Memahami Beda Filantropi Dengan Altruisme

Memahami Beda Filantropi Dengan Altruisme

Sebuah pertanyaan diajukan baru-baru ini dalam siaran rutin saya “Smart Emotion” tiap Selasa malam di SmartFM www.radiosmartfm.com ketika saya membawakan topik soal: “Trend Baru Millenial Filantropis di Tempat Kerja, Bagaimanakah?”. Ngomong-ngomong, jika tertarik mendengarkan rangkuman radiotalk yang pernah saya lakukan tersebut dan yang sebelumnya, bisa didengarkan secara GRATIS di: www.soundcloud.com/anthonydiomartin

Mari Pahami Dulu Dong Arti Altrusime dan Filantropi! Filantropi, dari bahasa Yunani: philein berarti cinta, dan anthropos berarti manusia (penjelasannya juga bisa dibaca di Wikipedia ini: https://id.wikipedia.org/wiki/Filantropi ). Jadi, filantropi mengacu pada tindakan seseorang yang mencintai sesama manusia serta nilai kemanusiaan, sehingga menyumbangkan waktu, uang, dan tenaganya untuk menolong orang lain. Contoh paling umum: seorang kaya raya yang menyumbang untuk kaum miskin. Misal: Bill Gates, sebagai orang terkaya didunia lantas mendirikan Gate & Melinda Foundation.

Atau contoh tindakan filantropis lainnya adalah Anne Avantie yang membangun Wisma Kasih Bunda untuk membantu anak-anak penderita hidrosefalus. Atau, ada Irwan Hidayat dari Sidomuncul yang membantu mudik pulang kampung tiap menjelang lebaran. Atau yang lain misalnya Dato Sri Tahir yang baru-baru ini membantu pengungsi Suriah sebesar 1 jut US$.

Contoh yang lain adalah yang banyak dilakukan kaum millennial belakangan ini yakni filantropi online kalau ada kejadian dan peristwa penting seperti meletusnya Gunung Agung, dll. Atau, Sampoerna Foiundation yang pernah bekerjasama dengan beberapa anak muda milenial pemilik café untuk program menolong remaja yang disebut “Save A Teen”.

Jadi intinya, Filantropi mengacu pada tindakan atau perbuatan untuk menolong orang lain yang membutuhkan!

Bagaimana dengan istilah Altrusime?

Istilah altruism pertama kali diciptakan oleh filsuf Auguste Comte yang menunjuk pada orang yang memberikan perhatian pada orang lain, tanpa mementingkan dirinya sendiri. Penjelasan soal altrusime juga bisa dibaca di Wikipedia ini: https://id.wikipedia.org/wiki/Altruisme Jadi, lawan dari altrusime adalah sifat egoisme, yakni orang yang mementingkan diri sendiri.

Yang jelas, istilah altrusime muncul setelah tahun 1964, yakni setelah kejadian pembunuhan Kitty Genovese (28 tahun, manager sebuah bar) menghebohkan. Ia ditikam mati di dekat apartemennya di kota New York. Saat itu, ada sekitar 37 yang menyaksikan tapi tidak melakukan apapun.

Sikap altrusime banyak yang dilatarbelakangi oleh HUKUM EMAS (The Golden Rules) yakni: “Lakukan pada orang lain apa yang kamu ingin orang lain lakukan padamu”. Atau, “Jangan lakukan pada orang lain, apa yang kamu tidak ingin orang lain lakukan pada kamu”.

Eric Fromm, seorang psikolog dan filsuf Jerman menambahkan dalam bukunya The Art of Loving mengatakan soal cinta yang altruistic yakni cinta yang aktif bukan pasif. Jadi, menurutnya kalau kita mencintai tanaman, harus diikuti dengan tindakan menyiram tanaman. Ada 4 unsur cinta yang altruistik menurut Ericc From adalah yakni cinta yang mengandung unsur kepedulian (care), tanggung jawab (responsibility), respek (respect), dan pengenalan (knowledge). Artikel menarik soal teori cintanya Eric Fromm ada di artikel ini: https://www.huffingtonpost.com/chris-castiglione/the-art-of-loving_b_9198154.html

3 Beda Nyata Antara Filantropi dan Altrusime Jadi dengan memahami makna filantropi dan altrusime, kita bisa melihat perbedaan maknanya yaitu:

1. Pelaku Filantropi Bisa Saja Tidak Altruistik Perilaku filantropi adalah perilaku amal seperti memberikan waktu, tenaga dan uang. Tetapi, jangan dianggap bahwa semua pelaku filantropi selalu orang yang dasarnya altruistik. Bisa saja motif pelaku filantropi dasarnya adalah ingin dipuji, disukai, atau supaya tampak popular. Atau, supaya bisa diunggah fotonya di sosial media (sehingga mendapatkan banyak “like”). Jadi, motifnya tidak selalu karena orangnya altruistik atau memang orang yang peduli dengan orang lain. Malahan ada beberapa kasus dimana orang kaya memberikan banyak uangnya karena merasa bersalah telah banyak melakukan korupsi, ataupun lebih parahnya dengan alasan “cuci uang”. Jadi dibalik tindakan filantropi bisa saja ada alasan yang egois. Namun hati-hati juga ya, dalam hal ini janganlah kita cepat mencurigai motif orang kaya yang melakukan filantropis pastilah untuk kepentingan diri sendiri ataupun mencari popularitas. Malahan, ada banyak orang kaya yang sungguh-sungguh sangat altrustik sejati. Dia menolong karena memang punya semangat kepedulian.

2. Manusia Yang Altruistik Biasanya Pendukung Gerakan Filantropis Meskipun tidak semua orang yang melakukan filantropis itu adalah manusia yang altruistik, tetapi biasanya mereka-mereka yang altrusitik, akan mendukung gerakan filantropis. Bagi manusia yang altrusitik, adalah sangat gampang untuk melakukan tindakan sosial. Bahkan, manusia altrusitk tidak akan menemukan kesulitan untuk melihat bagaimana hal-hal kecil yang bisa mereka lakukan untuk menolong orang yang membutuhkan. Malahan, banyak manusia altruistik yang bukan orang kaya, bukan yang punya banyak sumber daya, tetapi mereka akan berusaha semampu mereka untuk membantu.

3. Orang Altruistik Biasanya Lebih Tulus Membantu Orang yang altrusitik adalah orang yang jiwanya memang ingin menolong dan membantu. Mereka memiliki sistem nilai (belief system) dimana mereka berusaha untuk menolong dan membantu orang. Karena didasari oleh sistem keyakinan mereka, maka mereka pun biasanya akan lebih tulus. Namun, sekali lagi, dalam hal ini sebaiknya kita tidak sembarangan mencurigai ketulusan seseorang. Masalahnya, ada banyak pula orang-orang yang melakukan kegiatan filantropis yang betul-betul tulusa hatinya. Bahkan, mereka enggan disebutkan namanya, menggunakan nama anonim bahkan mereka pun tidak sungkan-sungkan membantunya lewat orang lain, supaya dirinya tetap tidak ketahuan identitasnya. Itulah pelaku filantropis sekaligus altrusitik sejati.

So, tulisan ini menjadi refleksi buat kita: apakah kita altrusitik sejati? Jangan-jangan kita membantu karena “ada maunya”? Tuluskah kita untuk membantu mereka yang membutuhkan?

Anthony Dio Martin "Best EQ trainer Indonesia", direktur HR Excellency, ahli psikologi, speaker, penulis buku-buku best seller, host program Smart Emotion di radio SmartFM Jakarta dan host di TV Excellent, kolomnis rubrik Spirit di harian Bisnis Indonesia. Instagram: @anthonydiomartin dan fanpage: www.facebook.com/anthonydiomartinhrexcellency website: www.hrexcellency.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *