emosional. “Pak Anthony, saya merasa ngeri dengan anak saya sendiri.” Saya terdiam sejenak. “Mengapa? Memangnya anak Anda sepe...