Amazing! Sebuah Model Kepemimpinan ala Pesawat Terbang dari HR Excellency Untuk Mencetak Pemimpin Handal

692 | Mar 25, 2019 | HR Excellency | Business Management | Tips & Motivasi
Amazing! Sebuah Model Kepemimpinan ala Pesawat Terbang dari HR Excellency Untuk Mencetak Pemimpin Handal

Ada fakta yang cukup menarik. Banyak CEO dari dunia penerbangan yang sangat inspiratif. Pertama, ada Herb Kelleher dari Southwest Airlines, yang belum lama ini meninggal. Ada Sir Richard Branson, pendiri Virgin Airlines yang nyentrik tapi inspiratif. Juga ada Tony Fernandes dari Air Asia yang kemunculannya sempat menjadi inspirasi penerbangan budget, tapi tidak murahan. Mereka semua dari industri penerbangan. Hebatnya mereka adalah perpaduan leader dan manager yang bagus. Dalam hal memimpin pekerjaan, kinerja organisasi bagus. Tapi, sekaligus juga mampu menciptakan kultur kerja dan membangun orang-orangnya dengan keren. Sungguh, perpaduan antara leading dan managing yang bagus!

Karena itulah, industri penerbangan inilah yang dijadikan sebagai inspirasi. Dengan kata lain, model berbentuk pesawat ini juga yang kami pakai sebagai model kepemimpinan. Selain mengingatkan kita dengan para pemimpin yang keren di industri penerbangan. Pesawat sendiri, punya banyak makna yang bisa kita kaitkan dengan kepemimpinan sejati. Kemampuan antara memimpin (leading) dan mengelola (managing) organisasi, bisa dengan tepat disimbolkan melalui pesawat.

Terus terang, dari ribuan program dan workshop kepemimpinan yang dilakukan oleh HR Excellency di Indonesia, akhirnya terciptalah model ini. Nyatanya, dengan analogi pesawat ini, peserta training ternyata lebih nyantol. Juga lebih mudah dipahami. Disisi lain, pesawat juga dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Jadi, Mengapa Pesawat?

Pesawat sebenarnya mengingatkan kita dengan 3 bagian penting. Pertama-tama, perlunya pesawat dengan mesin yang handal, perlunya pilot yang handal, serta perlunya navigasi yang jelas soal mau dibawa kemanakah pesawat itu. Tanpa 3 faktor itu, pesawat hanyalah seonggok mesin canggih yang tidak punya nilai apapun.

Maka, itu jugalah gambaran sederhana kepemimpinan. Mesin yang handal, bisa kita gambarkan dengan organisasi maupun proses dan juga produk yang tampak. Namun, organisasi ataupun teknologi sehebat apapun tidak ada maknanya tanpa kehadiran seorang pilot yang handal. Pilot itu laksana pemimpinnya. Tanpa pilot bagus maka, pesawat tak bermakna. Artinya, tanpa pemimpin bagus organisasi tidak ada artinya. Maka, perlu pilot yang tahu bagaimana menavigasikan pesawat untuk sampai ke tujuan. Dan akhirnya, tentu saja tatkala pilot dengan pesawat canggihnya, tidak ada artinya kalau tidak tahu mau dibawa kemana. Ujung-ujungnya tanpa tujuan yang jelas, pesawat hanya akan putar-putar di udara. Pahamkah Anda dengan hal ini, yang juga sering terjadi di organisasi?

Membedah Bagian Pesawat dan Kelengkapannya
Sekarang, ayo kita membedah unsur-unsur pesawat terbangnya. Plus segala kelengkapannya, termasuk pilotnya. Unsur-unsur inilah yang dalam prakteknya juga menggambarkan materi serta sesi training yang diberikan HR Excellency kepada para peserta program kepemimpinan. So, apa sajakah unsur-unsur penting untuk membangun kepemimpinan yang bagus itu?

Unsur 1: Pilotnya
Karakter pilot tentunya sangat menentukan. Ada satu riset puluhan tahun oleh Kouzes dan Possner yang menggambarkan dengan bagus, seorang “pilot organisasi” yang ideal itu seperti apa. Mereka menyebutnya Exemplary Leadership. Tak heran, sampai sekarang model mereka masih dipakai disekolah-sekolah MBA untuk mencetak para pemimpin. Inilah karakter pilot perusahaan, atau pemimpin organisasi unggul menurut mereka. Pertama, memiliki visi yang menginspirasi (inspired shared vision). Kedua, menantang proses (challenge the process). Ketiga, mendorong hati orang sekitarnya (encouraging the heart). Keempat, memampukan timnya bertindak (enable other to act) dan kelima, menjadi contoh (model the way)!

Unsur 2: Mesin Pesawat
Mesin pesawat harus baru dan juga kini, semakin canggih. Konon, inilah bagian yang banyak menghabiskan riset dan dana untuk terus diperbaiki. Alasannya, perkembangan jaman terus menuntut pembaharuan mesin ini. Akhirnya, unsur inipun dikaitkan dengan segala perubahan dan tantangan jaman. Termasuk pemahaman soal revolusi industri ataupun tuntutan-tuntutan perubahan sosial, demografis ataupun produk-produknya.

Unsur 3: 2 Sayap Pesawat
Kita tahu, dua sayap pesawat inilah yang memberi keseimbangan. Jika dianalogikan, kedua sayap kiri kanan pesawat ini juga menggambarkan tugas keseimbangan yang penting dari seorang pemimpin. Sayap kiri melukiskan soal pengelolaan pekerjaan (managing job). Itulah tugas pertama dan terpenting seorang pimpinan yakni harus membereskan tugas dan tanggung jawab pekerjaaan. Ada target, KPI (key performance indictors) ataupun scorecard yang harus dicapai. Proses kerja yang harus dipenuhi dan diselesaikan. Namun, selain itu ada lagi sayap kanan yang sama pentingnya yakni mengelola orang (leading people). Karena itulah, pengelolaan orang menjadi salah satu sayap penting pesawat yang harus terpenuhi. Tanpa sayap kanan ini, maka bagian sayap kiri akan oleng!

Unsur 4: Roda
Roda adalah fundamental yang membuat pesawat mampu berjalan. Rodalah yang menegakkan badan pesawat. Ketika di darat, roda inilah yang jadi penumpu penting. Meskipun saat terbang, roda tampaknya sekan-akan tak berfungsi. Tapi, tanpa roda dipastikan pesawat hanya akan di awang-awang dan pada akhirnya bisa membuat pesawat berkeping-keping kalau tidak ada roda yang membantunya mendarat. Maka, rodapun menjadi simbol unsur-unsur karakter yang sangat fundamental. Karakter-karakter penting seperti kejujuran, integritas adalah bagian penting dari unsur ini. Konsep kepemimpinan yang melayani juga menyerupai makna roda ini. Posisinya diibawah melayani, tapi penting! Di darat, roda inilah yang menghadapi banyak benturan tanah, batu, daratan yang bisa membuat pesawat tabrak sana sini, kalau rodanya tidak mulus. Begitu pula, dalam kepemimpinanpun yang sering kali jadi benturan adalah 3 Ta: Harta, Tahta,Wanita!

Unsur 5: Jendela
Dari jendela, penumpang bisa melihat apa yang terjadi diluar. Dan kita pun bisa melihat para penumpangnya dengan mengintip dari kaca jendela. Dengan mengumpamakan prinsipnya Jim Collins yang menggunakan bis kota, maka kalimat Jim Collins dalam “From Good to Great” bisa dipakai disini. Yakni, orang yang tepat harus ditaruh ke dalam pesawat yang tujuannya tepat. Dengan kata lain, orang yang tujuannya ke Bali, jangan ditaruh dalam pesawat yang tujuannya adalah ke Medan. Lantas, tentukan orang cocoknya duduk dimana. Dan turunkan penumpang yang memang tidak pas dan membantu. Maka, disinipun perlu diketahui siapakah yang cocok dan berperan penting. Karena itu pemahaman soal tipologi penumpang atau siapakah tipe-tipe penumpang itu sangatlah penting. Dalam sesi-sesi training terkadang pembelajaran soal tipologi DISC, atau pembagian team role Belbin ataupun Margerison, sebenarnya sangat bagus bagi kita untukmengidentifikasi siapakah penumpang kita di pesawat organisasi kita.

Unsur 6: Ekor Pesawat
Ekor pesawat nyaris seperti tanpa fungsi. Tapi bagi seorang pilot ekor pesawatlah yang menentukan perputaran ataupun memastikan pesawat tetap di lintasannya. Alasannya, di ekor pesawat itulah terdapat bagian vertikal bernama rudder yang bisa digerak-gerakkan menyesuaikan dengan angin. Rudder di ekor pesawat inilah yang menjadi teman bagi seorang pilot. Inilah yang memastikan segala sesuatu akhirnya sesuai dengan rencana. Maka dalam kepemimpinanpun perlu faktor-faktor penyeimbang berupa ekor yang bisa membuat pesawat tetap berada pada lintasannya. Maka, dalam faktor kempimpinan organisasi, ekor bisa bermakna segala faktor ilmu tambahan yang bisa membantu kepemimpinan saat ini. Berbagai ilmu itu akhirnya bisa menolong sang pilot tetap berada pada lintasannya. Ilmu ini bisa dimulai dari ilmu-ilmu praktis misalkan time management, project management, hingga ilmu-ilmu konsep seperti EQ, atau NLP yang bisa dipakai untuk mendukung gaya memimpin saat ini.
Jadi, dengan menggunakan analogi pesawat terbang ini, kita bisa mengukur dan menilai seberapa efektifkah seseorang dalam memimpin organisasi.

Problemnya, terkadang kita bertemu dengan para pemimpin yang sangat bagus dalam hubungannya dengan orang. Ia visioner dan dalam membuat rencana dan strategi. Sungguh seorang leader yang bagus. Tapi, problemnya, ia tidak mampu mengeksekusi pekerjaan. Ketika bicara soal aplikasi dan menyelesaikan tugas, justru mengawang-awang. Artinya, ia bukan manager yang bagus. Atau, ada pula yang sebaliknya. Pengerjaan tugasnya bagus, tapi tidak mampu membangun relasi dan tidak punya strategi. Akhirnya, anggota timnya pun pergi satu demi satu. Inipun pemimpin yang tahunya hanya mengelola pekerjaan.

Semoga, dengan model pesawat terbang ini mengingatkan kita bahwa seorang pemimpin adalah ibarat pilotnya pesawat terbang! Kompleks, rumit, harus tetap menjaga keseimbangan dan yang terpenting adalah…. ada banyak nyawa sungguh dipertaruhkan di bawah kendalinya!

Anthony Dio Martin, CEO HR Excellency & Miniworkshopseries Indonesia, trainer, penulis, executive coach, host di radio bisnis SmartFM. IG @anthonydiomartin ; Youtube Channel: anthonydiomartinofficial Website: www.anthonydiomartim.com

Share this:

You might also like this:

Visi – Strategi – Aksi!

Visi – Strategi – Aksi!

Management by Love

Management by Love

Sukses dengan Manajemen Kasih Sayang

Sukses dengan Manajemen Kasih Sayang

Jangan Menyesal, Dengan Apa Yang Tak Berani Kamu Negosiasikan

Jangan Menyesal, Dengan Apa Yang Tak Berani Kamu Negosiasikan

Perhatian! Inilah 4 Kompetensi Kecerdasan Emosional (EQ) Yang Perlu Buat Suksesmu!

Perhatian! Inilah 4 Kompetensi Kecerdasan Emosional (EQ) Yang Perlu Buat Suksesmu!

Tips Manajemen Konflik: Selesaikan Setiap Konflik Dengan Tiga Sisi Argumentasi Ini

Tips Manajemen Konflik: Selesaikan Setiap Konflik Dengan Tiga Sisi Argumentasi Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *