1. Why bahas optimisme kali ini?

(1) Dalam model EQ yang dikembangkan oleh Six Seconds, salah satu lembaga EQ international, optimism adalah bagian dari proses CHOOSE kita, pilihan kita;

(2) Pas bulan Desember ini, dimana biasanya waktu tinggal menunggu hari, deadline sudah dekat dan ‘waktu pertandingan’ hampir usai, sikap kita akan sangat menentukan di akhir-akhir perhitungan prestasi ini

(3) Ini menjadi bagian dari tulisan saya di Bisnis Indonesia, yang terbit 7 Desember 2007

  1. Apa pentingnya optimisme itu?
    1. Menentukan sukses & prestasi. Bacalah buku “Learned Optimism” karya Martin Seligman: “Beda dengan pesimis dan optimis tipis sekali: modal potensi sama tetapi prestasinya bisa berbeda jauh!”
    2. Menentukan bangkit seseorang setelah jatuh. Menurut Daniel Goleman, “Seorang pekerja yang optimis akan mencapai hasil yang lebih gemilang saat mereka kalah dan gagal, dibandingkan seorang pekerja yang pesimis”.
    3. Mempengaruhi “Luck Factor”. Bagi saya, “Optimisme adalah pacar dari dewi keberuntungan”
  2. 3 ciri orang yang pesimis: 

(1) Hal yang buruk akan terjadi dalam hidup saya dan lama berakhirnya;

(2) Apapun yang saya lakukan percuma juga, tidak akan banyak mengubah suasana;

(3) Semuanya salah saya, gara-gara saya

  1. Mengapa ada orang yang hidupnya pesimis?
    1. Paling utama, hasil pendidikan ataupun role model dari orang tua. Banyak orang tua tanpa sadar menularkan rasa pesimisnya kepada anaknya.
    2. Trauma & Pengalaman buruk: ditolak melulu oleh cewek, jadi pesimis; gagal terus kalau psikotes, jadi pesimis
    3. Jadi setting utama (meta program): karena jadi program bawah sadar. Dalam hal ini, pesimis bisa diubah dengan hypnosis dan mengubah anchoring di bawah sadarnya. Sebenarnya untuk mengubah program bawah sadar yang pesimis, bisa mengikuti program Hypnotherapy yang akan diadakan tgl 28-29 Januari 2008, untuk informasi: 021-3518505.
  2. Burukkah menjadi orang yang pesimis?
    1. Sebenarnya relatif juga. Tapi, jika dihitung, orang yang pesimis akan BAYAR ongkos ‘kehidupan’ yang lebih mahal. Sebab: orang yang pesimis menambah berat penderitaan, masalah maupun kesulitan yang dialaminya.
  3. Bagaimana PESIMISME itu?
    1. Pesimis: 5 NO (NO HOPE: tidak ada harapan lagi; NO CHOICE: Tidak ada pilihan lagi; NO LUCK: tidak ada keberuntungan yang menyertai saya; NO USE: tidak ada gunanya lagi; NO ACTION: tidak lagi perlu lakukan sesuatu, too late).
  4. Bagaimana OPTIMISME itu?
    1. OPTIMISME: PIKIRAN POSITIF+TINDAKAN POSITIF (POSITIVE MIND+POSITIVE ACTION)
      1. §  Kisah pertempuran Napoleon di Lodi, padahal kekuatan musuh dua setengah kali lebih kuat.
      2. §  Michael Jordan: “Tidak pernah menyerah sebelum pertandingan usai.” Pernah terjadi, saat-saat detik terakhir dimana gelar NCAA menjadi taruhannya, tetapi Jordan melemparkan bola terakhir, membalikkan angka kemenangan bagi timnya, dan menjadikannya seorang legendaris.
  5. Bayangkan, dengan mereka yang pesimis?
    1. Mungkin waktu lihat skornya yang sudah kalah dan waktu tinggal hitungan detik, mereka sudah menyerah dan sudah berpikir kekalahan.
    2. Mereka mungkin memikirkan akan membalas di pertandingan berikutnya.
    3. Tetapi para optimis selalu berpikir, kalau masih ada waktu biar pun hitungannya detik, tidak perlu menunggu lain waktu untuk membalas, tunjukkan perlawanan terbaik sekarang. Dan kalaupun kalah, tidak akan terlalu sia-sia.
  6. Bagaimana menghadapi yang pesimis?
    1. Reframe cara pikir mereka: mereka melihat setengah kosongnya, ajak lihat yang beda
    2. Show me the way: kadang harus ditunjukkan dan didorong untuk melakukan sesuatu dari hal yang positif, toh mengeluh juga tidak ada gunanya misalkan kalau skornya sudah kalah, minimal tunjukkan bagaimana tidak kalah telak
    3. Stay UP: kalau dua-duanya di bawah, akhirnya akan tenggelam. Satu tetap perlu di atas
Pesan akhir, “Selama peluit permainan belum ditiup, berarti permainan belumlah usai!” dari Maradona.
 
 
   
 

home | about us | news update |Training/seminar | gallery | radio talk | testimonial | e-mail us