- info@hrexcelleny.com
- Jl. Tanah Abang V, no. 32, Jakarta Pusat 10160
Ada kisah seorang pria yang dicintai dengan tulus oleh seorang wanita. Mereka saling mengasihi, hingga akhirnya bertunangan dan merencanakan pernikahan. Semua tampak sempurna. Namun menjelang hari pernikahan, pria itu tiba-tiba kabur. Ia malah menikah dengan seorang wanita lain yang kondisinya jauh di bawah tunangannya. Alasannya membuat orang terdiam. “Aku merasa tidak pantas buatnya,” katanya pelan.
Ada juga kisah lainnya. Seorang wanita karier yang cerdas dan sukses. Ia menikah dengan pria yang awalnya tampak baik, namun ternyata sering melakukan kekerasan dalam rumah tangganya. Keluarga yang melihat penderitaannya memaksa ia untuk berpisah, hingga akhirnya ia berani bercerai. Setelah bebas, sebenarnya banyak pria baik yang mendekatinya. Ada seorang yang sungguh-sungguh mengasihinya dengan tulus, siap menerima dirinya apa adanya. Tetapi entah mengapa, ia justru memilih pria lain yang kaya raya namun juga kasar, bahkan melakukan kekerasan seperti suami pertamanya. Seolah-olah ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri, “Beginilah memang nasib saya. Saya pantas mendapat yang seperti ini.”
Inilah yang disebut termostat mental. Sama seperti pria yang kabur dari tunangannya karena merasa tidak pantas, begitu juga wanita ini yang tanpa sadar memilih jalan hidup yang terus melukai dirinya. Bukan karena tidak ada pilihan lain, melainkan karena keyakinan di dalam dirinya berkata ia tidak pantas diperlakukan dengan penuh cinta dan penghargaan.
Bayangkan sebuah termostat yang mengatur suhu ruangan. Jika suhu terlalu panas, termostat menurunkannya. Jika terlalu dingin, ia menaikkannya kembali. Fungsinya menjaga kestabilan. Begitu juga dengan diri kita. Termostat mental mengatur tingkat kelayakan yang kita rasakan.
Sayangnya, banyak orang hidup dengan termostat mental yang rendah. Sejak kecil mereka dibesarkan dalam kritik, penolakan, atau rasa tidak dihargai. Maka terbentuklah keyakinan dalam diri bahwa mereka tidak pantas menerima cinta yang tulus, tidak pantas mendapatkan kekayaan besar, tidak pantas diperlakukan dengan baik, bahkan tidak pantas bahagia. Akibatnya, ketika sesuatu yang baik datang, mereka menolaknya atau merusaknya sendiri.
Lihatlah kisah nyata para pemenang lotere. Banyak dari mereka yang mendadak kaya raya. Namun hanya dalam hitungan tahun, sebagian besar justru kembali miskin. Uang yang begitu banyak tidak mampu mereka kelola. Ada yang menghamburkan untuk foya-foya, ada yang dimanfaatkan orang terdekat, ada yang jatuh ke dalam hutang. Mengapa bisa begitu? Karena batin mereka berkata, “Aku tidak pantas punya uang sebanyak ini.” Termostat mental mereka menolak kelimpahan yang tiba-tiba datang.
Begitu pula dengan seorang pebisnis sukses. Ia mampu membangun perusahaan dari nol hingga besar. Namun ketika memilih teman dekat, ia justru sering dikhianati. Setiap kali ada orang yang benar-benar tulus ingin menemaninya, ia curiga dan menjauh. Sebaliknya, ia justru merasa pantas ditemani oleh mereka yang memperalat dan menikamnya dari belakang. Lagi-lagi, termostat mental bekerja. Ia merasa tidak pantas diperlakukan dengan ketulusan.
Ciri Orang dengan Termostat Mental Bermasalah
Ada beberapa tanda yang bisa kita kenali pada orang dengan termostat mental bermasalah.
Pertama, merasa tidak pantas dengan kekayaan. Saat tiba-tiba mendapatkan uang banyak, ia justru menghamburkannya karena batinnya berkata bahwa uang sebanyak ini tidak layak dimilikinya.
Kedua, merasa tidak pantas dicintai. Ia menolak cinta tulus dan malah berakhir dengan pasangan yang memanipulasi dan merendahkannya.
Ketiga, merasa tidak layak bahagia. Saat hidup memberinya kebahagiaan, ia justru takut dan berkata dalam hati bahwa sebentar lagi pasti datang kesulitan.
Keempat, menolak persahabatan yang tulus. Ia curiga dengan orang yang benar-benar peduli padanya, tapi justru mendekat pada teman yang memperalatnya.
Kelima, merasa tidak berhak sukses. Ketika sukses diraih, ia malah ketakutan dan melakukan tindakan yang menghancurkan keberhasilannya sendiri.
Keenam, selalu merasa dirinya kurang. Sepintar apapun atau sekaya apapun, hatinya berkata bahwa ia masih tidak cukup.
Ketujuh, membatasi diri dari peluang besar. Ketika kesempatan emas datang, ia mundur dengan alasan bahwa itu bukan untuk orang seperti dirinya.
Kedelapan, membiarkan diri diperlakukan buruk. Ia menerima hinaan dan perlakuan tidak adil karena percaya bahwa dirinya memang pantas diperlakukan rendah.
Kesembilan, merasa bersalah menerima kebaikan. Ketika orang lain memberi hadiah atau pertolongan, ia menolak atau merasa sungkan berlebihan.
Kesepuluh, menyabotase diri di titik puncak. Saat hampir mencapai level terbaik, ia justru membuat keputusan yang merusak segalanya.
Kabar baiknya, termostat mental bisa diatur ulang. Kita bisa belajar menaikkan rasa layak dalam diri. Caranya dengan mulai menyadari suara batin yang berkata “Aku tidak pantas”, lalu menggantinya dengan penerimaan diri. Belajar berkata, “Aku layak dicintai, aku layak bahagia, aku layak sukses.”
Kita juga bisa melatih kebiasaan baru. Setiap kali menerima kebaikan, belajarlah menerimanya dengan senyum dan rasa syukur. Setiap kali sukses kecil tercapai, rayakanlah sebagai bukti bahwa diri ini pantas. Semakin sering dilakukan, semakin tinggi setelan termostat mental kita.
Sebagai refleksi terakhir. Ingatlah, ada banyak orang gagal ataupun tak bahagia bukan karena tidak ada peluang. Tetapi karena termostat mentalnya yang sering berkata, “Itu bukan untukmu.”
Pada akhirnya, kita hanya akan menerima sebesar yang kita percaya layak untuk kita terima. Karena itu, beranilah menaikkan setelan termostat mental Anda.
Hidup tidak pernah salah memberi, seringkali kitalah yang sebenarnya menolak untuk menerimanya.
| Telp. | : | (021) 3518505 |
| (021) 3862546 | ||
| Fax. | : | (021) 3862546 |
| : | info@hrexcellency.com | |
| Website | : | www.hrexcellency.com |
