5 PROSES DALAM SEMINAR YANG DAHSYAT DAN BERDAMPAK (MAU JADI PEMBICARA KEREN, INILAH RAHASIANYA!)

9 | Feb 23, 2018 | HR Excellency | Tips & Motivasi
5 PROSES DALAM SEMINAR YANG DAHSYAT DAN BERDAMPAK (MAU JADI PEMBICARA KEREN, INILAH RAHASIANYA!)

Berapa kali Anda ikut seminar yang membuat Anda berdecak kagum?
Yang membuat Anda tidak mau beranjak dari kursi meskipun saat itu Anda kebelet untuk pipis?

Sebagai contoh menarik. Ketika Anthony Robbins berada di atas panggung, semua mata tertuju kepadanya. Orang tidak beranjak. Mereka seperti tersihir. Bukan hanya gelegar suaranya yang luar biasa. Bukan karena nama besarnya ataupun karismanya. Tetapi, keseluruhan proses pembelajaran itu sendiri menjadi proses pembelajaran yang bermanfaat, menghibur sekaligus mengubahkan. Begitu juga dengan Brendon Burchard, seorang pembicara yang konon dengan massa di social media yang  punya follower yang paling luar biasa di dunia, mengakui bahwa dirinya introvert. Namun demikian, tatkala memberikan seminarnya, ia tetap berdansa, berjoget dan mengajak audiensnya berinteraksi. Mengapa mereka repot-repot melakukannya, bukankah kalau memberikan seminar ya berdiri di depan dan hanya bicara saja. Sampaikan kontennya. Setelah selesai, lantas turun dari podium?

Faktanya, tidak segampang itu.

Itulah sebabnya, banyak trainer dan pembicara yang bertanya-tanya bagaimanakah caranya menciptakan suatu proses pembelajaran berdampak “Wow” dalam suatu seminar yang durasinya pendek. Masalahnya, karena keterbatasan waktu, seringkali apa yang memungkinkan dalam training, seringkali tidak bisa terwujudkan dalam suatu seminar. Selain itu, masalahnya juga audiens dalam seminar biasanya juga lebih banyak, lebih ramai. Lantas, bagaimanakah caranya agar dalam suatu seminar, audiens kita tetap belajar, tetap terhibur sekaligus membawa pulang suatu pembelajarana yang berharga? Dan meskipun dengan audiens yang ramai, seorang pembicara tetap bisa engage (melibatkan diri) dengan pesertanya?

Nah hal ini, tentunya tidak mudah. Tetapi, kami belajar dari ratusan video pembicara hebat dan dari pengalaman kami di HR Excellency dalam mengajar dan memberikan seminar-seminar untuk berbagai lingkungan organisasi. Hasilnya? Ada 5 proses penting para speaker yang membuat mereka tampil dengan luar biasa. Inilah proses yang membuat suatu seminar dikatakan: berisi, bermanfaat, berdampak sekaligus menghibur. Ini juga yang kami terapkan.

Nah, mau tahu rahasia ke 5 proses tersebut?

Proses pertama, Energizing (Menyemangati).
Inilah proses awal dimana, peserta lantas akan berkata: “I’m ready to learn!” (saya siap untuk membuka diri dan belajar). Apakah yang biasanya dilakukan oleh para pembicara? Ada beberapa pembicara yang membuat energizer, membangkitkan energi dan semangat peserta. Ada yang berjoget, berdansa. Intinya, sebelum belajar bagaimana membuat peserta merasakan bahwa, “Wow. Ini pembicara yang menyenangkan untuk diikuti”. Bahkan, kalaupun tidak dengan hal-hal yang dianggap “lebay” bagi banyak orang, bahkan sebenarnya energi dari pembicara itu sendiri pun, seharusnya bisa menjadi “ENERGI” bagi peserta. Kebayang kan bagaimana jadinya kalau pembicara sendiri loyo, apa yang bisa diharapkan dari energi pesertanya?

Proses kedua, Engaging (Melibatkan).
Dalam hal ini peserta akan berkata: “I feel engage in this learning process!” (saya merasa terlibat dengan proses pembelajaran ini). Tentu saja, dalam proses seminar yang massanya banyak, tidak gampang untuk membuat semua peserta terlibat. Tetapi, seorang pembicara harus berusaha agar komunikasinya tidak satu arah. Mulai dari bertanya, berdiskusi, mengajak, bahkan bercanda hingga menggunakan “bahasa-bahasa khas” yang popular di kalangan audiens pun sudah merupakan bagian dari proses melibatkan.

Proses ketiga, Educating (Mendalami).
Hasil dari proses ketiga ini adalah tatkala peserta berkata: “I think I learn something!” (saya merasa bahwa sayabelajar sesuatu hari ini). Inilah bagian “isi”, yang merupakan bagian terpenting dari suatu seminar. Alasannya, sebagus apapun kemasannya, tetapi kalau isinya tidak bagus, ujung-ujungnya peserta akan kecewa. Disinilah, seorang pembicara perlu pintar-pintar mengemas materinya. Memberikan contoh, kisah, cerita ilustrasi, data, dan masih banyak lagi untuk membuat isinya menjadi sesuatu yang menarik. Kualitas seorang pembicara biasanya akan sangat ditentukan disini.

Proses keempat, Entertain (Menghibur).
Pada bagian ini, peserta juga akan berkata “I’m feel I get entertain!”. Mengapa hal ini penting? Alasannya sederhana. Kita semakin bergerak ke era dimana informasi dengan dunia hiburan berlomba memberi pengaruh. Tapi pemenangkanya selalu sama: hiburan! Artinya, justru dunia hiburan lebih banyak penggemarnya. Sebagai contoh, mudah bagi kita untuk melihat konser musik ataupun seni, yang penontonnya bisa sampai puluhan ribu orang. Tetapi, kalau seminar bisa sampai ribuan orang, itu termasuk berita langka. Fakta ini membuktikan orang lebih senang dihibur daripada diajari. Karena itulah, unsur-unsur hiburanpun mulai banyak dimasukkan dalam pengajaran. Termasuk dalam dunia seminar. Untuk yang satu ini, pembicara bisa melibatkan berbagai contoh, ilustrasi, teknik ataupun metode yang bisa menghibur peserta. Biasanya bagian inilah yang akan menyentuh sisi emosi peserta. Mulai dari emosi sedih yang menggugah dengan berbagai teknik story telling ataupun video presentasinya, hingga emosi senang misalkan dengan gaya “stand up comedy”. Intinya, disini pembicara memaklumi, materi saja tidak dibalut dengan kemasan yang menghibur, isinya akan membosankan.

Proses kelima, Experiencing (Mengalami).
Ini bagian terakhir yang tidak kalah penting yakni ketika audiens akan berkata, “I know how to apply my understanding!”. Inilah bagian dimana pembicara memastikan peserta punya kesempatan untuk mencoba, mempraktekkan ataupun membayangkan bagaimana yang disampaikannya bisa diaplikasikan. Dalam bagian ini, ada pembicara yang mengajak pesertanya melakukan role play mempraktekkan, ada yang diajak untuk membuktikan, atau ada pula yang memberikan contoh serta tips bagaimana menerapkan isi ataupun konten yang telah mereka pelajari. Intinya, apa yang membuat pembicara ini dahsyat adalah karena mereka mengubah informasi menjadi ide. Tepatnya, ide yang bisa dilakukan.

Nah, dilihat dari 5 proses ini, apakah Anda termasuk seorang pembicara yang “kere” atau “keren”?

Salam Antusias!

www.hrexcellency.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *