| |

Mickey Mouse is, to me, a symbol of independence. He was a means to an end.
(Walt Disney)
Pada pekan ini, dari 7 Februari sampai 22 Februari, karib keturunan Tionghoa merayakan tahun baru Imlek. Tahun ini adalah tahun tikus. Apa yang menarik dari tikus, tepatnya tikus tanah ini?
Tidak disangkal kalau sebagian orang melihat tikus sebagai binatang menjijikan dan mengganggu. Tapi, dalam horoskop Cina, tikus merupakan simbol kecerdasan, kemampuan menabung, serta potensi survival yang luar biasa. Oleh karenanya, tidak ada salahnya kalau tulisan ini dengan sengaja memaparkan beberapa eksperimen dan pemahaman tentang motivasi dari sosok binatang pengerat ini.
Bisakah kita belajar dari tikus? Tentu saja. Bukankah kesuksesan Walt Disney berawal dari inspirasi tikus-tikus yang berlarian di gedung tua tempat ia melukis. Pada tahun 1928, lahirlah karakter kartun kondang, Mickey Mouse. Kartun tikus berkuping lebar ini telah mengantar Disney pada kesuksesan tak terbayangkan. Lebih-lebih setelah mengalami kegagalan bisnis bertahun-tahun. Film pertama Miskey berjudul “Steamboat Willie” di mana Walt Disney menggunakan suaranya sendiri langsung sukses. Tetapi, seekor tikus telah membalik nasibnya! Saya pikir, itulah kisah motivasi yang selalu dikenang oleh sejarah.
Lagipula, selama puluhan tahun, banyak perilaku tikus yang menjadi ide dalam percobaan dan eksperimen, dipakai untuk menjelaskan perilaku manusia. Bahkan, beberapa ahli psikologi, khususnya psikologi eksperimen, menggunakan tikus untuk mendapatkan pemahaman mengenai perilaku. Berikut ini adalah beberapa eksperimen dengan tikus, di mana kita pun bisa belajar banyak mengenai motivasi dalam diri kita!
Eksperimen pertama menyoal pentingnya deadline. Pada suatu ketika, eksperimen dilakukan di mana para tikus diajari untuk memencet potongan besi selama beberapa kali. Bila berhasil, tikus itu diberi hadiah makanan. Ada eksperimen di mana tikus belajar untuk mendapat makanan dengan memencet 5 kali, 10 kali hingga 20 kali. Mula-mula, para tikus dikondisikan dulu. Lantas, penelitian pun dilakukan untuk melihat berapa lama tindakan para tikus itu. Ternyata, yang menarik justru ditemukan bahwa para tikus ini akan memencet lebih cepat lagi pada saat-saat menjelang akhir hitungan. Semakin tikus manyadari bahwa jumlah pencetannya semakin dekat dengan makanan, semakin cepatlah tikus ini memencet. Lantas, apa pelajaran motivasi yang dipelajari dari perilaku tikus ini?
Kenyataan ini menjadi pelajaran penting soal pentingnya deadline dalam tujuan kita. Ternyata, bukan hanya tikus, manusia pun pada saat menjelang akhir dan semakin dekat dengan tujuan yang bisa dilihatnya, ia justru semakin bersemangat dan bertenaga. Ini menjelaskan mengapa kita perlu tenggat waktu dalam rencana dan tujuan kita. Supaya semakin dekat tujuan, semakin bersemangatlah kita.
Eksperimen kedua menyoal kekuatan motivasi. Kali ini eksperimennya dilakukan dengan tikus betina yang mempunyai pasangan dan anak. Tikus ini dilatih menyeberangi suatu jembatan beraliran listrik untuk mendapatkan makanannya. Awalnya, tikus betina melakukannya dengan baik. Tetapi makin lama, kekuatan struman jembatan yang harus dilewatinya ditambah, hingga akhirnya si tikus betina menyerah. Lantas, eksperimen kedua pun dilakukan. Kali ini, di ujung jembatan terdapat pasangannya, yakni tikus jantan yang tidak bisa mengambil makanan kecuali dibantu oleh tikus betina. Tetapi, untuk menolong tikus jantan pasangannya, si tikus betina harus melewati jembatan beraliran listrik yang sudah tidak ingin dilewatinya di saat eksperimen pertama. Tetapi, ketika terdapat tikus jantan di seberang jembatan, tikus betina ini rela ‘disetrum’ untuk membantu pasangannya dan dirinya mendapatkan makanan. Namun, setruman pun ditingkatkan terus hingga akhirnya, meskipun ada pasangannya, si betina ini menyerah untuk lewat.
Lantas, eksperimen ketiga pun dilakukan. Kali ini, yang ditaruh di depan sebarang adalah anak-anaknya yang perlu diberi makan. Tetapi, untuk itu ia harus melewati jembatan beraliran listrik, yang sudah tidak mau dilaluinya di percobaan kedua. Nyatanya, apa yang terjadi? Saat melihat anak-anaknya, si tikus betina kembali rela disetrum lagi, dengan tingkat setruman listrik yang lebih besar, demi menyelamatkan anak-anaknya.
Tentu saja, penelitian ini sangat menarik. Hal ini sebenarnya bisa dikaitkan pula dengan motivasi soal tujuan hidup kita. Para tikus ini mengajarkan, kalau motivasinya hanya untuk sendiri, level setruman listrik yang ingin ditanggung jauh lebih rendah dibandingkan kalau motivasinya demi pasangan maupun demi anak-anaknya. Hal ini tentu saja bisa kita kaitkan dengan tujuan hidup kita, misalkan ‘kebebasan finansial’. Kalau tujuannya, hanya untuk pribadi semata, tidak akan sebesar kalau tujuan itu melibatkan keluarga apalagi ada tujuan untuk masyarakatnya. Tak mengherankan bukan, mengapa orang rela mati dan berperang demi tujuan perang yang disebutnya ‘untuk kemerdakaan bangsa’.
Penelitian ketiga yang menarik adalah penelitian yang dilakukan oleh bagian Human Relations di Yale University pada tahun 1948. Saat itu, ada dua ekor tikus, satu lapar dan satunya lagi kenyang. Lalu, kedua tikus dimasukkan ke kotak di mana tikus ini akan mendapatkan makanan jika menyentuh panel tertentu. Ternyata, tikus yang lapar lebih aktif sehingga dengan cepat belajar mendapat makanan dengan cara menyentuh panel. Tikus kenyang, hanya pasif, bahkan hanya tidur-tiduran. Berikutnya, setelah kedua tikus ini kenyang, kedua tikus mulai diberikan setruman listrik. Kedua tikus memberontak dan mencari cara supaya bisa keluar. Sebenarnya, ada tombol lain yang bisa disentuh oleh tikus-tikus itu untuk menghentikan setruman listrik. Dalam eksperimen ini, tikus yang sebelumnya lapar dan telah belajar menyentuh panel ternyata lebih dahulu menemukan tombol yang menghentikan setruman listrik.
Penelitian terakhir ini dengan jelas menunjukkan bahwa adanya kondisi yang tidak nyaman (tikus merasa lapar) seringkali merupakan motivasi yang baik untuk lebih kreatif dan mencari solusi (akhirnya tikus lapar lebih cepat mencari panel). Sebaliknya, rasa aman dan sudah nyaman, seringkali membuat kita gampang puas dan tidak berusaha (tikus kenyang jadi malas). Dan lebih menarik lagi, kita belajar bahwa dengan belajar mengatasi berbagai kesulitan, kita akan mempunyai sumber daya besar bagi kita untuk menghadapi tantangan maupun kesulitan berikutnya (akhirnya tikus yang lapar lebih cepat menemukan tombol pemati listik).
Semoga, dengan beberapa penelitian soal tikus ini kita pun belajar lebih banyak mengenai motivasi dalam diri kita. Bagi Anda yang merayakan, selamat menyongsong tahun Baru Imlek dengan semangat tikus yang pantang menyerah!
|
|