• “Persepsi is Reality”. Madang apa yang kita persepsikan itulah yang kita anggap sebagai sesuatu yang benar. Bukan apa yang sesungguhnya terjadi, tetapi apa yang terbentuk dalam pikiran kita.
  • Stephen Covey, penulis 7 Habits mengatakan: “We see the World not as it is, but as we are”. Apa yang ada di pikiran kita seringkali kita proyeksikan keluar terhadap apa yang kita lihat. Dari situlah muncul judgement, penilaian terhadap realita.
  • Kita seringkali proyeksikan apa yang ingin kita lihat.
  • Persepsi menciptakan suatu pikiran, pikiran mempengaruhi emosi dan emosi mempengaruhi tingkah laku kita
  • There’s no right or wrong but your thought make it so. Dalam kapsul tentang ibu dengan dua anak yang dibicarakan, dikatakan dengan menarik bahwa baik atau jelek, pikiran kitalah yang menentukan. Itulah yang kita sebut sebagai FRAME berpikir kita.
  • Dalam rumah tangga: konflik terjadi karena persepsi masing-masing pasangan berbeda dan merasa dirinya benar. Begitu pula di tempat kerja: persepsi bos berbeda dengan bawahan. Dalam penjualan: persepsi consumen adalah hal penting
  • TIPS: REFRAMING, yakni membingkai ulang atau membingkai secara berbeda apa yang kita lihat. Ada dua jenis reframing yakni content reframing serta context reframing. Content, yakni memaknai suatu secara berbeda, sehingga menjadi positif. Contoh: marah-marah karena menunggu pesawat yang terlambat, lalu direframe sbb: “Kan bagus. Daripada kita naik, tapi pesawatnya rusak” atau naik kereta agak lama, lalu ada yang reframe: “Kan bagus. Naik lebih lama tapi bayarnya sama”. Context reframing yakni dalam situasi yang beda, ternyata sesuatu yang dianggap buruk bisa berguna, “Istri saya cerewet”, lalu direframe: “lho kan bagus. Soalnya kalau jadi sales ka nada gunanya”.

 
 
   
 

home | about us | news update |Training/seminar | gallery | radio talk | testimonial | e-mail us