MENDOAKAN BISNIS PESAING

Diceritakan ada seorang yang datang kepada konselornya dalam kondisi stres berat. Ia adalah pemilik sebuah toko dan ada sebuah supermarket yang berdiri tepat di depan tokonya. Kondisi ini pasti akan mematikan usahanya. Keluarganya sudah menjalankan bisnis toko itu selama kurang lebih tiga generasi, kini toko mereka sedang terancam. Ia sangat bingung dan juga stres, karena itulah ia pergi menemui konselornya. Lantas, si konselor itu lalu berkata kepada si pemilik toko, "Saya tahu kamu stres dengan supermarket itu. Tapi, semakin kamu benci dan marah pada supermarket itu, energinya kebencian dan kemarahan itu akan kembali padamu. Saya sarankan, setiap pagi doakan dan berkatilah bisnismu. Setelah itu, doakan dan berkati bisnis supermarket itu juga!". Si pemilik itu berseru nyaring, "Apa? Nggak salah tuh malah disuruh mendoakan bisnis mereka?"  "Cobalah apa yang saya katakan, Pak!", lanjut konselornya. Maka, sejak itu setiap paginya, ia mendoakan bisnisnya dan bisnis supermarket itu. Awalnya, ia benci dan marah. Lama-kelamaan ada kedamaian. Hatinya juga lebih tenang. Malahan, beberapa bulan berjalan, ia berhasil membangun hubungan dengan pemilik supermarket itu, dan menjadi salah satu pemasok.  Dan, peristiwa ini terus berlanjut hingga akhirnya, justru dikatakan si pemilik toko ini kemudian berhasil pula membangun supermarket di wilayah yang lain. Semuanya berkat adanya supermarket di depannya, yang ia doakan setiap hari!

Pembaca, memang semakin berat untuk berkompetisi secara sehat dalam situasi bisnis sekarang ini. Kebanyakan motivasi bisnis saat ini adalah menang ataupun kalah. Makanya, tidaklah mengherankan jika ide menjalankan bisnis denga sehat, tidak masuk dalam hitungan. Malahan, banyak orang akan mengatakan tindakan mendoakan, yang berarti membiarkan pesaing kita bertumbuh adalah suatu tindakan yang bodoh.

Era Kolaborasi Bisnis

Richard Scroth, mengatakan era sekarang bukanlah era kompetisi ala bunuh-bunuhan, tetapi era berkolaborasi. Makin lama, suatu perkembangan bisnis, dengan cara membinasakan lawan, tidak lagi akan bertahan lama. Pola pengembangan bisnis ala mafia, tidak lagi bisa bertahan untuk jangka panjang. Bahkan, dalam kisah-kisah seperti God Father kita memperhatikan para mafia yang menggurita pada suatu waktu, namun semuanya kemudian hancur karena bunuh-membunuh dan saling membinasakan. Ujung-ujungnya, tidak ada yang bertahan untuk jangka waktu lama.

Bahkan, menariknya. Baru-baru ini, saya bertemu dengan seorang rekan yang menjadi pengurus asosiasi bisnis elektronik. Dalam asosiasi ini, mereka bisa saling bertemu dan saling tukar-menukar data bahkan saling bekerjasama. Padahal, mereka tahu, mereka memperebutkan pangsa pasar yang kurang lebih sama. Menariknya, bagaimana mereka bisa bekerjasama? Saat ngobrol-ngobrol dan bicara dengan mereka, akhirnya terungkaplah pemikiran yang menarik. Kejadiannya justru bermula saat Indonesia menghadapi krisis. Rupa-rupanya, mereka semua menghadapi para distributor ataupun toko yang bermasalah. Banyak yang kreditnya bermasalah.  Akhirnya, merekapun mulai saling berbagi informasi mengenai para penjual, distributor maupun kreditor bermasalah. Dengan demikian,mereka saling membantu dan saling menyelamatkan. Bayangkan saja, kalau ada yang berpikir, "Biarin aja. Biaran dia bisnis dengan ditirbutor yang bermasalah itu dan akhirnya dia mati", apa yang akan terjadi sebaliknya? Maka, sebaliknya, pemilik elektronik yang lain juga kan berpikir hal yang sama. Maka, ujung-ujungnya, mereka akan saling membunuh.

Mental Kompetisi Sehat

Ada beberapa alasan yang membuat mengapa berkompetisi secara sehat, yang kita simbolkan dengan 'mendoakan' pesaing meruapakan suatu sikap yang mesti kita bangun.

Hal yang pertama dan terutama adalah, supaya kita mengarahkan energi kita untuk sesuatu yang membangun, bukannya merusak. Dalam kisah di atas, kita bisa membayangkan skenario bahwa si pemilik toko bersama beberapa temannya, membakar dan menghancurkan supermarket itu. Lantas apa yang terjadi? Ujung-ujungnya, ia ketahuan dan masuk penjara. Atau, ia memang tidak ketahuan tetapi ya, akhirnya tokonya cuma itu-itu saja. Sementara, setelah supermarket itu dibakar, justru dibangun kembali yang lebih megah. Ujung-ujungnya tetap saja, si pemilik toko itu kalah. Jadi, supaya energi kita tidak terarah pada hal-hal yang negatif seperti itu, justru si konselor bisnisnya sangat bijak untuk menyarankannya 'mendoakan' supermarket itu. Artinya, daripada membenci atau marah, mending berikan energi kita untuk hal-hal yang lebih positif seperti memikirkan bagaimana cara mengembangkan diri? bagaimana membuat pelanggan tetap loyal? apa yang bisa dilakukan yang tidak bisa dilakukan oleh supermrket itu?

Hal kedua adalah daripada menghancurkan pesaing kita, lebih baik memikirkan bekerjasama menciptakan kue yang lebih besar. Saya teringat dengan kisah di suatu perkebunan anggur plus pabrik anggur yang hancur dilalap oleh api. Tetapi, yang menarik, justru pemilik bisnis pesainglah yang datang membantu mereka. Sampai-sampai, si pemilik pabrik anggur yang terbakar ini, berlutut di tanah mengucapkan terima kasih atas bantuan si pesaingnya ini. Dan, kepada pesaingnya, orang-orang pun bertanya, mengapa ia mau membantu. Ternyata, alasannya sederhana,  "Karena, selama ini bersama-sama dengan pesaing saya ini, kita sama-sama menciptakan pasar anggur kelas tinggi. Selama ini, bisnis kita mulai terseok-seok oleh para pabrik anggur murahan yang datang dari negera lain. Selama ini kita bersama-sama mendidik pelanggan."  Ini betul-betul sikap mental pebisnis sejati!

Alasan ketiga dan terutama adalah membuat hidup kiat sebagai pebisnis, menjadi lebih damai dan sejahtera. Mungkin saja, membunuh musuh kita akan membuat kita lega dan senang sesaat. Namun, siap-siaplah, musuh berikutnya akan muncul lagi. Jadi, daripada fokus pada energi menghancurkan musuh yang membuat kita jadi sulit tidur setiap malam karena benci dan merah. Mungkin akan lebih baik jika,kita tidak bisa tidur karena terus-menerus berpikir bagaimana kita bisa menciptakan bisnis, produk, ide dan pelayanan yang jauh lebih baik dari pelanggan kita. Dengan demikian, energi kita dipakai bukannya untuk menghancurkan tetapi lebih pada upaya mengembangkan bisnis kita.

  Mendoakan Bukan Tanda Lembek Banyak yang berpikir bahwa falsafah mendoakan ini adalah tanda-tanda kelembekan ataupun sikap menyerah. Justru sebaliknya, saya mengatakan filosofi ini menunjukkan diri kita matang dan inilah sifat petarung yang sejati. Lagipula, membiarkan adanya persaingan dalam bisnis juga bisa berarti bahwa semangat pertarungan dalam diri kita terus-menerus akan diasah. Sebenarnya sudah tidak terhitung banyaknya bisnis yang dilindungi oleh pemerintah di negeri ini yang akhirnya tidak bisa bersaing lantaran karena kompetitornya tidak dibiarkan hidup oleh pemerintah. Akibatnya apa yang terjadi. Di era globalisasi semacam ini sangat sulit untuk membendung kompetitor. Ujung-ujungnya, banyak bisnis yang selama ini dilindungi, justru jadi tidak berkembang, sekarat dan mati karena tenggelam dalam comfort zone mereka.   Karena itulah, saatnya kita memacu dan memotivasi diri kita karena adanya persaingan dan musuh-musuh bisnis kita. Sekali lagi,filosofi dalam tulisan ini mungkin saja tidak akan langsung membuat kita sukses dengan gemilang kalau seandainya kita langsung membunuh musuh bisnis kita  saat ini. Tetapi, percayalah, minimal filosofi ini akan membuat kita tidur dengan nyenyak dan hati yang damai. Neman, jangan juga terlena karena otak kita seharusnya juga memikirkan terus bagaimana caranya menjadi lebih baik dan lebih baik lagi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *