Tiga Level of High Impact Trainer

Bayangkanlah skenario berikut ini. Anda duduk bersama dalam kerumuman orang yang memadati suatu hall olah raga yang telah disulap menjadi suatu panggung raksasa seminar. Sebentar lagi, suatu seminar motivasi akan dimulai. Anda tidak terlalu kenal pembicaranya, sebab Anda sendiri datang karena diundang. Tapi, orang-orang berkata, seminarnya dijamin menarik. Tiba-tiba lagu motivasi mulai diperdengarkan. Orang-orang berteriak, bergerak penuh semangat dan MC mulai bercerita tentang pengalaman seminar yang dijanjikan akan menyenangkan. Beberapa menit kemudian, pembicaranya pun muncul. Betapa mengherankan karena si pembicara ini tidak mempunyai tangan sama sekali. Dalam 2 jam kemudian Anda duduk mendengarkan si buntung “John Foppe” ini. Anda terkesima, terharu. Anda merasakan mendapatkan begitu banyak ‘Aha’ dan insight. Dan di akhir seminar ini, Anda termotivasi untuk membuat “massive action” atas apa yang telah Anda rencanakan.

John Foppe baru saja membuat dampak yang luar biasa dari seminar motivasinya bagi hidup Anda! Atau bayangkanlah Anda mengikuti seminar Tony Christiansen, seorang pembicara lumpuh dengan segudang prestasi (pilot, pemegang sabuk hitam Tae Kwon Do, pembalap, juara lomba dunia) dari New Zealand. Di akhir seminar itu, Anda begitu terinspirasi, tergerak untuk mengambil langkah besar dalam hidup Anda. Mereka, para trainer baru saja memberikan dampak yang besar melalui seminarnya. Tapi, tentu saja Anda tidak perlu menjadi cacat untuk memberikan dampak training. Ini kuncinya!

Pada pembahasan ini, mari kita bahas mengenai 3 dampak (three level of impact) suatu pelatihan. Langsung saja, ketiga level pelatihan ini dibagi atas:

Level Pertama, Acceptance: Pendengar mendengarkan Anda Level dampak yang pertama ini, tergolong minim. Tapi bagaimanapun level ini masih lebih baik, daripada pelatihan Anda dicuekkan sama sekali. Yang jelas, pada level ini pendengar mau menyimak, mengarahkan matanya serta mengikuti apa yang Anda sampaikan. Akan lebih baik, jika mereka mengangguk, bukan karena ngantuk tapi setuju dengan apa yang Anda sampaikan. Namun, pada level ini peserta bisa memakai topeng seakan-akan menyimak kita tapi sebenarnya hanya pura-pura. Level ini sering kita saksikan pada pidato-pidato resmi yang membosankan. Atau, sambutan panjang-lebar yang tidak bermakna. Ataupun, kata-kata dari yang berkuasa. Ia didengar hanya karena orang hormat dan takut padanya, tapi orang tidak menyimak apa yang disampaikan.

Tips agar level acceptance ini tercapai, ini kuncinya: - Sampaikanlah cerita-cerita personal atau pengalaman pribadi diantara ide yang sedang dibawakan - Gunakan variasi dengan video klip, slide cerita atau humor yang segar - Jelaskan AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku) untuk kepentingan peserta, misalkan: “Bagian yang saya akan sampaikan ini sangat penting. Setelah mendengarkan bagian ini hubungan Anda dengan boss Anda akan meningkat atau justru semakin kacau saat Anda mengabaikan apa yang saya akan katakan ini” Itulah level pertama. Pada level ini, tujuannya adalah peserta duduk dengan manis dan berpikir, “Orang ini menarik dan pantas untuk didengar!”

Level kedua (“Aha..”): Pendengar mendapatkan insight tertentu Pada level kedua ini, pendengar bukan cuma duduk mendengarkan tapi mulai mendapatkan sesuatu yang berkenaan dengan harapan ia mengikuti pelatihan Anda. Kalau seminar dan training Anda adalah mengenai sales, ia mendapatkan suatu tips yang bisa dibawa pulang untuk membuat salesnya lebih baik. Pada level ini, peserta harus bisa mengatakan “Aha…apa yang disampaikan trainer ini barusan, betul-betul penting. Saya jadi ngerti sekarang”. Agar terjadi efek “aha” ini, tentu saja peserta harus mendapatkan suatu tips atau insight yang baru, bukan yang sudah basi.

Tips menciptakan efek “Aha”:

  • Intisarikan dari pengalaman dan pembelajaran Anda sendiri, apa tips penting yang penting untuk diingat. Bayangkan begini, jika Anda menyampaikan soal “pendidikan bagi anak”, apakah intisari penting yang sangat berharga yang Anda ketahui, yang juga perlu diketahui bagi pendengar Anda.
  • Sampaikan tips yang SImpel, MUdah DIingat, REleven, WELL-explained (saya sebut SI MUDI REWEL). Contoh sederhana, “Bapak/Ibu, dalam menjawab komplain customer kita, selalulah ingat EAR kita yakni E, Empathic. A, Acknowledge. Lalu, R, Respond. Misalkan waktu empati, kita diam dan menganggukkan kepala, dengar. Waktu acknowldge kita mengatakan, “Saya mengerti kenapa ibu marah…”. Lalu waktu respond, kita katakan apa yang bisa kita lakukan untuk membantunya. Ingatlah EAR kita selalu!”

Level ketiga (“Action..”): Pendengar terinspirasi dan tergerak untuk melakukan hal tertentu Pada level ketiga ini, pendengar bukan lagi cuma mendengar dan paham, tapi ia pun mulai tergerak untuk melakukan apa yang barusan didengar dari Anda. Pada level ketiga ini, pendengar diajak untuk melakukan sesuatu. Bahkan, dibeberapa pelatihannya, Anthony Robbins selalu memotivasi peserta dengan mengatakan, “Take massive action!” (ambil langkah-langkah yang berani dan dahsyat), setelah ia memberikan ide-idenya.

Tips untuk menciptakan efek Action ini: Di bagian-bagian penutup suatu topik atau di bagian akhir pelatihan Anda jangan lupa untuk memberikan saran-saran berupa langkah praktis yang bisa segera dilakukan…bukan besok atau minggu depan tapi kalau perlu NOW, segera! Contoh sederhana menciptakan efek action ini, misalnya pernah saya dengar dari seorang pembicara tentang terapi air putih, “Mulai malam ini Bapak/Ibu. Anda akan mulai siapkan satu liter air putih. Taruh di bawah tempat tidur Anda. Jadi besok, ketika Anda bangun hal yang pertama Anda lakukan adalah meminum air putih tersebut. Ini cara yang mudah. Sederhana, murah tapi kesehatan Anda akan meningkatkan. Praktekkanlah malam ini juga!”.

Jadi, kesimpulannya, suatu training yang baik semestinya memberikan 3 A yakni Acceptance, Aha serta Action. Setiap kali Anda memberikan seminar atau training mulailah untuk pikirkan bagian-bagian dari pembicaraan Anda yang memberikan dampak-dampak tersebut. Kalau tidak Anda akan ditinggal oleh pendegar Anda. Kalaupun ia tidak bisa meninggalkan Anda secara fisik, secara mental ia akan meninggalkan Anda dengan mengembarakan pikirannya kemana-mana. Ingatlah suatu prinsip dalam pemberian training, “If your participant get bored, maybe because you’re boring” (Kalau peserta Anda merasa bosan, mungkin karena Anda membosankan). Kalau Anda sudah merasa sudah mempersiapkan dengan baik, sudah berjam-jam Anda bicara tapi peserta tidak ada yang mendegarkan Anda, hanya satu hal yang bisa dikatakan, “Ah, kasihan deh lu. Makanya, renungkan kembali tulisan 3 dampak pelatihan ini!”. Be a great trainer!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *