Motivasi Gunung Es

Dalam sebuah sesi konseling, seorang guru pernah berkata pada saya, “Pak Martin, sebenarnya saya ini terpaksa jadi guru, waktu itu saya sudah tidak bekerja lama sekali dan semua lamaran saya tidak ada yang tembus, sehingga begitu ada tawaran jadi guru saya terpaksa mengambilnya…” Sepenggal kalimat awal itu diteruskan dengan cerita-cerita lainnya yang menyatakan bahwa ia sudah tidak memiliki passion lagi untuk mengajar dan hanya sekedar bertahan demi uang. Itu sebabnya ketika ada pekerjaan-pekerjaan tambahan tanpa kompensasi uang, guru tersebut cenderung komplain, mengerjakan dengan setengah hati, dan terus memprovokasi guru-guru lain untuk ikut komplain.

Di sebuah sesi konseling lain dengan guru yang berbeda, saya menemukan sebuah kondisi yang berbeda 180 derajat. Ketika saya mengajukan pertanyaan seputar passion’nya dalam mengajar, ia menyatakan, “Pak, saya merasa mengajar itu memang sudah menjadi panggilan hidup saya. Kadang-kadang saya sampai kurang tidur demi mempersiapkan materi. Saya selalu berusaha mencari metode mengajar baru yang lebih kreatif dan bisa mudah ditangkap oleh murid saya. Memang, sekolah tidak memberi saya uang tambahan untuk itu, tapi entah kenapa saya selalu merasa puas sekali kalau apa yang saya lakukan ternyata berhasil membuat murid menyenangi mata pelajaran saya! Jauh lebih puas ketimbang menerima gaji saya di akhir bulan.” Meski guru tersebut tidak mengingkari kebutuhannya akan uang sebagai modal hidup, tetapi saya memang bisa melihat sebuah “cahaya” yang berbeda dari bola matanya ketika ia menceritakan semangatnya dalam mengajar.

Di organisasi manapun, kita akan selalu menjumpai 2 jenis orang seperti kedua guru di atas. Saya menyebut orang pertama adalah orang-orang yang digerakkan oleh motivasi ekstrinsik. Ia membutuhkan “drive” dari pihak luar untuk membuatnya bersemangat. Biasanya orang-orang jenis pertama ini membutuhkan iming-iming uang, pujian, status atau prestise. Itu sebabnya pada akhirnya orang-orang seperti ini hanya sekedar memenuhi job desc.’nya karena sebenarnya dia tidak pernah menikmati apa yang ia lakukan. Ia melakukannya hanya sebagai syarat untuk menerima reward.

Sedangkan pada guru kedua, saya menyebutnya sebagai orang yang digerakkan oleh motivasi intrinsik. Meski tanpa iming-iming yang terlihat, ia tetap akan termotivasi untuk berkarya. Karena letupan semangatnya justru datang dari dalam dirinya sendiri. Panggilan hidupnya, keinginannya untuk mengaktualisasikan diri, serta passion’nya dalam menjaga sebuah hubungan antar manusia yang menggerakkan dirinya. Itu sebabnya orang-orang seperti ini meski kadangkala menerima reward materi yang tampak tidak sebanding, namun mereka tetap bisa termotivasi untuk berkarya.

Dan, berdasarkan pengalaman saya bertahun-tahun memberikan pelatihan dan konsultansi dengan ratusan perusahaan nasional maupun multinasional, saya menjumpai bahwa orang-orang jenis kedua inilah yang pada akhirnya berhasil menduduki puncak (meski ada juga beberapa orang jenis pertama yang bisa berada di puncak, tapi langka!). Saya juga sudah berjumpa dengan ratusan orang sukses yang memiliki latar belakang minus tetapi berkat motivasi intrinsiknya, mereka bisa survive dan bahkan meraup kesuksesan.

Melihat fenomena ini, saya menyebut kedua situasi ini seperti gunung es (iceberg). Jika Anda mempelajari bentuk gunung es, Anda akan mengetahui bahwa gunung es memiliki 2 bagian, yaitu bagian yang tampak di atas permukaan laut dan bagian yang tersembunyi di bawah laut. Biasanya bagian di bawah laut yang tersembunyi tersebut justru lebih besar dan lebih kokoh. Jika motivasi ekstrinsik diibaratkan dengan bagian gunung es yang muncul di permukaan, maka motivasi intrinsik bisa diibaratkan seperti bagian gunung es yang tersembunyi, tak kelihatan, berada di bawah laut, namun justru memiliki kekuatan dan ukuran yang berlipat-lipat ketimbang bagian yang ada di atas permukaan.

Sebagai seorang pemimpin pun, kita harus menyadari fenomena motivasi gunung es ini. Jika bawahan kita hanya bergerak berdasarkan motivasi-motivasi ekstrinsik, maka kita harus selalu mengeluarkan tenaga ekstra untuk menggenjot semangat dan produktivitas mereka. Kita pun juga harus selalu was-was menghadapi sikap mereka yang kurang kooperatif dan siap meninggalkan kita kapanpun.

3 Tips Penumbuh Motivasi Intrinsik Karyawan

Inspirasikan mereka untuk ‘menghidupi’ corporate values.

Hanya dengan training 3 hari dan sesi konseling 20-30 menit dengan beberapa peserta pelatihan, kami kadangkala bisa melihat perusahaan mana yang benar-benar menghidupi corporate value’nya dan perusahaan mana yang hanya sekedar memajang corporate value’nya sebagai hiasan penyambut di ruang tamu.

Bicara tentang hal ini, saya ingat ketika saya memberikan pelatihan di 2 perusahaan yang sebenarnya masih 1 grup. Keduanya sama-sama memiliki corporate value yang tampaknya luar biasa. Namun anehnya, di perusahaan pertama, orang-orangnya bersemangat untuk belajar, punya semangat tinggi untuk berkarya, mengembangkan bawahan mereka, dan memikirkan ide-ide kreatif untuk perusahaannya. Sementara di perusahaan kedua, semangat kerja mereka benar-benar murni digerakkan karena uang, mereka tidak pernah berpikir untuk mengembangkan bawahan, dan cukup banyak orang yang sudah bersiap-siap hengkang dari perusahaan demi mencari reward materi yang lebih baik.

Miliki konektivitas dengan orang lain. Anda tidak akan pernah bisa membangkitkan motivasi intrinsik seseorang tanpa memiliki hubungan dengannya. Hubungan disini bukan hanya sekedar berkomunikasi melalui pembicaraan atau bertemu setiap hari. Itu sebabnya saya memakai kata “konektivitas”. Hubungan disini berbicara sesuatu yang lebih dalam dan personal. Bagaimanapun motivasi intrinsik biasanya lahir dari sesuatu yang bersifat personal dan kemanusiaan.

Teruslah mengingatkan mereka akan tujuan. Selalulah mengingatkan bawahan Anda terhadap tujuan mereka melakukan sesuatu. Dengan terus-menerus mengingatkan visi dan misi pekerjaan kita, maka motivasi intrinsik akan terus berkembang dan menguat. Inilah pentingnya sebuah organisasi memiliki visi dan misi yang jelas dan berdampak bagi kehidupan banyak orang. Ketika visi misi sebuah perusahaan tidak memiliki dampak meluas terhadap perbaikan kehidupan orang lain, maka akan sulit untuk menumbuhkan motivasi intrinsik karyawannya.

Kami sendiri di HR Excellency sering menghadapi berbagai situasi sulit dan tidak menyenangkan, tetapi ketika kami mengingat tujuan kami melakukan pekerjaan kami, maka energi kami akan menjadi berlipat dan membuat kami terus mampu berkarya meski kondisi dan situasi sedang melawan kami.

Nah, marilah kita menjadi orang-orang yang memiliki motivasi intrinsik yang kuat dan membantu setiap bawahan kita untuk memiliki hal yang sama. Untuk itu, ingatlah kalimat dari Homer Rice, “Anda bisa termotivasi oleh rasa takut atau pujian. Tetapi itu hanya sementara sifatnya. Satu-satunya yang akan kekal adalah self-motivation!”. Nah, apa motivasi intinsik Anda dan organisasi Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *