Mengenali dan Me-manage 7 Ciri Toxic Employee!

Pembaca, pernah mendengar istilah Toxic Employee? Dalam salah satu bahasan di buku bestseller saya berjudul Smart Emotion 1 dan 2, saya membahas soal ini. Topik ini rupanya mendapat respon cukup besar saat saya membawakannya dalam radio talk setiap Kamis di SmartFM pukul 07.00-08.00 WIB. Banyak bahasan, diskusi, dan telepon menarik saya terima terkait dengan topik ini.

Nah, apa yang dimaksud dengan toxic employee? Istilah ini tidak ada kaitannya dengan karyawan yang malas atau karyawan yang berulangkali lalai dengan tugasnya atau tukang onar di tempat kerja. Justru sebaliknya, mereka yang dimaksud dalam istilah ini, bisa jadi karyawan yang paling rajin, paling taat pada aturan dan atasan, tetapi mempunyai mentalitas dan cara pikir yang tidak membangun, melainkan merusak sekelilingnya, atau dengan kata lain, menyebarkan toxic (racun) di sekelilingnya. Mereka berlaku sebagai residu bagi  lingkungannya. Yang jelas, eksistensi toxic employee ini harus segera diantisipasi sedini mungkin. Kalau tidak, ini akan menjadi kanker yang pelan-pelan akan menggerogoti seluruh fungsi dan kinerja tubuh organisasi atau perusahaan.

Sebagai langkah mengantisipasinya, mari kita kenali gejala-gejalanya dulu. Dalam buku saya Smart Emotion Volume 1, saya menyebutkan ada 10 ciri dari toxic employee ini. Tapi, dalam tulisan ini, saya sajikan versi singkatnya, yakni tujuh kriteria utama. Mari kita pahami ketujuhnya.

Ciri pertama adalah kecenderung selalu berpikir negatif (negaholic) dan pesimis. Untuk setiap gagasan yang sebenarnya baik dan progresif, namun bila mereka ditanya pendapatnya. Mereka akan mengeluarkan seribu satu alasan kenapa ide atau gagasan progresif itu tidak mungkin dijalankan. Mereka selalu menemukan masalah atau kendala dibalik ide-ide cerdas itu. Ini bertolak belakang dengan pengalaman orang-orang sukses yang justru menemukan ide-ide kreatif dibalik masalah. Kalau pun tidak di depan Anda, mereka sering kasak-kusuk di belakang dengan mengatakan ide-ide baru itu sudah pernah dilakukan orang lain atau tidak bakal bisa diaplikasikan. Mereka belum mencoba, tetapi sudah berpikir negatif lebih dulu.

Ciri kedua, mereka menjadi duri dalam daging bagi tim. Akibatnya, energi tim lebih banyak dihabiskan untuk mengurusi mereka daripada memikirkan dan melaksanakan ide kemajuan proyek. Pikiran, sikap, dan tindak-tanduknya menyita banyak perhatian dan energi tim. Orang-orang tidak fokus lagi pada memajukan proyek, justru terbekap dan energinya habis untuk meladeni pikiran dan kritikan dari si toxic employee ini. Intinya, toxic employee mengurangi laju perkembangan kerja tim.

Ciri ketiga, mereka lebih banyak menjadi ‘masalah’ ketimbang memberikan ‘solusi’. Kadang, mereka bisa menjadi sangat kritis dan jeli dalam melihat permasalahan. Tetapi, ujung-ujungnya tetap ke situ. Mereka melihat masalah, menyebutkan masalah, dan menciptakan masalah. Setelah itu, mereka hengkang tanpa meninggalkan solusi apa pun. “Ya, jangan tanya solusinya ke saya, dong. Itu bukan wewenang saya. Kalian yang seharusnya bisa menyelesaikannya.” Begitulah kira-kira kilah para penganut toxic employee ini. Ia senang melemparkan masalah dan meninggalkan tim dalam kondisi bingung. Tidak ada solusi apa pun yang diberikan.

Ciri keempat, egosentris (self centered). Dalam berbagai situasi, mereka bisa tampak melontarkan ide cemerlang yang bertujuan demi kepentingan banyak orang dan perusahaan. Tapi, ujung-ujungnya hanyalah kepentingan dirinya sendiri, yang ia pikirkan. Pernah ada seorang karyawan dengan tipe ini menjadi pentolan serikat buruh perusahaan. Bersama dengan kawannya, mereka mengajukan isu perusahaan yang suka meminta lembur. Ide yang mereka bawa, karyawan perlu lebih banyak waktu untuk keluarga. Ide ini tampaknya cukup humanis dan etis. Tapi, tanpa sepengetahuan teman dan perusahaannya, ia punya kepentingan lain. Ia tidak ingin terlambat untuk mengurusi klinik kesehatan yang dibangun oleh istrinya. Jadi, ia ingin pulang on-time agar bisa mengurus kliniknya. Di sisi lain, ia tergolong cukup egois dalam kerja. Kalau pekerjaanya selesai, ya sudah. Ia tidak terlalu peduli mengenai kualitas hasil kerjanya.

Ciri kelima, emosional. Urusan menjengkelkan dengan orang tipe ini adalah temperamennya yang emosional. Bila ditegur atau dikritik, mereka bisa menjadi sangat sensitif dan defensif. Kritik dinilai sebagai serangan pada dirinya. “Ah, paling-paling yang bilang begitu, nggak suka dan sentimen ataupun iri dengan saya”, itulah pikirannya dalam hati. Akibatnya, orang-orang ini menjadi sulit menerima masukan dan feedback dari orang lain.

Ciri keenam, suka menyebarkan gosip dan berita negatif. Gosip yang mereka lontarkan mampu mempengaruhi semangat dan kultur buruk kinerja. Akibatnya, aroma kecurigaan menguat di dalam tim nya. Orang mudah berprasangka negatif. Dalam situasi macam ini, justru dialah yang sering dijadikan tempat curhat. Inilah momentum baginya menyebarkan virus-virus pikiran negatif dan kecurigaan kepada semakin banyak orang.

Ciri ketujuh, ia tidak pernah bersyukur. Saat mendapatkan hal-hal baik, orang macam ini tidak mampu mengungkapkan rasa syukur. Mereka berdalih perusahaan memang sepantasnya berlaku seperti itu. Tapi, jika tidak ada, mereka akan lantang menuntut. Tidak ada sedikit pun terima kasih pada manajemen atau perusahaan atas hal-hal baik yang sudah diterimanya. Mereka lebih suka mengeluh dan mencari negatifnya, daripada melihat sisi positifnya.

Nah pembaca, menyikapi karyawan semacam ini, perusahaan harus berhati-hati. Jangan terburu-buru untuk memberi stigma buruk dan langsung menyikapinya secara negatif. Tidak jarang, toxic employee lahir karena kekecewaan yang menumpuk dan tidak ada saluran ekspresinya. Oleh karena itu, dialog menjadi lebih penting dan sikap dewasa, lebih dibutuhkan di awal-awal dalam menghadapi mereka ini. Tak jarang juga, setelah didialogkan dan kekecewaannya mendapatkan jawaban, mereka bisa sembuh. Tapi, perusahaan pun perlu peka untuk melokalisir ruang gerak dan pengaruh negatif dari mereka. Akhirnya, jika memang segala upaya dicoba dan mereka juga tidak sembuh, lebih baik kehilangan satu atau beberapa karyawan yang toxic daripada seluruh organisasi rusak. Berlakulah secara bijak!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *