Mengapa Program Teambuilding Gagal?
(10 Kesalahan Progam Team Building Yang Sering Terjadi)

Mengapa Program Teambuilding Gagal?<br> (10 Kesalahan Progam Team Building Yang Sering Terjadi)

"Ada anak buah yang menjengkelkan, bagaimana kalau di-team buildingkan aja ya? Apakah dia bisa merasa kalau tim tidak suka dengan dia dan bisa membuatnya sadar" 

"Kami tim kecil, harapannya setelah team building, bisa langsung take off kerjanya jadi nggak perlu penyesuaian lagi"

"Semoga dengan team building, dua atasan yang berselisih bisa kompak lagi"

"Saya pingin setelah team building, semua masasah tim kami akan selesai"

Begitulah kira-kira harapan yang seringkali kami terima dari klien, di lembaga kami HR Excellency. Baru-baru ini pun, sebagai vendor pelatihan, kami diminta merancang dan mengembangkan suatu pelatihan teambuilding indoor dan outdoor selama dua hari, khusus untuk para milenial. Alasannya, karna nyaris 60 orang dalam perusahaan itu adalah millenial.  Dan sebagai perusahan startup yang baru berusia 2 tahun, banyak proses “storming” yang terjadi di perusahaan ini.

Nah, apakah salah memberikan pelatihan teambuilding? Apakah yang HARUS diperhatikan?

Pengalaman kami sebagai lembaga yang membangun dan mengembangkan personal dan tim di organisasi, inilah berbagai kesalahan dalam program teambuilding yang perlu disadari

1. Teambuilding bukan panacea, obat mujarab segala penyakit

Ingatlah, teambuilding bukanlah obat mujarab yang bisa menyembuhkan semua penyakit organisasi. Janganlah berharap bahwa masalah organisasi yang bertahun-tahun permasalahnnya, akan sembuh dengan di-teambuilding-kan.

2. Teambuilding adalah proses, bukan tujuan akhir

Teambuilding menciptakan momen untuk kerjasama tim. Tapi tim yang solid harus dibangun setiap hari di kantor. Tanyakan kepada semua vendor team building yang berpengalaman, mereka akan memberitahu bahwa “team” adalah proses yang dibangun setiap hari, tidak bisa dengan hanya 2-3 hari ataupun sekedar bermain-main outdoor di luar, lantas teampun segera terbentuk.

3. Peserta harus open mind

Teambuilding harus dimulai dengan open mind. Pesertanya harus mau terima feedback, dan juga bersedia memberikan feedback yang jujur. Kadang hal itu menyakitkan, tapi kalau tidak di 'buka kartunya’, maka acara teambuilding akan berakhir dengan formalitas belaka. Pengalaman kami menunjukkan kalau sudah ada kebencian dan potensi konflik antar pribadi, acara teambuilding justru bisa jadi alasan yang membuat konflik antar individu menjadi semakin meruncing. Jadi, kalau tidak dikupas dengan baik, acara teambuilding bukannya menciptakan keeratan, malah konflik yang justru dibawa pulang ke tempat kerja.

4. Bukan Sarana Melabel atau Judge Orang

Teambuilding bukanlah ajang untuk menghakimi orang. Jangan sampai acara teambuilding justru jadi ajang menghakimi, mencecar ataupun menyalahkan seseorang ataupun unit tertentu. Kalaupun ada kejengkelan tujuannya adalah untuk mencari solusi bukan mempebesar masalah. Justru dalam teambuilding, adanya konflik dibuka dan dipahami, untuk diselesaikan, bukannya untuk memojokkan pihak-pihak tertentu. Bahkan, dalam hal inipun pihak penyelenggaran training pun jangan sampai menjadi agen politik pihak tertentu (khususnya manajemen) untuk memojokkan pihak-pihak tertentu yang tidak disukai manajemen. Penyelengara harus tetap netral, fokus pada isu dan solusi, bukan mencari cara “blaming” ataupun “judging” orang.

5. Harus ada keterbukaan

Mau tidak mau, blak-blakan memang dibutuhkan. Teambuilding jangan cuma dijadikan formalitas. Jangan sampai team building dilakukan, dengan agenda masalah yang tidak pernah diungkapkan sama sekali. Akhirnya, orang akan pulang dengan uneg-uneg yang tidak pernah tuntas. Memang jadinya tidak nyaman. Tapi fasilitator yang baik, dengan berbagai tekniknya, akan bisa secara maksimal mengupayakan supaya para peserta bisa mengeluarkan uneg-uneg serta berbagi ‘concern’.mereka secara terbuka.

6. Harus ada tujuan yang jelas

Teambuilding bukan formalias atau nice to have program. Kadang terdengarlah. "Eh kita udah nggak lama melakukan team building, kita team building yuk". Biasanya yang kayak begini hanya untuk aktivitas yang dilakukan bersama-sama. Tidak ada tujuannya. Bedakanlah dengan acara outing. (lihat definisnya disini: http://www.dictionary.com/browse/outing) Outing bahkan bisa punya efek yang lebih baik daripada acara team building yang tidak jelas. Hanya dengan camping di suatu tempat atau travelling, ternyata itupun bisa punya pengaruh baik buat tim. Bahkan, bisa sampai membangun spirit kelompok. Jadi, kalau memang tidak perlu teambuilding, sebenarnya outing pun bisa bermanfaat untuk membangun keakraban. Itulah sebabnya, pastikan kalau menyelenggarakan teambuilding, harus dengan tujuan dan training need analysis yang jelas.

7. Perlu follow up

Jangan harap semua selesai setelah acara team building. Harus ada lanjutannya. Tugas ini bukan hanya milik penyelenggara, tapi yang paling penting pihak organisasi dan manajemen perlu lakukan follow up dari hasil teambuilding yang dilakukan. Beberapa perusahaan training, telah melakukan post training reminder, seperti yang kami lakukan juga. Dalam hal ini, minimal diingatkanlah selama beberapa bulan ke depan dengan apa yang telah mereka pelajari. Hal ini membantu content retention dari hasil training yang telah diikuti.

8. Kaitkan dengan situasi

Janganlah hanya bermain. Tanpa ada refleksi mendalam, segala permainan hanya akan jadi pengalaman tanpa makna. Bruce Lee, maestro martial art mengatakan, “Bukan pengalaman yang penting, tapi bagaimana kita memaknainya”. Jadi ingatlah, bukan permainan atau game yang terpenting. Tapi, apa yang bisa dimaknain dan dibawa pulang. Lantas, dikaitkan dengan pekerjaan atau kegiatan sehari-hari.

9. Support dan Keterlibatan Manajemen itu Penting

Banyak teambuilding yang terjadi tanpa support dari manajemen. Akibatnya, manajemen hanya datang, duduk, lihat tanpa terlibat. Sebenarnya, justru teambuilding yang bagus, adalah melibatkan semua pihak. Malahan, disinilah team betul-betul terlihat. Kekompakan justru dibangun. Saya pernah mengalami ketika seorang owner ikut teambuilding dan makan nasi bungkus bersama di lapangan, itu menjadi pengalaman tak terlupakan bagi para peserta. “Hebat ya, ternyata kita punya leader yang mau duduk di rumput dan makan nasi bungkus dan tertawa bareng kita”. Hal sederhana, tapi berdampak luar biasa bagi tim.

10. Apresiasi Yang Baik, Bukan Memperbesar Kesalahan

Dalam teambuilding, akan ada banyak kesalahan dan kekacauan yang bisa terjadi. Individu-individu, akan membuat kesalahan yang mungkin berdampak pada tim. Kalau sudah begitu, kadang mereka disalahkan dan dipojokkan. Begitu juga, akan ada pahlawan atau anggota tim yang ternyata melakukan hal spektakuler. Dalam teambuilding, justru yang diharapkan adalah melakukan reinforcement (penguatan) pada hal-hal yang baik. Karena itulah, apreasiasi sangat dibutuhkan. Tentu saja, kesalahan-kesalahan bisa ditunjukkan disini, tapi bukan untuk memperbesar rasa bersalah, tetapi pada pembelajarannya. Tapi jangan lupa, anggota tim yang berkarya dengan luar biasa, perlu diapresiasi dengan harapan apa yang terjadi di lapangan, akan lebih banyak dikontribusikan di tempat kerja.

Ingatlah, team building dilakukan supaya banyak hal yang bisa di’kupas’, di’pelajari’ bersama-sama dan akhirnya, bisa diterapkan di tempat kerja. Team building dikatakan berhasil, jika ada banyak pembelajaran dan pemaknaan yang bisa dibawa pulang ke tempat kerja nyatanya!

Have a fun, fruitful and meaningful Team Building Session!

Salam Antusias!

Anthony Dio Martin

Note:

Tertarik soal mengapa program Team Building Gagal, ada artikel lain yang saya rekomendasikan yakni artikelnya “Why Your Team Building Session Failed” karya Elizabeth Jayanti, PhD yang bisa dibaca disini: https://www.linkedin.com/pulse/20140829131822-22074091-5-reasons-why-your-team-building-session-failed/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *