Anak Super Sibuk!

141 | May 18, 2020 | HR Excellency | Tips & Motivasi
Anak Super Sibuk!

Dalam iklan-iklan dengan anak-anak sebagai bintangnya, kita melihat gambaran kehidupan anak yang sempurna. Mereka bermain di taman, berlari, berkejaran, mengamati kupu dan tanaman. Pokoknya sempurna!

Tetapi, realita anak sekarang tidaklah demikian. Kebanyakan anak sekarang dijejeli dengan berbagai kursus dan aktivitas. Perhatikan aktivitas anak seorang rekan saya, “Anak saya pulang sekolahnya sekitar jam 3. Masih les matematika, ada les Inggris di waktu lain. Sabtunya ada les piano dan Mandarin”. Wow, kelihatannya gambaran anak yang sukses saat ini tengah bergeser. Anak yang sukses adalah anak yang hebat dalam bebagai prestasinya, sehingga orang tua merasa perlu membekali anak-anaknya dengan berbagai aktivitas.

Tapi apa hasilnya? Salah satunya, Jerry yang berusia 9 tahun mulai mengeluh kecapekan. Ia tidak bisa tidur lelap dan konsentrasi belajarnya pun mulai bermasalah. Di sekolah, gurunya memergoki Jerry seringkali ngantuk. Akhirnya, Jerry pun dibawa ke psikolog anak. Setelah memeriksa jadwal Jerry yang super padat, si psikolog anak menasihati ibunya untuk mencabut beberapa aktivitas Jerry yang tidak penting. Namun, si ibunya berkelit, “Tapi Jerry senang kok dengan aktivitasnya dan dia kelihatannya enjoy. Selama ini, saya yang menemaninya tahu bahwa Jerry kelihatan senang kok”. Wawancara dengan Jerry sendirian, tidaklah begitu hasilnya. Jerry, dengan polosnya berkata, “Mama memaksa saya ikut ini itu dan daripada dimarahi, saya pun ikut aja. Mama tidak suka dibantah

Gejala Stres Anak Super Sibuk!
Ada beberapa gejala pada anak super sibuk, yakni stress dngan berbagai simtom-simtomnya yang mulai harus Anda waspadai. Agar stress ini tidak mencapai level yang mengganggu kesehatan dan prestasi akademik si anak, diskusikan dengan si anak ataupun libatkan ahlinya, misalkan konselor anak ataupun psikolog.

Berbagai gejala stress anak super sibuk yang perlu Anda waspadai yakni: (1) Gejala fisik yang berulang kali terjadi misalkan sakit kepala, sakit perust (diare) dengan penyebab yang tidak jelas. (2) Kebiasaan yang tidak lumrah dilakukan anak anda misalnya: menjadi lekas marah, menangis akibat hal-hal yang sepele, mengisap jempol, sering berdebat (3) Kehilangan gairah aktivitas misalkan: seringkali mengeluh capek, tidak tertarik pada aktivitas yang dulu ia gemari ataupun tidak tertarik pada apapun, sering bengong dan sulit konsentrasi (4) Hasil prestasi yang justru semakin buruk: nilai merosot, banyaknya kesalahan dan kecerobohan hasil kerja.

Stress Baik, Stress Buruk
Memang selalu dikatakan bahwa pada level tertentu, stress sebenarnya berguna bagi setiap orang. Anak-anak pun begitu. Ketika tanpa tekanan dan tidak ada tantangan sama sekali. Anak bisa tumbuh menjadi orang yang pasif serta tidak siap dengan berbagai tantangan di kemudian hari. Tetapi, hati-hati pula. Ketika stress dan berbagai tuntutan menjadi terlalu berlebihan, kondisi anakpun menjadi rentan. Rentan dengan berbagai kondisi fisik dan psikologis yang bisa menganggu dirinya. Alih-alih membuat anak kita makin berprestasi dan makin maju, justru anak kita mengalami kemunduran.

Sayangnya, banyak orang tua tidak menyadari hal ini. Yang jauh lebih buruknya, ketika anak prestasinya mulai menurun karena stress yang berlebihan, si anak bukannya dikasih kesempatan untuk istirahat. Justru yang dilakukan oleh orang tua adalah sebaliknya. Anak-anaknya dipaksa untuk les dan mengambil kursus yang lebih banyak lagi!

Kasih Waktu Anak untuk Berkembang
Sebenarnya, pada usia anak-anak, sebaiknya lebih banyak waktu diberikan kepadaya untuk berpikir, berkreasi, merancang, bermimpi, mengobservasi ataupun mengembangkan dirinya. Ketika anak-anak mulai dipaksa mengikuti kursus ini dan itu yang terlalu berlebihan, waktu-waktu dan kesempatan seperti inilah yang dikorbankan. Ujung-ujungnya, bukannya kita melihat seorang anak yang berkembang kemampuannya, tetapi justru anak dipaksa mengikuti disiplin belajar dan disiplin kegiatan tertentu, yang ujung-ujungnya membuat anak menjadi pasif dan mati kreativitasnya.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Orang Tua?

Pertama-tama, bedakan mana yang penting dengan mana yang bagus. Semua kursus dan kegiatan pastilah bagus. Tetapi, tidak semuanya penting bagi kondisi anak kita saat ini. Putuskanlah yang sungguh-sungguh penting bagi kondisinya saat ini. Misalkan jika akademiknya yang bermasalah, fokuskan pada peningkatan akademiknya dan untuk sementara, lupakan soal les piano, les balet ataupun bernyanyi. Kelak, ketika kondisi akademisnya lebih baik, barulah diberikan les tambahan.

Kedua, ingatlah untuk bicarakan dengan anak Anda. Ada baiknya pula sebelum Anda memutuskan untuk menghentikan kegiatan mereka, diskusikanlah dengan mereka. Tetapi ingat, hargai pendapatnya. Dan betul-betul kasih kesempatan untuk memilih. Dan kalaupun ia memutuskan untuk tetap dengan aktivitasnya sekarang, doronglah dia untuk bertanggung jawab dan motivasilah ia agar tetap bisa mengelola waktunya. Jangan mengancam tetapi tanyakan jika ia betul-betul nyaman dengan jadwalnya yang padat saat ini. Hargai pendapatnya.

Ketiga, tetap biarkan waktu yang terbuka untuk anak-anak Anda. Jangan lagi tergoda untuk mengisinya dengan berbagai aktivitas ini dan itu. Masalahnya, kecenderungan para orang tua adalah suka melihat anaknya sibuk. Seringkali, kesibukan anak inipun hasil obsesi orang tua yang bermasalah!

Saatnya Menyalahkan Orang Tua!

Mengapa anak jadi super sibuk? Salah satu kesalahannya sebenarnya bisa ditimpakan pada orang tua. Alasan pertama, seringkali karena obsesi orang tuanya yang tidak tercapai. Biasanya kita mendengar orang tua yang mengatakan, “Dulu saya ingin les piano tidak dikasih ijin dan tidak punya uang. Sekarang saya kasih les untuk anak saya”. Alasan kedua adalah karena orang tuanya sendiri sibuk dan tak punya waktu, akibatnya, untuk memastikan anaknya juga sibuk maka sang anakpun dikasih les ini dan itu. Alasan ketiga adalah karena tidak mampu menciptakan acara yang positif bagi si anak. Salah satu komentar yang muncul, “Daripada anak saya hanya nonton TV dan main PS, saya kasih les saja”. Sebenarnya, kalau dikatakan, anak tersebut tidak akan nonton TV kalau orang tua punya banyak alternatif kegiatan bersama dengan mereka. Jadi, anak super sibuk inipun hasil kesalahan orangtuanya.

Anthony Dio Martin, ahli psikologi, motivator dan penulis buku-buku bestseller. Hubungi via facebooknya di sini.

Share this:

You might also like this:

Mematangkan Kecerdasan Emosi Demi Perkembangan Karir

Mematangkan Kecerdasan Emosi Demi Perkembangan Karir

Melayani Pelanggan dengan Beres
850 | Service

Melayani Pelanggan dengan Beres

Inilah Kunci Rahasia Kerja Produktif dan Bahagia? Tetaplah Antusias dan Kelola Energimu!

Inilah Kunci Rahasia Kerja Produktif dan Bahagia? Tetaplah Antusias dan Kelola Energimu!

INILAH 4 SIKAP ORANG YANG CERDAS EMOSI HADAPI MUSIBAH

INILAH 4 SIKAP ORANG YANG CERDAS EMOSI HADAPI MUSIBAH

Lima Level Kepemimpinan Sejati
3057 | Leadership

Lima Level Kepemimpinan Sejati

GRIT, 4 FAKTOR PENENTU SUKSESMU!

GRIT, 4 FAKTOR PENENTU SUKSESMU!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *