| |
Berlaku bukan hanya untuk training EQ saja tapi juga untuk training2 soft skills yang lainnya (Catatan: beda hard skill dengan soft skills, hard skill ketrampilannya kelihatan sedangkan soft skills menyangkut karakter yang perubahannya bisa terjadi dalam waktu tahunan)
Ingat, untuk optimalkan training perlu melibatkan 3 pihak: (1) TRAINER (bagaimana ia membuat mudah untuk diaplikasikan, juga metodenya membuat mudah dicerna), (2) PESERTA (bagaimana kesiapan serta keterbukaan untuk belajar) dan (3) PERUSAHAAN (bagaimana komitmen perusahaan supaya suatu training bisa difollow up)
Masalah Besar dengan training soft skills:
Karena telah banyak memberikan training soft skills, HR Excellency sering kali ditanya. Inilah masalah-masalah training yang sering ditanyakan dari hasil survei HR Excellency sejak tahun 2002:
- Apakah karakter yang buruk bisa diubah?
- Kapan training saya balik modal?
- TOMAT: Tobat-Kumat (bagusnya saja setelah pelatihan selesai, setelah itu kembali lagi ke kebiasaan lama)
- Bagaimana mengukur bahwa trainingnya efektif?
- Bagaimana kalau setelah pelatihan lantas sudah bagus lalu pindah ke tempat lain?
- Kenapa training begini harus mahal?
- Bagaimana caranya supaya trainingnya bisa diaplikasikan segera?
Prinsip-prinsip penting untuk mengoptimalkan suatu pelatihan:
- Empat Level Evaluasi training dari Donald Kirkpatrick (level 1: reaksi; level 2: learning; level 3: behavior; level 4: impact/result)
- Tipsnya? Menaikkan mutu suatu pembelajaran! Harus mulai dari no 1: FUN, setelah itu “Knowledge-nya apa?” jadi harus ada pembelajaran; level 3: apa hal-hal praktis yang bisa disarankan?; level 4: bagaimana perusahaan mencoba mengukurnya?
- Rata-rata setelah 7 hari atau seminggu orang hanya mengingat sekitar 25% saja dari materi yang dipelajari. KALAU INGAT SAJA, SUSAH APALAGI MENERAPKAN?
- Tipsnya? Kemasan materi ditantang untuk bisa mengoptimalkan 3 modalitas belajar: Auditory, Visual, Kinestetik
- Persiapan awal adalah penting. IF YOU FAIL TO PLAN, YOU PLAN TO FAIL.
- Tipsnya? TNA awal adalah penting. Lalu, mengenali empat gaya belajar (Concrete Experience, Reflective Observation, Abstract Conceptualization, Active Experimentation)
- Post evaluation juga akan memberikan masukan penting.
- Tipsnya? Mulai dari training evaluasi langsung setelah pelatihan! Lalu, beberapa hal yang bisa dilakukan misalkan: meeting setelah pelatihan selesai; post assessment; post meeting (7 Habiters)
Menjawab pertanyaan yang paling banyak ditanyakan!
- Apakah karakter yang buruk bisa diubah? JAWAB: Yes. The sooner, the better. Butuh waktu, seperti menggerinda besi menjadi jarum. But yes, it’s possible. Ingat cara BENJAMIN FRANKLIN berkomitmen membangun nilai hidupnya!
- Kapan training saya balik modal? JAWAB: Training soft skills bisa bertahun-tahun kemudian baru balik modal tapi bisa juga langsung dirasakan. Yang jelas 3 pihak harus kerjasama. Trainernya mikirkan aplikasi, peserta mau terbuka (the problem is not out there, the problem is ME!) dan perusahaan meluangkan waktu untuk fasilitasi
- TOMAT: Tobat-Kumat (bagusnya saja setelah pelatihan selesai, setelah itu kembali lagi ke kebiasaan lama) JAWAB: Prinsip 72-21-1 (72 jam diaplikasikan segera, dilakukan minimal 21 kali, satu demi satu), feedback juga penting kalau bisa diberikan
- Bagaimana mengukur bahwa trainingnya efektif? JAWAB: lihat kembali 4 level training evaluasi dari Kirkpatrick
- Bagaimana kalau setelah pelatihan lantas sudah bagus lalu pindah ke tempat lain? JAWAB: bagaimana kalau ia tidak ditraining dan tetap bekerja dengan Anda? Bukankah lebih rugi?
- Kenapa training begini harus mahal? JAWAB: mahal itu relatif. Beberapa trainer harus menjual rumah untuk belajar. Trainer sendiri harus berinvestasi sebelum ia mengajar.
- Bagaimana caranya supaya trainingnya bisa diaplikasikan segera? JAWAB: dalam 72 jam segera lakukan, tips-tips diterapkan, catat success diary
- Bisakah EQ dilatih? JAWAB: Patricia Patton, penulis buku EQ yang terkenal mengatakan “IQ is an unchangeable genetic factor which we are born with. EQ is not. We can improve it with commitment, practice, knowledge, and will.” Pendek kata, IQ tidak bisa ditingkatkan, sedangkan EQ bisa ditingkatkan secara simultan.
Akhir kata, dalam pelatihan-pelatihan HR Excellency ada minimal 5 hal yang kita ingatkan di akhir pelatihan: (1) Segera terapkan dengan prinsip 72 jam; (2) Kuantitas dulu baru kualitas; (3) Baby steps, langkah kecil dulu; (4) Ikatkan dengan orang lain dalam kelompok; (5) Cari “buddy”, rekan yang bisa mendukung
Bagaimana dengan training EQ dari HR Excellency untuk mengoptimalkan proses belajar sehingga efektif?
- Persiapan: ada Training Need Analysis, Learning Style Inventory, 360 penilaian Emotional Maturity Assesment + Personal Analysis System
- Pelaksanaan: multi sensori, multi method, mulai dari story telling, experiential learning bahkan menghafal pun dengan cara menari, video presentation, menyanyi
- Konseling one on one! (khususnya di kelas in-house!)
- Post: assessment ulang, pertemuan bersama!
- Website dan e-group!
|
|