Studi Kasus (Business Case) dan Best Practices Perusahaan yang Menerapkan Kecerdasan Emosi (EQ) di Dunia dan di Indonesia Oleh: Anthony DIo Martin

Studi Kasus (Business Case) dan Best Practices Perusahaan yang Menerapkan Kecerdasan Emosi (EQ) di Dunia dan di Indonesia Oleh: Anthony DIo Martin

Sejak membawakan konsep dan training kecerdasan emosi (EQ) di Indonesia sejak tahun 2002, melalui lembaga HR Excellency, salah satu pertanyaan yang muncul adalah: “Adakah contoh kasus atau best practices perusahaan yang telah sukses menerapkan kecerdasan emosional (EQ)?”. Tulisan ini pun mengintisarikan berbagai data, riset serta pengalaman kami di HR Excellency dalam mengajarkan dan menyebarkan konsep kecerdasan emosi (EQ) melalui pelatihan ataupun training-training EQ (Kecerdasan Emosi) di berbagai perusahaan di Indonesia.

Studi Kasus dan Best Practices EQ Berbagai Organisasi di Dunia

Pada kesempatan kali ini, kita akan bicara soal beberapa hasil penelitian serta praktek perusahaan dunia yang dilaporkan berhasil dalam menerapkan konsep kecerdasan emosi (EQ). Diantara berbagai program yang kini tengah dipopulerkan adalah Crucial Competence yang baru-baru ini diperkenalkan oleh pelopor EQ Daniel Goleman (apa sajakah kompetensi Cricual Competence bisa dibaca disini: http://www.hrexcellency.com/crucial-competence-12-kompetensi-eq-penting-yang-wajib-dimiliki-para-pemimpin/ ) Best practices pertama dimulai dari US Air Force.  Mula-mula dilaporkan bahwa para rekruter di US Air Force yang berhasil, ternyata rata-rata memiliki kemampuan yang tinggi dalam hal: asertivitas (assertivity), berempati (empathy), kegembiraan (happiness) serta kesadaran emosional diri (emotional self awareness). Berdasarkan hasil identifikasi terhadap kemampuan kecerdasan emosi (EQ) ini kemudian dibuatlah standar seleksi untuk menerima para rekruter di lingkungan US Air Force berdasarkan kemampuan kecerdasan emosional (EQ) ini. Hasilnya, menurut laporan Government Accounting Office (GAO), pemerintah US bisa menghemat sekitar $3 juta dollar per tahun, karena efektivitas rekrutmen yang meningkat tajam.

Ada pula hasil penelitian dari Boyatzis (sejak 1999) yang dilakukan untuk melihat manfaat kecerdasan emosi (EQ) di lingkungan konsultan. Ia melakukan riset terhadap para partner berbagai lembaga konsultan internasional. Hasilnya menarik. Para partner konsultan yang memiliki 9 hingga 20 macam skor kompetensi kecerdasan emosi (EQ) yang tinggi ternyata rata-rata menghasilkan $ 1.2 juta lebih daripada partner mereka yang skornya dibawah rata-rata. Hal ini kemudian mendorong berbagai lembaga konsultan internasional untuk merevisi atau menambahkan persyaratan kompetensi kecerdasan emosional (EQ) yang semakin banyak bagi para konsultannya.

Lain lagi di  perusahaan L’Oreal. Perusahaan yang sudah ke-7 kalinya dinobatkan sebagai the most ethical company (lihat artikelnya disini: http://www.loreal.com/media/press-releases/2016/mar/ethispere-2016) ini, ternyata sangat mengutamakan kecerdasan emosi (EQ). Menurut laporan di L’Oreal pernah dilakukan eksperimen untuk membandingkan efektivitas rekrutmen yang berdasarkan kompetensi kecerdasan emosi (EQ). Caranya, dilakukanlah seleksi agen sales berdasarkan kemampuan EQ-nya. Hasilnya, ternyata agen sales yang lolos seleksi dengan sistem EQ ini di L’Oreal menunjukkan kemampuan yang lebih baik daripada yang diseleksi dengan menggunakan cara-cara L’Oreal yang konvensional dengan banyak mengacu pada kemampuan teknis dan IQ. Dalam setahun, agen sales yang lolos seleksi berdasarkan kemampuan EQ-nya, mampu menjual lebih dari $91.370 dibanding sales-sales yang lainnya. Selain itu, agen sales yang diseleksi berdasarkan EQ-nya, tingkat turn overnya lebih rendah sekitar 63% daripada yang diseleksi dengan cara biasa.

Laporan tambahan dari Hay/Mc Ber Research and Innovation Group juga menarik. Hasil riset mereka menunjukkan bahwa pelatihan-pelatihan kompetensi kecerdasan emosional (EQ) seperti percaya diri, berinisiatif dan berempati pada agen asuransi ternyata mampu meningkatkan rata-rata penjualan hingga mencapai $114.000. Sementara agen biasa, rata-rata hanya mampu menjual $54,000.

Akhirnya, ada pula hasil dari Center for Creativity Leadership terhadap para eksekutif yang sukses dan gagal. Ternyata dari riset yang dilakukan sejak tahun 2003 (Ruderman & Bar-On, 2003) dengan sekitar 300 eksekutif menunjukkan banyak diantara para eksekutif yang gagal disebabkan karena kelemahan pada komponen-komponen kompetensi EQ-nya (detil berbagai risetnya bisa dilihat di laporan ini: http://www.eiconsortium.org/reports/reports.html ).  Sebaliknya angka korelasi antara kesuksesan eksekutif itu dengan komponen kecerdasan emosi (EQ) mereka sekitar 0.74 yang beratti sekitar 55% lebih kesuksesan para eksekutif puncak ini tergantung pada komponen kecerdasan emosional (EQ) mereka. Diantaranya adalah kemampuan adaptasi dengan perubahan yang payah, kemampuan kerjasama dalam tim yang jelek serta kemampuan interpersonal yang lemah.

Studi Kasus Aplikasi Kecerdasan Emosi (EQ) di Indonesia

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana dengan perusahaan serta berbagai lembaga di Indonesia. Bagaimanakah konsep serta pembelajaran kecerdasan emosi (EQ) bisa diterapkan dan membantu berbagai organisasi di Indonesia?

Karena itulah, berdasarkan pengalaman kami dalam berbagi dan mengajar di berbagi lembaga maupun organisasi di Indonesia melalui HR Excellency, inilah beberapa organisasi yang menyadari serta menekankan pentingnya memiliki karyawan hingga pimpinan yang mempunyai level kecerdasan emosi (EQ) yang baik. Daniel Golemen, memberikan istilah “High EQ Organization” untuk lembaga ataupun organisasi yang mulai menerapkan kecerdasan emosi (EQ) di lingkungan kerja mereka.

Salah satu industri di Indonesia yang mengalami tantangan luar biasa adalah dunia perbankan. Karena itulah, sebagai contoh di Bank OCBC NISP Indonesia menyadari pentingnya memadukan IQ dengan EQ para leadernya. Sejak masuknya manajemen Bank OCBC Singapura di Bank NISP di tahun 2004 banyak perubahan dan pembenahan yang dilakukan. Selain sistem, strategi dan manajemen, salah satu konsep yang sempat diperkenalkan kepada para leader mereka adalah kecerdasan emosi (EQ). Selama kurang lebih 5 tahun, secara rutin diadakan program EQ berjudul “EQ for Leader” untuk semua level mulai dari top manajemen hingga managernya yang dilakukan di OCBC NISP Learning Center (ONLC) di Bandung. Dan salah satu bentuk inisitif hasil pembelajaran EQ yang pernah dilakukan selama beberapa saat sejak tahun 2013 adalah apresiasi token serta afirmasi untuk berbagai inisiatif dan “tindakan positif” dari para stafnya oleh para leader di Bank OCBC NISP.

Begitu juga, Bank DBS di Indonesia. Sejak tahun 2014, sebagai rangkaian pengembangan kompetensi para staf dan leader, Bank DBS Indonesia juga mensyaratkan pembelajaran EQ untuk para leader mereka. Hanya saja, di Bank DBS penekanannya lebih pada aplikasi EQ di tempat kerja (EQ at Work). Sementara itu, di Bank UOB, justru pembelajaran kecerdasan emosional (EQ) dikaitkan dengan “Stress Management”. Intinya EQ menjadi basis pengelolaan stress, bukan dengan dihilangkannya stress tapi justru dioptimalkan cara pengelolaannya.

Contoh perusahaan yang memilki business case EQ yang positif lainnya adalah Mitsubishi. Saat ini, dengan pertumbuhan passenger car-nya, Mitsubishi melihat pentingnya EQ (kecerdasan emosi) bagi staf maupun leadernya. Karena itulah, secara rutin training EQ diberikan sebagai bagian dari Leader Development Program sejak 2013 hingga sekarang. Bahkan, di dalam program training EQ ini juga dilanjutkan dengan EQ Coaching Session, lengkap dengan assesement dan tes EQ. Hal ini menunjukkan komitmen manajemen Mitsubishi serta keyakinan perlunya kecerdasan emosional (EQ) untuk mensupport operasional bisnis kesehariannya.

Bukan hanya perusahaan dan organisasi yang berafiliasi dengan internasional. Bahkan, perusahaan serta organisasi nasional pun mulai menyadari serta memahami pentingnya kecerdasan emosi (EQ) untuk mensupport bisnis mereka. Sebagai contoh perusahaan nasional yang rutin mengadakan training hingga melaksanakan berbagai EQ coaching session bagi para leader hingga staffnya misalnya: Kalbe Group, Combiphar, Matahari Department Store, Jababeka, BCA Finance, Permata Hijau Group (PHG) dan masih banyak hingga.

Bahkan berbagai institusi pendidikan pun mulai rutin menyelenggarakan pendidikan EQ bagi para pendidik serta dosennya, sebagai contoh adalah: Sekolah Kesatuan di Bogor, Sekolah Penabur, Yayasan Ursulin, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Tarumanegara, Universitas Parahyangan, Universitas Trisakti, Universitas Atmajaya, serta masih banyak lagi.

Yang menarik, dari berbagai hasil serta interview yang dilakukan dengan berbagai pimpinan serta organisasi yang telah melakukan aplikasi EQ dalam bentuk program pelatihan maupun coaching di perusahaan mereka mengakui,

“EQ bukanlah berarti IQ tidak perlu. Hanya saja, dengan berbagai produk dan harga serta service yang sama, yang membedakan adalah kualitas manusianya. EQ pada seseorang akan membuat perbedaan penting, Dan kami melihat hasilnya setelah diberikan pelatihan dan coaching”

Demikianlah berbagai studi kasus serta business case di atas kiranya memberikan kita penguatan serta keyakinan bahwa kecerdasan emosi (EQ) bukanlah hanya trend ataupun proyek yang “nice to have” (bagus kalau ada). Tetapi, pembelajaran EQ serta aplikasinya, bisa memberikan dampak bagi internal organisasi yang lebih harmonis, juga memberikan keunggulan kompetitif bagai perusahaan karena menentukan kualitas layanan serta interaksi organisasi dengan pihak luar. EQ makes difference! EQ nyata-nyata membuat perbedaan.

Anthony Dio Martin, trainer, inspirator, Managing Director HR Excellency & Miniworkshopseries Indonesia, penulis buku-buku bestseller, executive coach,  host di radio bisnis SmartFM, dan penulis di berbagai harian nasional. Website: www.anthonydiomartin.com dan FB: anthonydiomartinhrexcellency dan IG: anthonydiomartin

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *