Anthonydiomartin
Salam Antusias!
Hi..hello! Terima kasih ya telah berkunjung ke website HR Excellency - salah satu lembaga training terkemuka di Indonesia untuk pengembangan personal, tim dan organisasi. Jika ada pertanyaan, kebutuhan dan permintaan informasi silakan menghubungi kami.

Inilah 7 Manfaat Yang Diperoleh Dari Training Kecerdasan Emosi (EQ)!

69 | Oct 30, 2019 | HR Excellency | Emotional Intelligence | Tips & Motivasi
Inilah 7 Manfaat Yang Diperoleh Dari Training Kecerdasan Emosi (EQ)!

Sebenarnya konsep tentang Kecerdasan Emosional (EQ) telah berkembang sejak tahun 90an awal. Istilah ini sebenarnya pertama kapi diperkenalkan oleh Peter Salovey dari Yale University serta John Mayer dari New Hampshire University. Lantas di tahun 1995, muncul Daniel Goleman yang membuat istilah Kecerdasan Emosional, atau disingkat EI (emotional intelligence) ataupun EQ (emotional quotient) menjadi terkenal. Goleman membuat istilah EQ mendunia lewat bukunya yang fenomenal:  “Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ”. What is emotional intelligence? (Kecerdasan Emosional: Mengapa Itu Lebih Penting Daripada IQ).

So, EQ sudah mencapai usia 25 tahun. Namun hingga sekarang masih banyak pertanyaan diseputaran soal EQ.

Dan salah satu pertanyaan yang sering kali ditanyakan oleh pimpinan dan organisasi adalah: “Training Kecerdasan Emosi (EQ) itu manfaatnya buat apa ya?”. “Perlukah training EQ itu buat karyawan dan pimpinan di tempat kami?”

Hal ini mengingatkan kami pada seorang peserta yang diikutkan dalam program training Kecerdasan Emosional (EQ) di lembaga kami di HR Excellency. Peserta ini adalah seorang leader milenial yang sangat cerdas. Namun problemnya satu, dia sangat penuntut, tidak sabaran dan semua orang harus mengikuti “mood”nya dia. Bahkan, terhadap orang yang tidak disukai si pemimpin ini, ia berkata kepada HRD, “Besok, saya tidak ingin melihat orang ini lagi!”. Timnya pun banyak yang tidak betah, dan banyak yang keluar. Hingga akhirnya, pihak komisaris perusahaan memutuskan untuk mengadakan program EQ, “EQ for Leader”. Dalam program yang ini, si pimpinan ini mendapatkan hasil umpan balik 360 derajat dari beberapa pihak. Plus, ia pun mendapatkan coaching khusus terkait dengan hasil tesnya. Ternyata, program ini memberikan manfaat buatnya. Beberapa minggu setelah program ini, si pimpinan ini melakukan perubahan signifikan dalam pendekatannya. Ia jadi sadar, style bicara serta ketiadaan empatinya, membuatnya tidak disukai. Padahal, banyak timnya yg bekerja mati-matian untuk mendukungnya. Kondisi di unit kerjapun berangsur-angsur membaik. Tingkat turn over timnya pun berubah drastis.

Jadi, kalau disimpulkan apa saja sebenarnya manfaat yang diperoleh dari pelatihan dan training Kecerdasan Emosional? Intinya, ada 7 manfaat penting yakni:

1. Stress Management
Stress bukanlah untuk dihilangkan. Ada jenis stress baik yang dikenal dengan istilah eustress. Dan pengelolaan emosi, erat kaitannya dengan mengelola stress menjadi sesuatu yang produktif. Ada stress karena beban kerja berlebih. Ada stress yang terjadi karena situasi dan lingkungan kerja. Hal ini bisa menjadi sumber penyakit dan justru membuat makin tidak produktif. Stress pun membuat banyak kesalahan kerja hingga jadi salah satu penyebab kecelakaan kerja.

Ada bagian dan kesadaran diri (self awareness) yang menjadi bagian dari EQ yang penting. Mereka yang cerdas emosi, tahu membaca tanda-tanda stressnya serta mengambil langkah antisipasi untuk membuat stressnya tidak berlanjut. Orang dengan EQ tinggi mampu mengelola level stresnya di tingkat yang optimal. Ketika stress, orang yang cerdas emosinya mampu mengelolanya dengan berbagai strategi yang tidak membuat stress itu hingga menimbulkan burn out (keletihan kronis karena stres yang berlebihan).

2. Mood Management
Mood adalah bagian dari perasaan yang bisa berubah-ubah. Orang seringkali menyebutnya suasana hati. Berbagai situasi, kejadian ataupun kondisi bisa membuat orang berubah-ubah moodnya. Biasanya mood banyak dipengaruhi oleh pikiran. Sayangnya, banyak yang merasa bahwa moodnya tidak bisa dikendalikan. Jadi, mood mereka seperti layangan putus, tak terkendali kemana arahnya.

Bagi seorang yang profesional, dirinya tidak dikendalikan oleh moodnya saat bekerja. Justru, dalam suasana hati apapun, ia mampu mengendalikan dirinya. Bagian terpenting dalam EQ termasuk diantaranya mood management. Bayangkanlah kalau seseorang memgatakan, “Hari ini, aku nggak bisa kerja karna moodku lagi buruk!”. Anda pasti akan mengatakan, betapa tidak profesionalnya orang itu. Salah satu belajar EQ adalah mengendalikan pikiran dengan prinsip terkenal “Think-Feel-Act” yang memungkinkan mereka mengendalikan perasaan dan mood mereka dengan mengubah cara pikir mereka.

3. Anger Management
Anger (marah), sangat dekat dengan kata danger (bahaya). Kemarahan yang tidak terekspresikan dengan baik, bisa jadi sumber malapetaka. Betapa banyak orang yang merugikan dirinya sendiri, mulai dari terluka hingga masuk penjara, gara-gara kemarahannya yang tak terkendali. Ada banyak juga kasus perusahaan dan organisasi yang dituntut gara-gara karyawannya tidak mampu mengendalikan marahnya dengan baik, kepada customernya.

Belajar EQ adalah belajar mengendalikan marah. Hingga saat ini, banyak orang yang salah berpikir karena merasa marah itu harus dihilangkan. Marah itu sendiri punya manfaat dan alasannya. Marah, terjadi karena adanya perbedaan antara harapan dengan kenyataan. Marah juga terjadi ketika hak seseorang merasa dilanggar. Jadi, daripada menghilangkan marah, EQ mengajarkan bagaimana caranya mengekspresikan marah secara cerdas (smart angry). Salah satunya, ketika marah harus berorientasi pada solusi, bukan menyakiti. Itulah pentingnya belajar EQ.

4. Energy Management
Jaman sekarang, ternyata bukan lagi jaman “time management” (manajemen waktu). Jauh lebih penting adalah energy management (?manajemen energi). Masalahnya, seseorang bisa berkerja lama tapi belum tentu ia produktif. Ini dapat diibaratkan seperti gergaji yang terus dipakai untuk menggergaji padahal mata gergajinya sudah tumpul. Karena itu, tuntutan sekarang adalah bagaiman seseorang bekerja dengan energi penuh. Atau diistilahkan, “full engagement”. Artinya, seseorang benar-benar terlibat, atau fokus. Pernahkah Anda merasakan saat betul-betul fokus? Bukankah pada saat itu pekerjaan menjadi lebih berkualitas tapi juga lebih cepat terselesaikan.

Nah, salah satu alasan belajar EQ adalah mengatasi berbagai problem emosional yang dampaknya “mengganggu kerjaan”. Telah diketahui bahwa salah satu sumber utama mengapa energi seseorang cepat habis di tempat kerja, seringkali bukan beban pekerjaannya tapi beban emosinya. Misalkan orang jarang bermasalah untuk menyelesaikan dokumen yang bertumpuk-tumpuk. Tapi, kalau terhadap dokumen itu ada rasa jengkel ditambah baru saja dimarahi atasan yang menyebalkan maka energi untuk menyelesaikan pekerjaan itu, menjadi jauh lebih besar. Juga lebih meletihkan.

5. Relationship Management
Hubungan dan pertemanan, adalah ibarat sebuah tabungan. Dan tabungan itu perlu dikelola supaya saldonya tidak minus. Ketika tabungan masih ada, maka masih ada dana yang bisa ditarik dan dipergunakan. Tapi, ketika minus, maka tidak ada dana yang bisa diandalkan. Begitu pula kita mengelola suatu interaksi, baik di rumah ataupun di tempat kerja.

Orang yang EQnya bermasalah seringkali melakukan tindakan atau sikap yang justru membuat rekening emosinya dengan orang lain, berkurang. Bahkan, seringkali kita melihat orang yang EQnya kurang, yang saldo hubungannya minus. Pada saat minus, orang-orangpun malas dan menghindar. Sebaliknya, orang-orang berEQ tinggi dengan saldo hubungan yang positif, menciptakan suasana yang menyenangkan. Ketika kesulitan, orang-orangpun dengan sukacita ingin membantunya. Orang-orang berEQ tinggi pun tidak banyak menciptakan konflik dan masalah dengan orang lain. Hal ini membuatnya mampu membangun suasana tim, yang menyenangkan.

6. Difficult People Management
Pepatah mengatakan, “Yang lebih dewasa, haruslah yang mengalah. Tidak ada yang bisa diharapkan dari seorang anak kecil”. Terkadangpun, kita pun akan menghadapi orang-orang yang sulit dalam kehidupan kita. Mereka berperilaku kadang seperti anak kecil. Mereka mengeluh, mengata-ngatai, membully, bersikap buruk hingga sulit diajak bicara alias egois. Karena itulah, biasanya orang sulit seperti itu, tidak ada yang mau berurusan dengannya.

Namun, belajar EQ berarti membuat kita lebih matang dan dewasa. Termasuk menghadapi berbagai jenis orang sulit tersebut. Orang dengan EQ tinggi mampu membuat dirinya tak mudah terpancing. Juga tidak terlalu mengambil hati (take it too personally) kalimat-kalimat orang sulit. Tidak mengherankan kalau kita perhatikan pekerjaan seperti customer service atau guru yang seringkali harus berhadapan dengan orang yang sulit, biasanya menuntut orang-orang yang EQ-nya tinggi.

7. Communication Management
Komunikasi yang baik selalu memperhatikan 2 sisi yakni konten serta konteksnya. Konten artinya apa yang harus dikatakan. Konteks berarti kapan dan dimana harus mengucapkannya. Kadangkala, ketersinggungan terjadi ketika orang menerima berita dengan kalimat yang salah. Ataupun terjadi lantaran momennya tidak tepat. Saya teringat dengan pengalaman para dokter di pedalaman Papua yang mengatakan kepada salah satu suku disana, “Minumlah obat ini supaya sembuh”. Ternyata obatnya tidak diminum. Namun, ada seorang dokter lain yang lebih cerdas emosinya lantas berkata,”Minumlah obat ini, supaya bapak bisa ambil sagu lagi”. Ternyata justru setelah mendengar kalimat itu, obatnya rajin diminum. Bahasa ini pas dengan kondisi mereka!

Seorang dengan EQ yang tinggi, intinya mampu menentukan strategi komunikasi apa yang harus dipakai. Ia mengenali lawan bicaranya, serta menyesuaikan gaya serta cara penyampaiannya sehingga pas untuk didengarkan lawan bicaranya. Para komunikator ulung, negosiator ulung ataupun pembicara, semestinya memiliki kemampuan EQ tinggi yang membuatnya mampu berkomunikasi dengan pihak manapun.

Demikianlah beberapa poin penting ini, semoga membuat kita semakin menyadari bahwa EQ yang tinggi ternyata memberi banyak manfaat. Jack Ma, sang pendiri group Alibaba yang terkenal bahkan berkata, “Inilah era dimana kita semakin membutuhkan EQ. Kita tak akan bisa mengalahkan mesin dalam hal IQ”. Begitulah, di era sekarang, kalau kita mau lebih cerdas dari mesin, maka kita membutuhkan EQ. EQlah yang akan membuat manusia menjadi tidak kadaluarsa, yang membuat orang tak mudah tergantikan oleh sistem atau mesin!

Salam Antusias!

Keyword:
#kecerdasan emosional; #kecerdasan emosi; #hr excellency; #cerdas emosi; #training EQ; #training EQ Indonesia; #pelatihan EQ; #anger management; #anthony dio martin

Share this:

You might also like this:

Pentingnya Kecerdasan Emosi Saat Menghadapi Presentasi

Pentingnya Kecerdasan Emosi Saat Menghadapi Presentasi

Cara Super Meningkatkan Kecerdasan Emosional Kita (Part 1)

Cara Super Meningkatkan Kecerdasan Emosional Kita (Part 1)

Cara Super Meningkatkan Kecerdasan Emosional Kita (Part 2)

Cara Super Meningkatkan Kecerdasan Emosional Kita (Part 2)

Berbagai Salah Kaprah Orang Soal Training Kecerdasan Emosional!

Berbagai Salah Kaprah Orang Soal Training Kecerdasan Emosional!

Ternyata Memasang Foto Orang Yang Kita Cintai Dapat Tingkatkan Gairah Kerja

Ternyata Memasang Foto Orang Yang Kita Cintai Dapat Tingkatkan Gairah Kerja

Ingin Tidak Gampang Stress? Kembangkan Kecerdasan Emosional Yang Baik

Ingin Tidak Gampang Stress? Kembangkan Kecerdasan Emosional Yang Baik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *