FILM HOROR: BAGAIMANA TRIK FILM HOROR MEMAKAI ILMU NEUROSCIENCE DAN PSIKOLOGI UNTUK MENAKUT-NAKUTI KITA?

24 | Mar 5, 2018 | HR Excellency | Tips & Motivasi
FILM HOROR: BAGAIMANA TRIK FILM HOROR MEMAKAI ILMU NEUROSCIENCE DAN PSIKOLOGI UNTUK MENAKUT-NAKUTI KITA?

Apa film horror terakhir yang Anda saksikan?
Eh, mungkin pertanyaannya salah. Sukakah Anda dengan film horror?
Kalau iya, apa yang membuat Anda menyukainya?

Yang jelas, belakangan ini dengan kecanggihan berbagai teknik sinemotografi, film horor pun dari waktu ke waktu pun menjadi semakin menyeramkan. Makin bikin penasaran dan tegang, tepatnya!

Sebut saja Danur. Dikisahkan dalam film ini, ketika si Risa berulang tahun dan mengharapkan punya teman yang bisa menemaninya. Saat berbagai kejadian aneh terjadi di rumahnya, penontonpun mulai diciptakan ketegangannya. Selanjutnya, Risa memang dia mendapat banyak teman, tetapi semuanya hantu. Dan keteganganpun makin berlanjut hingga selesai. Itulah isinya Danur. Hasilnya? Total, penonton Danur dikabarkan berjumlah 2,7 juta orang. Tapi, ada yang lebih dahsyat ternyata. Yakni film Pengabdi Setan. Film yang mengisahkan seorang mantan penyanyi yang menjadi pengikut sekte setan ini rupanya dianggap lebih seru. Penontonnya bahkan menembus 4,1 juta orang. Ini menjadikan film Pengabdi Setan sebagai film terlaris no.2 di tahun 2017 lalu.

Dari Hollywood, tentu saja kita ingat dengan beberapa film horor yang masih terasa “kesan menakutkannya” setelah ditonton. Sebut saja Conjuring. Atau, film Six Sense, yang dulu pernah dibintangi oleh Bruce Willis. Atau, yang terbaru yang memecahkan rekor pendapatan tertinggi, yakni “It”. Dikatakan, pendapatan film “It” mencetak rekor terbaru yakni 700,2jt dollar. Yang unik, film ini memang sejak awal menampilkan kontradiksi emosi yang aneh. Badut, yang biasanya dikaitkan dengan lucu dan menyenangkan, justru merupakan jadi sumber terror yang menakutkan. Ide yang brillian!

Dan sedikit info untuk Anda. Film horror adalah salah satu film yang senang dibuat oleh para produser dan sutradara. Mengapa? Di Indonesia sendiri, film genre horror adalah nomer dua setelah film drama. Sekitar 20,2 % film kita saat ini bertema horror (https://kumparan.com/@kumparanhits/menengok-10-film-indonesia-terlaris-dalam-10-tahun-terakhir Hal ini tentunya, tak lepas dari permintaan pasar dan kebutuhan akan film horror yang tinggi. Tapi, kok mau-maunya ditakuti?

Mengapa Membayar Untuk Ditakut-Takuti?

Jadi, mengapa sih orang rela membayar mahal-mahal hanya untuk ditakut-takuti?

Mari kita mulai dari penjelasan yang paling mendasar.
Ingatkah Anda? Rasa takut merupaan salah satu emosi dasar yang dibawa oleh manusia sejak lahir. Menurut Paul Ekman, emosi manusia terbagi 6 yang dikenal “The Six Basic Emotion”, mencakup: rasa senang, sedih, takut, marah, jijik dan terkejut.

Nah, sadarkah Anda semua, emosi dasar ini terkadang mulai banyak dieksploitasi industri-industri tertentu untuk menghasilkan banyak uang. Emosi jijik, katakanlah. Tahukah Anda bahwa ternyata penggemar acara “Fear Factor” yang kadang menampilkan uji nyali orang memakan serangga atau cairan menjijikkan, membangkitkan sensasi tertentu, dan ternyata banyak orang menyukainya? Tak mengherankan kalau acara Fear Factor termasuk yang ratingnya tinggi, pada masanya!

Kembali ke emosi takut dan terkejut yang ditimbulkan oleh film horor. Faktanya, meskipun ini tergolong emosi tidak menyenangkan (unpleasant emotion), tetapi tetap bikin orang tertarik (bahkan ketagihan) untuk mengalaminya. Inilah yang membuat orang rela merogoh duitnya.

Selain itu, perasaan takut, penasaran, terkejut memenuhi salah satu dari 6 kebutuhan dasar-nya Anthony Robbins, yakni ketidakpastian (uncertainty). Intinya, pada dasarnya orang punya kebutuhan untuk terbebas dari sesuatu yang rutin dan monoton. Nah, alur atau plot film horror dengan suspens yang bikin kaget, sulit diprediksi merupakan bagian dari pemenuhan basic need “uncertainty” ini. Tak mengherankan, sampai kapanpun sesuatu yang berbau horror, terus masih akan dinikmati selama manusia masih hidup di muka bumi ini. Bahkan, kalau kita perhatikan. Bukan hanya dalam bentuk film, berbagai rumah hantu, atau tamasya ke Dangeon Castle ala “Rumah Hantu” yang berisi beraneka ragam hantu yang menakutkan, pun masih tetap ramai dikunjungi. Bahkan, ada lho berbagai paket jalan-jalan “Tamasya ke Rumah-rumah Berhantu” yang juga laris jadi salah satu paket wisata. Jadi, intinya orang memang tidak segan-segan membayar hanya untuk ditakuti!

Penjelasannya Neurocinematics

Ada sebuah ilmu yang sedang berkembang saat ini, namanya Neurocinematics. Inilah ilmu yang mencoba mengkaitkan antara ilmu tentang otak manusia dengan pengalaman menonton film. Salah satu pelopornya adalah  Michael Grabowski, seorang associate professor di bidang komunikasi di Manhattan College serta penulis “Neuroscience and Media: New Understandings and Representations.”

Ilmu inilah yang membantu psikologi menjelaskan apakah yang terjadi di otak manusia saat mereka merasa takut, ketika nonton film horor.

Intinya, pada saat menonton film horror. Ada bagian korteks, yang berisi penalaran logis yang dimatikan otomatis oleh otak kita. Jadi, meskipun kita tahu bahwa semua cerita dan kisah horror yang kita nonton itu hanya fiksi belaka. Tetapi, tatkala kita menonton film horror, tetap saja terjadi proses “bypass” dimana, aliran otak kita langsung menyentuh bagian amygdala, yang menciptakan rasa tegang, atau takut.  Jadi, pada saat menonton, kadang orang begitu terhanyutnya, sampai-sampai penontonpun bisa berteriak, meloncak ataupun menutup mata serta histeris, padahal hanya menyaksikan film saja. Hal ini karena, bagian kesadaran kita “dimatikan” saat kita mengalami kembali ketegangan dan rasa takut tersebut.

Inilah yang kemudian disadari oleh industry film hantu. Lantas, mereka pun berlomba-lomba menciptakan hantu yang semakin nyata, untuk menciptakan suasana ketegangan tersebut. Bahkan, ke depannya diramalkan industri film hantu akan semakin menegangkan dengan lahirnya teknologi virtual reality (VR) yang bisa menciptakan suasana yang makin mendekati realita.

Psikologinya Penonton Film Horor

Berbagai penelitian lebih lanjut tentang perilaku manusia juga mencoba menjelaskan mengapa kita suka film horror. Salah satunya adalah adanya karena menonton film horor membuat kita bersimpati dengan pemerannya. Lantas, kita pun menjadi lega tatkala di akhir film tersebut, orang baiklah yang menang. Ternyata, banyak penonton horor yang lebih menyukai film horror dengan ending yang jelas dimana hantunya berakhir, daripada hantu yang terus-menerus hidup kembali. Tatkala disurvei, penonton horor yang menonton film horror dengan “ending yang menggantung”, memang lebih sulit melupakan filmnya. Tetapi, ketika dimintai memberikan rating, mereka lebih suka film horror dengan ending yang baik, yang positif. Tak mengherankan, jika kita perhatikan film-film horror box office dunia pun, rata-rata memiliki ending yang jelas, bukannya yang “gantung”.

Akhirnya, kesimpulan psikologi yang juga menarik soal film horor adalah penjelasannya Dr. Glenn Walters yang ditulis tahun 2004 di Journal of Media Psychology. Intinya, ada 3 alasan penting yang membuat mengapa kita menyukai film horor. Pertama-tama, adalah karena ketegangan yang tercipta (ada misteri, kejutan, terror, kekagetan). Kedua, karena relevan (bisa jadi karena relevan untuk budaya, situasi bahkan pengalaman orang yang menonton). Terakhir, ini yang agak membingungkan, tapi terbukti, yakni pada akhirnya orang tahu bahwa kisah itu fiktif.  Hal ini dikatakan menarik karena apa? Karena penonton film horor tatkala diminta untuk melihat film nyata yang menampilkan monyet yang dikuliti kepalanya, anak yang kulitnya disayat, ketika diberitahu bahwa itu adalah film nyata, langsung tidak mau melanjutkan menonton film itu. Jadi, aspek tidak nyatalah yang kadang membuat orang tetap bersedia menonton film hantu.

Karena itulah, pembuat film horror, cukup cerdik. Mereka memadukan dua unsur relevan dan tidak nyata dengan cara yang keren! Bagaimana caranya? Biasanya, di awal-awal film tertulis “inspirasi dari kisah nyata”. Tapi, ujung-ujungnya kalau kita perhatikan, sebenartnya banyak bumbu-bumbu fiktif yang dibuat menjadi “lebay”. Kalau kita coba telusuri kisah aslinya, mungkin tidak seheboh demikian. Tapi, justru itulah, yang disukai orang.

So, intinya, bersiap-siaplah untuk film-film horror dengan teknik-teknik yang akan semakin mengeksploitasi psikologi dan pengalaman rasa takut Anda di masa yang akan datang!

4 Tipe Penonton Film Horor, Manakah Anda?

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *