Salah Kaprah Seputar Emosi dan Kecerdasan Emosional

Kenapa sih Cerdas Emosi? Emangnya emosi bisa cerdas? Terus, kalau cerdas emosi, apakah artinya kita bakalan nggak pernah marah lagi? Apakah cerdas emosi lebih cocoknya buat cewek aja. Cowok, masih perlukah cerdas emosi? Lalu, apakah emosi selalu negatif? Bukankah ada juga emosi cinta, sayang, rindu? Lantas, lebih tepat mana, istilah Emotional Intelligence (EI) ataukan Emotional Quotient (EQ)?

Begitulah. Ada banyak salah kaprah soal emosi, juga soal yang namanya Kecerdasan Emosional. Mari kita luruskan! Jadi, emosi memang tidak selamanya negatif, bahkan banyak emosi yang sebenarnya positif, seperti cinta, sayang bahkan bahagia. Hanya saja, selama ini telah terjadi penurunan kadar penggunaan kata emosi sehingga maknanya menjadi cenderung negatif. Misalkan: “Loe jangan ganggu gue ya. Gue lagi emosi nih!” Padahal, maksudnya adalah marah. Disini, emosi seakan diidentikkan dengan marah. Selain itu banyak orang berpikir bahwa belajar Kecerdasan Emosional itu menunjukkan orang itu bermasalah dengan emosinya. Padahal, yang Kecerdasan Emosional harus dimiliki oleh setiap orang. Sekali lagi, kecerdasan emosi bukan melulu soal anger management (mengelola marah) tapi lebih luas dari itu, cerdas emosi artinya kita bisa kelola diri (INTRAPERSONAL) dan kelola orang di sekitar kita (INTERPERSONAL). Artinya, semua orang, baik yang bermasalah ataupun tidak, membutuhkan kecerdasan emosional setiap hari! Lalu, memangnya emosi bisa cerdas? Begini. Emosi itu pada dasarnya seperti “pesuruh” kita. Bisa diarahkan untuk yang baik maupun yang jahat. Tergantung bagaimana kita mengelolanya. Makanya, emosi harus di-navigasi, atau diarahkan seperti kita mengarahkan kapal kita. Tugas kita adalah mengelolanya agar jadi emosi yang cerdas. Misalkan, ketika marah. Apakah marah kita cerdas? Misalkan seorang atlit remaja badminton berkisah bagaimana ia pernah kesal dengan wasit garis yang dianggap curang. Ia makin kesal dan marah sampai nyaris membanting raket dan gara-gara kemarahan itu, ia tidak fokus bermainnya lantas kalah. Itulah contoh emosi yang tidak cerdas. Lalu, emosi tidaklah melulu untuk cewek. Memang, sering dikatakan bahwa cewek biasanya lebih emosional tapi bukan berarti cowok tidak perlu emosi sama sekali. Bahkan, seringkali kita melihat cowok yang gentlemen adalah mereka yang kesannya maskulin, tapi tetapi bisa ramah dan bersikap sopan, serta menghargai orang lain, khususnya wanita atau orang tua. Terakhir soal istilah Kecerdasan Emosional yang sering disingkat dengan Emotional Intelligence (EI) atau Emotional Quotient (EQ). Umumnya, kita masih terbawa oleh istilah IQ (Intelectual Quotient) atau pengukuran intelektual, akibatnya kitapun menggunakan istilah EQ (emotional quotient) ataupun pengukuran emosional. Sayangnya, emosi tidak seperti intelektual kita yang lebih udah diukur. Emosi lebih sulit. Karena itulah ada yang lebih suka menggunakan istilah emotional intelligence untuk menggamnbarkan bagaimana secara cerdas kita menggunakan emosi kita. Bahkan, sebenarnya, di lembaganya kita yakni HR Excellency, kita lebih getol memperkenalkan istilah EQM (Emotional Quality Management) artinya kemampuan mengelola emosi berkualitas. Lebih tepat dan lebih bagus maknanya kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *