"Killing Him Softly"
Ada suatu peristiwa ditahun 1980, saat saya mendapatkan surat peringatan dari General Manager atasan yang orang Inggris. Pada intinya dia menyalahkan saya, kenapa cabang Jambi mengirim mekanik ke Muara Bungo (beberapa jam dari Jambi, Sumatera) padahal cabang Padang juga mengirim mekanik ke customer yang sama. (Jadi, Service Manager kami di Padang yang orang Swiss ternyata mengadu ke GM). Dari arsip yang ada, GM yang sama pernah membuat surat 6 tahun sebelumnya bahwa customer di Muara Bungo dicover oleh cabang Jambi.
Dalam situasi itu, saya sempat marah (masih muda waktu itu) tapi untungnya, saya sempat tunggu dulu sehari sebelum memberikan response, sambil berpikir bagaimana caranya untuk membuat dia tahu bahwa saya tidak salah tapi dia tidak merasa disalahkan. Kalau saya bilang:" Gimana sih kamu, kan kamu sendiri yang buat keputusan, kenapa sekarang kamu menyalahkan saya". Tapi opsi itu tidak saya ambil karena pasti dia akan marah karena 'dilawan' dan saya pasti dalam posisi sulit nantinya. Akhirnya saya buat surat (saat itu belum ada email) yang isinya cuma 2 baris:
" I have received your reminder and fully undertood the contents.
With that reminder, does it mean that your previous letter (attached) is no more valid?".
Jadi saya tidak defensif maupun ofensif, tapi cuma bertanya dimana sekaligus meng-konfirm authority dia untuk memilih keputusan.
Reaksi dia betul2 surprising. Setelah menerima surat saya, dia telpon sambil tertawa:
" Filing kamu hebat ya, aku sendiri sudah gak punya lagi surat itu. Mulai sekarang cabang Jambi yang cover customers di Muara Bungo".
Dia tidak merasa 'lose' tapi tahu bahwa dia salah walaupun tidak diakui secara langsung.... .dan saya 'win' karena mencapai objective agar dia tahu bahwa dia yang salah, sekaligus memenangkan service coverage untuk customers di Muara Bungo.
Saya sudah "kill him softly" dengan memakai teori "soft fight" (mungkin istilah ini gak ada dibuku buku ya, biar gampang aja mengingatnya) . Karena sifatnya yang 'soft' (lembut), lawan tidak merasakan sebagai 'serangan' tapi malah merasa tersanjung karena diberi kesempatan untuk memutuskan.
|