- info@hrexcelleny.com
- Jl. Tanah Abang V, no. 32, Jakarta Pusat 10160
Inilah refleksi akhir tahun dari salah satu seminar dimana tim HR Excellency menjadi salah satu narasumber utamanya. Seminar nasional yang penitianya memghadirkan menteri tersebut membahas satu kegelisahan kolektif. Isinya? Tahun 2026 masih terasa seperti kabut. Dunia bisnis masih dibayangi ketidakpastian ekonomi global. Dunia kerja berubah cepat. Teknologi berlari lebih kencang dari kesiapan mental banyak orang.
Dalam seminar itu kami di HR Excellency menyampaikan satu pesan yang kedengarannya kurang populer. Intinya, di HR Excellency kami tidak mengajarkan sekadar berpikir positif. Kami mengajarkan berpikir antisipatif. Anticipation thinking! Prinsipnya? “Berharap yang terbaik sambil sungguh sungguh bersiap menghadapi yang terburuk.”
Di titik inilah filsafat Stoik, yang sudah berabad-abad eksis, menjadi sangat relevan.
Sejarah filsafat Stoik itu menarik. Stoik tidaklah lahir dari ruang yang nyaman. Ia lahir dari ketidakpastian hidup. Lahir dari pemikiran orang yang terbuang, lahir dan dikembangkan bekas budak. Hingga dipraktekkan seorang kaisar Romawi. Para pemikirnya seperti Marcus Aurelius, Epictetus, dan Seneca hidup di masa perang, pengasingan, pengkhianatan politik, dan kehilangan. Mereka tidak menjual harapan palsu. Mereka mengajarkan ketenangan yang lahir dari kejernihan berpikir. Disitulah filosofi stoik hadir.
Stoik digandrungi hari ini karena banyak orang lelah dengan narasi motivasi yang hanya berkata semua akan baik baik saja. Realitas biasanya berkata sebaliknya. Hidup tidak selalu adil. Bisnis tidak selalu stabil. Karier tidak selalu naik. Stoik memberi kerangka mental untuk tetap tegak meski dunia tempat kita berpijak, berguncang.
Relevan dengan kecerdasan emosi (EQ), stoik mengajarkan satu fondasi penting. Kita tidak bisa mengendalikan peristiwa. Kita bisa mengendalikan respons emosional kita. Di sinilah emosi tidak ditekan. Emosi dikelola.
Belajar Dari Kisah James Stockdale Yang Mengagumkan
Adakah kisah dan cerita terkait filosofi Stoik di atas yang bisa jadi bahan inspirasi? Ada! Disini, kami ingin ceritakan kisahnya James Stockdale. Dia adalah perwira Angkatan Laut Amerika Serikat yang ditembak jatuh di Perang Vietnam dan ditahan selama lebih dari tujuh tahun di kamp tawanan perang yang brutal. Bayangkan, tujuh tahun! Ia ditempatkan di camp tawanan paling brutal yang dikeal dengan nama sindiran “Hanoi Hilton”.
Ia disiksa. Dipenjara dalam isolasi. Dipaksa hidup tanpa kepastian kapan bebas. Teman-temannya yang tadinya optimis, tumbang satu per satu. Tapi ia tetap bertahan. Fisik dan mental.
Apa yang membuatnya bertahan bukanlah optimisme kosong. Ia adalah murid filsafat Stoik. Ia pernah kuliah stoik. Ia ingat terutama ajaran Epictetus tentang dikotomi kendali. Apa yang berada di luar kendali harus diterima. Apa yang ada dalam kendali harus dijaga dengan kehormatan. Ia tak belajar berpikrlir positif. Nyawanya bisa hilang, kapan saja. Ia hidup dari hari ke hari.
Apa yang Stockdale lakukan? Stockdale tidak berkata pada dirinya bahwa semuanya akan baik baik saja. Ia berkata jujur. Ini bisa sangat buruk. Ini bisa berlangsung lama. Stockdale mengatakan begini. “Saya tidak akan menyerahkan kendali atas pikiran saya.” Tahu nggak, ini pula yang menginspirasi Nelson Mandela saat ia dipenjara.
Belakangan, inilah yang kemudian dikenal sebagai Stockdale Paradox. Jangan menyangkal realitas pahit. Tapi, jangan pula kehilangan keyakinan bahwa tubuh dan mental kita sebenarnya akan bisa bertahan, kalau kita mau. Stockdale membayangkan kemungkinan terburuk, dan menyiapkan dirinya menghadapi itu. Bahkan, pikiran mentalnya sudah menyiapkan dirinya kalaupun harus sampai belasan tahun. Hebat kan? Justru ia menyaksikan teman-temannya yang berharap bahwa diplomasi Amerika akan segera membebaskan mereka dalam beberapa bulan lagi. Justru yang berharap, akan ada aksi heroik buat membebaskan mereka. Mereka-mereka yang terlalu optimislah yang tumbang duluan, secara mental.
Ini adalah kecerdasan emosi dalam bentuk paling matang. Bersiap buat yang terburuk!
Banyak orang salah paham. Stoik dianggap dingin dan tanpa perasaan. Padahal justru sebaliknya. Stoik sangat sadar akan emosi. Marah. Takut. Cemas. Semua diakui. Tapi tidak dibiarkan mengambil alih kewarasan dan akal sehat kita.
Dalam konteks kerja, Stoik mengajarkan jeda. Ketika target gagal. Ketika atasan berubah arah. Ketika pasar anjlok. Reaksi yang impulsif adalah musuh terbesar. Stoik melatih kita bertanya. Apakah ini dalam kendali saya. Jika tidak, energi tidak perlu dihabiskan untuk mengeluh.
Sebagai contoh, saya ingin ceritakan satu kisah anonim dari sesi coaching yang kami lakukan kepada klien kami di HR Excellency. Seorang pimpinan unit bisnis perbankan nasional terkemuka, menghadapi penurunan bisnis yang tajam tahun ini. Timnya mulai panik. Rumor PHK mulai menyebar. Banyak yang kehilangan fokus dan mulai menyalahkan keadaan.
Si leader yang dicoaching dan pernah ikut training EQ ini memilih pendekatan ala stoik. Ia mengakui situasi buruk secara terbuka. Tidak menutup nutupi. Tidak menjual janji palsu. Tapi ia juga mengajak tim menyusun skenario terburuk. Penghematan. Reskilling. Opsi cadangan karier. Ia berkata kita tidak tahu apa yang terjadi enam bulan ke depan. Tapi kita tahu apa yang bisa kita siapkan hari ini. Itu terjadi di pertengahan Juli 2025.
Anehnya justru setelah itu tim menjadi lebih tenang. Tim bisa bekerja lebih keras. Dan akhir tahun ini, memang targetnya tidak tercapai 100%. Sekitar 90an persen terwujudnya. Tapi, hasil ini sudah jauh lebih baik dari skenario terburuk yang sudah digambarkan manajemen kepada mereka. Kisah ini mengajarkan satu hal. Ketenangan tidak lahir dari kepastian. Tapi dari keberanian menghadapi kenyataan serta menyiapkan diri menghadapi hal terburuk.
Bagaimana Memasuki Tahun 2026?
Bayangkanlah begini. Anda akan berlayar di lautan 2026 yang cuacanya tidak bisa diprediksi. Berpikir positif hanya berkata laut akan tenang dan baik-baik. Ini seperti menipu diri.
Stoik justru mengajarkan bahwa laut bisa ganas. Maka kapal harus diperkuat. Awak perlu dilatih dan dipersiapkan. Kompas dicek. Perahu sekoci sangat perlu disiapkan.
Inilah berpikir antisipatif. Inilah mental crisis proof.
Dalam banyak seminar kami tekankan satu hal. Berpikir positif yang berlebihan bisa membuat orang terlepas dari realitas. Orang berhenti bersiap. Berhenti waspada. Berhenti belajar dari risiko.
Stoik mengajarkan keseimbangan emosi. Harapan tetap ada. Tapi tidak membutakan. Optimisme tetap hidup. Tapi bukan yang naif.
Nah, memasuki 2026, kita butuh pemimpin dan profesional yang tidak mudah panik tapi juga tidak lengah. Orang yang mampu berkata jujur pada diri sendiri. Kalaupun berat. Mereka mengatakan, “Saya sudah siap”. Syukur-syukur justru hal terbaiklah yang terjadi.
Akhirnya, kita katakan. Tahun 2026 tidak akan berjalan mengikuti ramalan siapa pun. Ia akan datang dengan ceritanya sendiri. Yang bisa kita pilih hanyalah sikap mental kita.
Seperti yang diajarkan stoik dan dibuktikan oleh James Stockdale. Kita tidak selalu bisa mengendalikan badai. Tapi kita selalu bisa menjaga kemudi. Dan di situlah kecerdasan emosi kita yang sesungguhnya, justru diuji.
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| Website | : | www.hrexcellency.com |
