BELAJAR KENDALI MARAH DARI "HULK"
 

Kamis, 26 Juni 2008

 
 

Hulk: komik anak kecil, berkisah soal ilmuwan Dr.Bruce Banner yang terkena radiasi sinar gamma akan membuatnya saat ia kehilangan emosi, ia akan berubah menjadi makhluk hijau ganas yang tidak terkendali.

Stan Lee dan Jack Kirby 1962, pelukis komik yang menciptakan ‘monster hijau’ ini. Dalam film baru-baru ini diceritakan soal Dr.Bruce Banner (peran oleh Edward Norton) yang berkelana ke Brazil belajar bela diri jiujitsu dan yoga untuk control emosinya.

Dr.Bruce Banner mengenakan alat pemonitor detak jantung yang selalu bisa ketahuan detak jantungnya. Batasnya adalah 200. Kalau melebihi angka 200, misalnya karena terlalu marah maupun terlalu exited, ia bisa berubah menjadi mahkluk hijau

Jadi apa insight yang bisa kita peroleh dari tokoh Hulk:

 

Pelajaran dari HULK:

  1. Anger is a good servant but a bad master”. Betapa merusaknya emosi yang tidak terkendali. Saat menjadi HULK, ia ditanya oleh kekasihnya Betty, “kamu sadar nggak sih”, “Samar-samar”, jawabnya. Saat kita sudah emosional, kita KADANG SUDAH LEPAS DARI KESADARAN. Jadi, penting BAWA EMOSI DALAM AMBANG BATAS KESADARAN.
  2. Bangun kesadaran, dengan alat monitor. Alat monitor itu bisa tampak, bisa juga imajinatif. Intinya, kita PEKA. Saat ini, kita dalam kondisi emosional tinggi atau tidak. Hati-hati, kalau level kita sudah tinggi.
  3. Perlu bagi kita memiliki garis batas. Ingat GARIS PLIMSOLL. Dulu, di Inggris ada garis batas Plimsoll untuk kapal-kapal, jika melewatinya kapal bisa karam. “Garis Plimsoll Kemarahan” untuk mengendalikan kemarahan kita itu perlu.
  4. Hal-hal sepele, jadi besar. Hati-hati! Kita banyak mengalami pengalaman tidak menyenangkan yang membuat terganggu, kesel, jengkel lalu marah. Seringkali kemarahan itu bersumber dari hal sepele, namun terus terakumulasi hingga akhirnya tumpah keluar. Celakanya, setelah semua kejadian tersebut barulah kita menyadarinya.
  5. AKHIRNYA, emosi tak terkendali bisa dicegah. Caranya? Kita bisa memulainya dengan membangun suatu “garis ambang batas” Garis batas ini menunjukkan bahwa selama masih dibawah ambang batas garis kemarahan kita tersebut, emosi kita masih bisa kita kendalikan. Tetapi, jika kita merasa telah melewati batas garis kemarahan tersebut, kita mesti segera menarik diri, berhenti ataupun beristirahat sejenak dari situasi tersebut. Sebab jika tidak, maka reaksi kita baik kata-kata maupun tindakan kita, seringkali akan sulit dikendalikan.

 

Kemarahan yang terlalu dipendam atau dibiarkan sembarangan bisa merusak. Kemarahan yang disimpan dan tak terkendali keluarnya bisa tak dapat diprediksi dan dikendalikan, biasanya dikenal dengan istilah “kicking cat syndrome”

 

Ron Potter-Efron, “10 Most Effective Ways to Overcome Anger” mengatakan ada 3 Style kemarahan:

(1) masked anger: tidak sadar kalau marah, hindari kemarahan;

(2) explosive anger: tiba-tiba meledak;

(3) chronic anger: marah untuk jangka panjang

 

TIPS Mengelola kemarahan diri maupun orang lain tipsnya:

3A

Aknowledge our anger (terima kondisi kemarahan kita),

Ask for clarification (tanyakan untuk mendapatkan kejelasan),

Anticipate solutions (kira-kira bagaimana jalan keluarnya).

 

Ide-ide anger management:

(1) Time out dari situasi;

(2) Mengakui dan mencoba dengan sadar melihat “apa yang membuat kita marah”. Dari sini ia bisa belajar POLA KEMARAHAN;

(3) Melihat kembali apa yang membuatnya marah, mengubah sudut pandang ataupun menganalisa;

(4) Konfrontasikan orang atau situasi, saat ketika kita sudah tenang;

(5) Ventilasikan emosi secara sehat (olah raga, yoga, dll)

 

Budha Gautama:

“Menyimpan kemarahan, sama saja dengan memegang bara panas di tangan dimana kita siap untuk melemparkannya pada orang lain. Tapi Andalah yang terbakar”.

 

Ralph Waldo Emerson:

For every minutes of your anger, you lose sixty seconds of happiness”.

 
 
   
 

home | about us | news update |Training/seminar | gallery | radio talk | testimonial | e-mail us