Manfaat Rational Emotive Therapy:
- Bagaimana kita mengubah emosi-emosi kita yang negative dalam waktu cepat menjadi yang positif?
- Bagaimana kita menolong kita keluar dari perangkap emosi yang buruk? Salah satu tools psikologis yang bagus untuk menolong diri kita sendiri (self help tools)
- Bagaimana kita bisa menjadi tuan atas emosi-emosi kita? Alat bantu untuk mengendalikan emosi kita
- Bagaimana kita menolong orang yang punya problem emosional? Bisa jadi alat coach
Dikembangkan oleh Albert Ellis:
“people lives in negative emotion and bad habits because of unrealistic or wrong beliefs”
Prinsip-prinsipnya:
- Banyak problem kehidupan yang ditentukan oleh pikiran-pikiran kita yang irrasional
- Pikiran-pikiran itu menciptakan perasaan-perasaan yang negative
- Untuk keluar dari pikiran itu, orang perlu menciptakan persepsi alternative
Proses A-B-C
A (Activating Event):
pemicunya misalkan: saat mau audisi jadi Indonesian Idol, gagal lalu dibilang, “Lu nggak punya bakat menyanyi deh”
B (Believe) :
evaluasi kita akan apa yang terjadi: irasional “mestinya aku nggak usah ikut”, “Saya memang terlalu buruk untuk jadi penyanyi”
C (Consequence):
akibat baik secara emotional maupun rational “nggak mau nyanyi lagi”
Ingat pengalaman yang terjadi dengan Elvis Presley, ia pernah ditolak “Mendingan kamu jadi supir truk kembali aja”
Jadi ada 2 kemungkinan believe kita yang menimbulkan masalah dalam kehidupan kita: rational believe (keyakinan yang rasional, membangun, positif) serta irrational (yang tidak membangun bahkan merusak)
Rational believe menghasilkan: healthy negative emotion (kecewa tetapi ingin bangun dan berusaha)
Irrational believe menghasilkan: unhealthy negative emotion (kecewa dan kapok jadi penyanyi)
Contoh Kasus Irrational Beliefs:
- Ada pengirim sms: “Hidupnya sedih dan terpuruk gara-gara tahu dirinya hanya seorang anak angkat”
- Sms lain: direktur, bikin perusahaan sendiri, tidak terlalu sukses. Kinerjanya tidak terlalu sukses, beberapa proposal ditolak maka ia bilang, “Dirinya tidak becus”
“Irrasional belief”:
- Saya semestinya, seharusnya (SHOULD-ing)
“Kalau saya salesman yang baik, seharusnya saya tak pernah ditolak”, “Seharusnya semua orang terkesan dengan presentasi saya”, “Semestinya saya direspek dan dicintai”
- Saya tidak tahan, tidak mampu lagi (CANT STAND-ing)
“Saya tak bisa lagi tahan dengan kondisi buruk perkawinan kami”, “Saya tak mampu lagi bertahan dengan system yang payah di perusahaan ini”, “Saya tak tahan lagi dengan boss yang suka memaki”
- Mengerikan, buruk sekali, ini betul-betul bencana (DISASTER-ing)
“Menyedihkan sekali. Saya hanya seorang anak angkat”
- Mereka payah, tolol (BLAME-ing)
“Mereka tidak mengerti perintah saya, bodoh sekali mereka”, “Anak-anak saya nakal, hidup saya jadi menderita”
- John Milton: “Pikiran itu menarik. Pikiran membuat surga menjadi neraka dan neraka menjadi surga”
TIPS:
- Faktanya apa: “saya anak angkat”,“pacar saya nggak telpon padahal sudah janji”, “penjualan saya tidak mencapai target 3 bulan ini”
- Apa sih pikiran yang muncul, “saya anak yang tak berguna”; “ia tidak sayang lagi dengan saya”; “saya tidak berbakat sales!”
- Perasaan yang muncul: “sedih, malu, kecewa”; “kesel, jengkel”
- Tantang pola pikir: “apa benar?”; “apa benar ini karena memang berarti tidak sayang lagi?”
- Wisdom: “mana yang bisa diubah dan mana yang tidak bisa diubah”
- Afirmasi penting: “kamu oke”
|