- info@hrexcelleny.com
- Jl. Tanah Abang V, no. 32, Jakarta Pusat 10160
Konon ada kisah menarik tentang seorang kaisar di Tiongkok kuno yang terkenal sangat ahli dalam diplomasi dan negosiasi. Banyak utusan dari kerajaan lain datang dengan persiapan matang. Mereka membawa data, strategi, bahkan tim penasihat terbaik. Tapi anehnya, berkali-kali mereka pulang dengan keputusan yang lebih menguntungkan sang kaisar.
Bukan karena kaisar itu paling keras. Bukan juga karena tentaranya paling besar. Tapi karena ia sangat paham cara memainkan emosi manusia.
Ada utusan yang dibuat terlalu nyaman dengan jamuan mewah, pujian, dan penghormatan. Ada yang dibuat lelah menunggu berhari-hari sampai emosinya turun. Ada yang dibuat marah dengan sindiran halus. Ada juga yang dibuat terlalu percaya diri sebelum akhirnya diarahkan perlahan dalam pembicaraan.
Dan saat emosi mulai mengambil alih… logika mulai melemah.
Karena itulah negosiasi hebat seringkali bukan soal siapa paling pintar bicara. Tapi siapa yang paling mampu mengelola emosi.
Orang yang Emosinya Tidak Stabil Mudah “Dihabisi”
Banyak orang berpikir negosiasi hanya butuh teknik komunikasi. Padahal salah satu faktor terbesar yang menentukan hasil negosiasi adalah kondisi emosi saat itu.
Saat terlalu marah, orang jadi impulsif. Saat terlalu takut, orang jadi mudah mengalah. Saat terlalu sedih, orang kehilangan ketegasan. Saat terlalu senang, orang jadi lengah.
Dan semua kondisi itu bisa dimanfaatkan oleh negosiator yang lihai.
Saya pernah mendengar cerita dari seorang rekan yang diutus perusahaan untuk melakukan negosiasi di luar negeri. Sesampainya di sana, ia dijamu luar biasa. Diajak makan di restoran mahal. Diajak menikmati jamuan makan malam. Diperlakukan seperti tamu kehormatan.
Awalnya terasa menyenangkan. Namun setelah itu barulah proses negosiasi dimulai. Dalam kondisi emosi yang terlalu nyaman, terlalu “dekat”, dan terlalu sungkan, ia akhirnya memberikan konsesi yang sebenarnya terlalu besar bagi perusahaannya.
Saat cerita itu dibagikan, salah satu senior berkata: “Itu bukan sekadar jamuan. Itu bagian dari negosiasi.”
Dan memang sering begitu. Negosiator hebat tahu bahwa manusia yang emosinya sudah berubah akan mengambil keputusan berbeda.
Saat Terlalu Ngebet, Kita Kehilangan Akal Sehat
Salah satu jebakan terbesar dalam negosiasi adalah terlalu ingin deal.
Karena saat seseorang terlalu ngebet mendapatkan kesepakatan, ia mulai kehilangan objektivitas. Ia mulai takut kehilangan peluang. Takut ditolak. Takut gagal.
Dan rasa takut itu sering membuat orang jadi terlalu cepat setuju, terlalu banyak mengalah, atau memberikan konsesi berlebihan.
Negosiator licik bisa mencium hal seperti ini dengan cepat.
Mereka tahu kapan lawan bicara mulai emosional. Mereka tahu kapan seseorang mulai panik. Mereka tahu kapan orang mulai takut kehilangan deal.
Dan di titik itulah permainan dimulai. Karena dalam negosiasi, orang yang paling “butuh” sering jadi pihak yang paling lemah.
EQ Membantu Kita Tetap Tenang Saat Ditekan
Dalam pelatihan EQ for Negotiator, salah satu hal penting yang sering dibahas adalah kemampuan menjaga emotional balance.
Negosiator yang baik bukan berarti tidak punya emosi. Tapi mampu mengelola emosinya.
Ia tetap tenang saat ditekan. Tetap jernih saat dipuji. Tetap objektif saat dibujuk. Dan tetap stabil saat suasana mulai memanas.
Karena begitu emosi mengambil alih penuh, kualitas keputusan biasanya mulai turun.
Maka negosiator yang matang biasanya tidak mudah terpancing. Tidak terlalu reaktif. Tidak terlalu defensif. Dan tidak terlalu cepat menunjukkan “kebutuhan”-nya. Mereka belajar menjaga poker face emosional.
Jangan Membuat Lawan Merasa “Dihabisi”
Ini juga prinsip EQ yang sering dilupakan.
Banyak orang bangga kalau menang telak dalam negosiasi. Merasa hebat karena berhasil menekan lawan sampai habis.
Padahal kemenangan seperti itu sering tidak bertahan lama.
Lawan yang merasa dipermalukan atau dihancurkan biasanya menyimpan luka emosional. Dan suatu hari, hubungan itu bisa pecah.
Negosiator yang matang justru paham bagaimana membuat lawan tetap merasa dihargai.
Kadang dalam negosiasi, orang tidak hanya ingin untung. Mereka juga ingin merasa dihormati. Ingin merasa didengar. Ingin merasa tetap punya martabat.
Karena itu negosiasi yang sehat bukan sekadar win. Tapi bagaimana menciptakan sustainable relationship.
Bahkan ada negosiator senior yang berkata, “Kalau lawan merasa terlalu kalah… sebenarnya kita juga kalah.”
Negosiasi Bukan Cuma Adu Pintar. Tapi Adu Kematangan Emosi
Hari ini banyak orang belajar teknik negosiasi. Belajar closing. Belajar persuasi. Belajar membaca bahasa tubuh.
Semua itu penting.
Tapi sering ada satu hal yang justru paling menentukan adalah..kemampuan mengelola diri sendiri.
Karena lawan paling berbahaya dalam negosiasi kadang bukan orang di depan kita. Tapi emosi kita sendiri.
Marah yang tak terkendali. Takut kehilangan deal. Terlalu haus pengakuan. Terlalu ingin menang. Atau terlalu senang sampai kehilangan kewaspadaan.
Dan mungkin itulah sebabnya… negosiator hebat biasanya bukan orang paling berisik di ruangan.
Tapi orang yang paling tenang mengendalikan dirinya sendiri.
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| Website | : | www.hrexcellency.com |
