Mengapa Revolusi Mental Butuh Kecerdasan Emosi?

Revolusi Mental adalah jargon politik yang dikumandangkan oleh Joko Widodo - Jusuf Kalla bersama para rakyat pendukungnya dalam masa kampanye Pilpres dulu. Itu bukan sekedar jargon politik, tapi merupakan semangat pertobatan sekaligus pembaharuan untuk Indonesia lebih hebat. Bahkan, sebenarnya Jokowi sudah memulai revolusi itu dalam dirinya ketika menjabat sebagai walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta.

Siapa tidak mengenal Jokowi panggilan akrab Joko Widodo? Tua muda, anak-anak kecil akrab dengan pribadi yang sederhana dan bersahaja ini. Ia sendiri merasa dirinya sebagai orang yang lahir dari rakyat dan mengabdikan dirinya untuk rakyat pula. Ia seorang pengusaha meubel yang menjadi walikota Solo, kemudian menjadi Gubernur DKI, dan sekarang menjadi Presiden RI ke- 7. Namun, bukan itu issu yang ingin disampaikan. Kesabaran dan ketangguhan emosinya ketika diperhadapkan pada serangan-serangan sentimen politik pada dirinya yang merupakan nilai lebih dari seorang Jokowi. Saya suka menyebutnya Jokowi sebagai pribadi yang dewasa secara emosi walau tergolong muda dalam karir politiknya sebagai pemimpin. Kedewasaan emosinya sangat membanggakan dan patut dimodel oleh setiap rakyatnya. Saya pikir itulah yang membuatnya sukses menarik hati rakyat Indonesia.

Revolusi Mental dan kecerdasan emosi (EQ) terasa relevan dengan kondisi bangsa kita sekarang ini. Apalagi kala karakter mental yang selama ini melekat sebagai jatidiri bangsa tinggal jadi slogan cantik saja. Dalam diskusi-diskusi sosial budaya, banyak orang mulai meragukan apa benar manusia Indonesia adalah penduduk yang ramah. Mana semangat gotong royong yang dulu identik dalam masyarakat kita? Masih layakkah bangsa kita disebut sebagai bangsa yang penyabar dalam kehidupan individu atau sosialnya? Masyarakat sekarang cenderung mudah marah dan anarkis ketika kepentingannya dilanggar oleh kepentingan lain-lain. Hujat menghujat dengan makian kasar dalam sosial media semakin tak terkontrol. Mudahnya isu SARA digosok dan menimbulkan gesekan antarkelompok. Main hakim sendiri seolah mengabaikan hukum dan aparat sebagai penegak hukum. Kepercayaan masyarakat terhadap aparat semakin luntur. Masih banyak daftar kejadian memprihatinkan di sekitar kita. Singkatnya, masyarakat kita menjadi sedemikian emosional dan memiliki mental yang buruk.

Revolusi Mental Mengapa sih mesti revolusi mental. Apakah secara mental bangsa ini sudah kian terpuruk? Relevankah itu untuk persoalan-persoalan bangsa kita sekarang ini? Begitu mendesakkah sebuah revolusi mental sampai-sampai dikumandangkan dalam ajang demokrasi terbesar kita?

Krisis kepemimpinan bangsa disinyalir menjadi pemantik untuk seruan revolusi mental. Krisis itu sudah mendekat ambang batas kritis. Isu-isu mengenai kepemimpinan di negeri ini begitu meresahkan. Mau dibawa kemana bangsa ini jika pemimpin-pemimpinnya mengalami krisis mental. Bahkan tak seorang pun dapat menjawabnya. Lihatlah kasus-kasus korupsi mafia migas, mafia daging sapi, century, hambalang, haji yang menyengsarakan rakyat kita. Itu semua dilakukan dengan sengaja dan sadar oleh pemimpin-pemimpin bangsa ini yang hanya mengikuti nafsu serakahnya. Korupsi itu terasa miris ketika jutaan keluarga Indonesia mengalami kemiskinan tiada tara.

Lihatlah mental sebagian birokrat-birokrat kita yang korup, malas, tidak kreatif dan sok kuasa. “Kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah?” Itu semacam menjadi slogan kerja para birokrat dari tingkat paling bawah sampai ke atas yang sejatinya harus melayani warga. Bukan rahasia lagi betapa rumitnya soal pengurusan surat-surat entah itu ktp, perijinan, berkas-berkas yang kita butuhkan untuk kepentingan pribadi maupun bisnis. Lihatlah bagaimana teganya aparat kita memeras para TKI yang sudah menjadi pahlawan devisa bagi bangsa ini. Betapa menjengkelkan pungli yang dilakukan oleh para calo dan aparat serta birokrat kita hampir di semua instansi di negeri ini. Selain menguras kocek dan waktu kita, emosi pun tersedot ketika kita berurusan dengan para birokrat di intansi mana pun di negeri ini. Alih-alih melayani, justru mereka mencari keuntungan untuk kepentingan pribadi mereka. Mentalitas “usa”, untung saya apa mejadi bagian dari kepribadian mereka. Kita hanya sering bergumam “pffffff, mental mereka bobrok semua. Mau apa lagi? Kalau ngak ikut bobrok, urusan kita tambah panjang. Terpaksa deh saya mesti nyogok juga.”

Mental pemimpin-pemimpin kita sudah begitu diracuni oleh keserakahan, egoistis, ketiadaan empati pada orang lain. Saya menyebut mentalitas itu dengan istilah yang mirip judul buku saya yakni “TOXIC LEADER”.

Tujuh mentalitas dasar dari seorang pemimpin yang toxic (beracun) pantas menjadi alasan mengapa kita perlu Revolusi Mental segera. Mental toxic seolah berakar dalam pemimpin-pemimpin kita entah dalam lingkup kita bekerja atau lingkup lainnya.

Ciri khas pertama pemimpin yang toxic adalah pemimpin yang menggunakan management “totem pole”. Ia suka menindas orang-orang yang dipimpinnya, entah secara mental atau secara fisik. Pemimpin gaya managemen ini tidak suka mengapresiasi prestasi bawahannya, tapi selalu mengambil kredit point dari prestasi bawahannya tersebut. Ia juga suka dilayani daripada melayani bawahannya.

Ciri khas kedua adalah kehadirannya yang membawa suasana tidak harmonis, penuh ketakutan dan saling curiga. Vibrasi dari kehadiran toxic leader ini begitu negatif dan cepat menular ke orang-orang di sekitarnya.

Ciri khas ketiga adalah pemimpin yang menyukai loyalitas buta dari orang-orang yang dipimpinnya. Itu artinya ia tidak menyukai kritikan ataupun bantahan dari orang lain. Ia jadi cenderung otoriter. Pemimpin gaya ini jauh dari sikap profesional. Hitler adalah salah satu contoh pemimpin yang khas ini.

Ciri khas keempat pemimpin yang “beracun” adalah pemimpin yang gemar melakukan pemerasan emosi kepada bawahannya. Artinya orang akan secara terpaksa melakukan perintahnya daripada mengalami kerugian atau karena takut pada ancaman sang pemimpin tersebut.

Ciri khas kelima adalah performa kerja tim, akibat perlakuan toxicnya, pasti cenderung menurun. Memang akan baik di awalnya, tapi memakan begitu banyak korban yang berimbas pada kualitas kerja yang semakin menurun.

Ciri khas keenam dari pemimpin yang toxic adalah pemimpin yang tidak transparan dalam banyak hal, termasuk dalam anggaran dan informasi yang sering ditutup-tutupi dengan alasan untuk kebaikan tim. Banyak orang tertipu akhirnya dengan pemimpin dengan gaya ini.

Ciri khas terakhir dari pemimpin yang toxic adalah pemimpin yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan pribadiya.

Miris dan apatis melihat pemimpin-pemimpin yang demikian toxic-nya, rakyat kita pun semakin acuh tak acuh dengan nilai-nilai sosial kemasyarakatannya. Manusia menjadi semakin individualistis dan egois. Orang lain dianggap sebagai ancaman. Tidak ada lagi kepercayaan terhadap pemimpinnya. Tak ada yang layak diteladani. Mentalitas penguasa atau boss dari pemimpin-pemimpin kita dari tingkat paling bawah sampai di atas sudah pada taraf memuakkan. Mereka suka dilayani daripada melayani.

Tanpa disadari mentalitas pemimpin yang demikian menular kepada orang-orang yang dipimpinnya.

Itulah alasannya mengapa Revolusi Mental menjadi begitu relevan sekarang ini. Semestinya kita bersyukur pada penggagas revolusi ini sebelum bangsa kita semakin terpuruk. Lantas untuk siapa revolusi mental ini kita tujukan? Hanya untuk para pemimpin-pemimpin kita? Tidak! Dalam kondisi seperti sekarang ini kita semua dituntut untuk merevolusi mental kita di manapun lingkup kita berada.

Revolusi Mental dan Kedewasaan Emosi Dibutuhkan kedewasaan emosi untuk merevolusi mental yang ada. Saya masih ingat di awal tahun ini ketika Jokowi berujar pada rakyatnya, ”Jangan sampai yang tiap hari yang diurus duit, ketemu orang lagi yang diurus hal-hal yang material melulu. Mobilmu baru ndak? Rumahmu baru ndak? Masalah kok yang diurus itu-itu saja. Harus seimbang, yang religius ada, yang masalah budaya ada. Jadi keseimbangan itu perlu sehingga manusia yang berada di kota itu berisi. Berisi tidak hanya kosong masalah ekonomi, ekonomi, ekonomi, ekonomi, ekonomi tiap hari seperti itu. Itu yang saya kira yang ingin kita buat.”

Lihatlah bagaimana Jokowi keluar masuk rumah sakit untuk melobby kartu jakarta sehatnya. Berapa penolakan yang ia dapat? Berapa cemoohan yang ia alami? Tidak sedikit! Lihat juga perlawanan dari pengusaha ketika Jokowi memperjuangkan UMR DKI Jakarta. Ia dimarahi dan dicaci oleh pengusaha-pengusaha yang merasa keuntungannya semakin berkurang walau sudah sangat kaya. Gaya kerja blusukan, turun ke pasar menemui rakyatnya, masuk ke gorong-gorong ibukota, mengunjungi rakyatnya dan berempati pada mereka dikira sebagai pencitraan belaka. Ia selalu tenang menghadapi tantangan-tantangan itu. Ia maju terus bekerja menuntaskan misinya membahagiakan rakyatnya. Kedewasaan emosi Jokowi ketika mendapatkan perlawanan terhadap ketulusannya bekerja untuk rakyat menjadi revolusi itu sendiri sekaligus teman untuk revolusi mental bangsa. So, di sisi lain kedewasaan emosi merupakan jiwa dari revolusi mental itu sendiri.

Revolusi mental adalah bentuk kristalisasi dari keprihatinan dan kepedulian seorang Jokowi terhadap nasib bangsa ini. Jokowi tidak sendirian. Banyak rakyat merindukan revolusi ini agar bangsa semakin tak terpuruk, karena ulah pemimpin-pemimpin negeri ini maupun sebagian rakyatnya yang bermental bobrok. Jokowi mewakili kebanyakan rakyat yang rindu kembali pada jatidiri bangsa yang sejati dengan karaker budaya timurnya. Sekarang adalah momentum emas untuk sebuah revolusi mental itu dengan mendewasakan emosi bangsa kita. Salam antusias!

Anthony Dio Martin "Best EQ trainer Indonesia", direktur HR Excellency, ahli psikologi, speaker, penulis buku-buku best seller, host program Smart Emotion di radio SmartFM Jakarta dan host di TV Excellent, kolomnis rubrik Spirit di harian Bisnis Indonesia. Twitter: @anthony_dmartin dan fanpage: www.anthonydiomartin.com/go/facebook, website: www.hrexcellency.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *