Perubahan atau Transisi?

Things do not change; we change. (Henry David Thoreau)

Istilah ‘transisi’ spopular setelah diperkenalkan oleh William Bridges dalam bukunya berjudul “Transition”. Persisnya, William Bridges mengatakan banyak orang terobsesi dengan perubahan. Tetapi, menurutnya, perubahan itu sendiri maknanya sangat dangkal. Bahkan, berubah secara fisik pun sudah dapat disebutkan sebagai perubahan.

Namun, kenapa disebut istilah transisi? Karena menurutnya, transisi mengandung makna lebih mendalam, yakni bukan hanya sekadar fisik, tetapi juga emosional dan mental.

Berikut adalah salah satu contoh perubahan yang gagal. Saya pernah melihatnya pada salah satu manager asuransi yang bercerita bagaimana ia dulu pernah bekerja dengan sistem yang berbeda di tempat yang sebelumnya. Menurutnya, sistem di tempat lamanya lebih baik dan karyawan juga lebih kompak. Setelah di tempat baru, ia merasa tidak kerasan. Akibatnya, meskipun sudah lama pindah ke perusahaan yang baru, ‘pikirannya’ masih tinggal di tempat yang lama.

Kejadian yang sama juga pernah terjadi pada seorang pemimpin sales perempuan yang mengomandoi suatu unit produk baru di perusahaan baru. Tatkala beberapa bulan di sana, si manager ini selalu mengeluh. Ia sering sekali membanding-bandingkan dengan sikap anak buahnya dulu. Ia membayangkan seandainya timnya adalah timnya yang dulu, pasti launching produk yang dilakukannya akan sukses besar.

Perhatikan, baik si manager asuransi maupun si manager sales ini mengalami penyakit yang dikatakan oleh William Bridges, “Mereka hanya berpindah secara fisik tetapi secara mental, mereka masih berada di tempat yang sama”.

Mungkin, Anda pernah mendengar kisah motivasional yang sangat bagus tentang kisah Jendral Cortez yang tatkala tiba di tempatnya yang baru, di sekitar wilayah Amerika Latin. Ia segera menyuruh para prajurit Spanyol membakar kapal-kapalnya. Setelah semua kapal-kapalnya terbakar, dengan mantap Cortez pun berkata, “Sekarang, setelah kapal-kapal itu dibakar, maka pilihan kita hanya ada dua: antara mati atau pun berjuang dengan gigih hingga kita menang!” Dengan hanya dua pilihan itu, Cortez tahu bagaimana membuat pikiran prajuritnya tidak lagi tertuju pada situasi, “Kalau kita gagal, kita selalu bisa baik ke kapal kita dan pulang”.

Nah, si Jendral Cortez ini mengajarkan suatu pelajaran penting yang perlu diketahui oleh banyak perusahaan, organisasi, maupun individu yang ingin melakukan perubahan. Baginya, jangan hanya berubah fisiknya, strukturnya, metode kerjanya, tetapi orangnya pun harus betul-betul mengalami proses perubahan yang disebut dengan “transisi”.

Nah, bagaimanakah proses transisi ini yang sesungguhnya? Berdasarkan pengalaman William Bridges selama bertahun-tahun membantu perubahan organisasi dan individu, ada tiga fase penting yang harus dikelola di dalam melakukan proses transisi dalam kehidupan kita.

Fase pertama adalah fase mengakhiri (ending). Di sini, yang harus diakhiri adalah pola pikir, cara pandang, maupun pola bekerja yang lama. Dalam hal ini, setiap orang siap untuk keluar dari zona kenyamanan (comfort zone) dan memulai sesuatu yang baru. Tetapi, hal inilah yang paling sulit karena bagian ini sulit dilepaskan. Akan susah melepaskan sesuatu kebiasaan di mana kita sudah merasa nyaman bertahun-tahun. Biasanya, untuk mengakhiri sesuatu, orang masih sering berkeluh kesah dan seringkali membanding-bandingkan dengan kondisi yang dulu. Kisah ini dengan mudah mengingatkan kita kejadian dalam Kitab Suci. Ada kisah tentang Nabi Musa yang membawa bangsa Israel keluar dari Mesir. Meskipun telah keluar dari Mesir, kebiasaan dan cara hidup mereka tetap sama dan sering berkeluh kesah. “Coba bandingkan dengan dulu. Kan mendingan kita dulu, iya nggak?” atau kalimat, “Andaikan saja kita bisa kembali ke masa dulu kita. Kan hidup kita lebih enak, lebih nyaman”. Memang, kebanyakan dari kebiasaan orang adalah berfantasi dan membayang situasi yang enak-enak dimasa dulu. Itulah yang menjadikan mereka sulit melepaskan (mengakhiri) yang dulu. Tetapi, untuk memasuki proses transisi yang sukses, orang harus berani mengakhiri, melupakan yang lalu.

Fase berikutnya disebut fase netral (neutral zone). Di fase inilah, pikiran kita menjadi lebih terbuka dengan situasi dan keadaan yang baru. Singkatnya di fase inilah dengan mantap kita mulai mengatakan, “Sekarang saya harus realistis. Saya akan siap menyongsong yang baru”. Sikap menyongsong yang baru inilah yang terjadi di fase ini. Fase ini sebenarnya merupakan fase paling membingungkan dan fase penuh risiko. Masalahnya, hal yang baru belum kelihatan jelas dan orang berada dalam daerah ‘tak bertuan’. Di sini, orang biasanya belum bisa mengatakan apa pun. Hanya sikap optimis yang membuat mereka terus melangkah. Yang terpenting di dalam fase ini adalah orang harus terbuka terhadap masukan, siap menerima apa pun yang baru serta mencari informasi-informasi yang mendukung.

Berikutnya, fase terakhir adalah memulai sesuatu yang baru (begining). Disinilah orang siap untuk menyongsong dan hidup di “Tanah Terjanji” (Promised Land) yang baru. Pada fase ini, orang sepenuhnya melepaskan diri dari kungkungan cara lama dan memulai hal-hal serta kebiasaan yang baru. Untuk berhasilnya, memang dibutuhkan syarat dua hal mutlak, yakni visi baru serta rencana kerja yang baru yang bisa membawa ke perubahan yang berhasil.

Demikianlah pembaca, di sini kita belajar bahwa perubahan belum tentu berhasil karena proses transisinya belum terjadi. Sebagai penutup, saya pikir pelukis Pablo mempunyai kalimat yang sangat bagus untuk kita renungkan, “Sesuatu penciptaan yang baru bisa dimulai, tatkala hal-hal yang lama sudah bisa kita tinggalkan”. Itulah makna transisi sesungguhnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *