Kisah Lantai 80 dan Unfinished Business

Ada dua orang bersaudara. Mereka tinggal di lantai 80 yang sangat tinggi di suatu apartemen. Pada suatu ketika, mereka kembali ke apartemen tersebut. Tetapi sayangnya, lift diapartemen tersebut semuanya rusak. Mereka harus menunggu lama. Akhirnya, mereka memutuskan untuk melanjutkan ke atas dengan menggunakan tangga. Perjalanan awal, masih penuh dengan sukacita. Sampai di lantai 20, dengan terengah-engah mereka mulai memikirkan untuk meniggalkan tas mereka di sana dan mengambilnya nanti setelah lift bisa bekerja lagi. Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka melalui tangga itu. Hingga di lantai 40, si adiknya mulai menggerutu dan terjadilah pertengkaran diantara mereka. Mereka pun terus bertengkar hingga ke lantai 60. Menyadari bahwa tinggal 20 lantai lagi, akhirnya mereka sepakat untuk melanjutkan perjalanannya dengan tenang. Tatkala sampai di lantai 80, mereka begitu lega dan membayangkan akan masuk ke apartmen untuk melepaskan lelah. Tetapi betapa terkejutnya mereka tatkala sadar bahwa kunci mereka justru tertinggal di tas yang mereka tinggalkan di lantai 20.

Nah Pembaca, kisah tentang kebodohan dua bersaudara ini, akan saya jadinya sebagai kisah pembuka soal ketidakefektifan orang-orang di sekitar kita, mungkin termasuk pula diri kita sendiri, karena hal-hal yang kita tinggalkan di masa lalu. Masalahnya, kita seringkali berpikir bahwa berbagai masalah dan problem di masa lalu, bisa kita tinggalkan begitu saja, tetapi pada kenyataannya ada beberapa diantaranya yang kembali menghantui kita. Khususnya, jika problem itu belum betul-betul kita tuntaskan. Tak heran, kalau Lee Kravits, penulis buku Unfinished Business mengatakan, "Menyelesaikan urusan-urusan dalam hidup kita yang belum terselesaikan (unfinished business) akan bisa mentransformasikan hidup kita secara luar biasa"

Unfinished Business

Apakah unfinished business Anda? Yang kita sebut Unfinished Business bisa bergerak dari urusan cita-cita, hubungan yang terlupakan, tugas yang tidak terselesaikan, trauma hingga permasalahan-permasalahan yang kita pikir akan selesai dengan  berjalannya waktu. Kenyataannya, urusan itu akhirnya kembali menuntut kita untuk diselesaikan.

Ada kisah tentang seorang bapak yang meninggalkan keluarganya. Ia pergi dan hidup berfoya-foya dengan wanita lain. Namun, ketika usianya menjelang senja. Ia merasakan dirinya amat kesepian dan terasing. Akhirnya, ia menjadi begitu kangen dengan keluarganya dan menyesal dengan keluarga yang telah ia tinggalkan. Sayangnya keluarga yang ia tinggalkan, tidak lagi bersedia menerimanya dan di akhir hayatnya, ia hanya menyesal bahwa ia telah meninggalkan keluarganya tersebut. Dalam surat terakhirnya ia mengatakan, "Seandainya ia boleh mengulang hidupnya, ia tidak akan mengulang kembali kesalahan itu". Sayangnya, hingga akhir hayatnya ia tidak diberikan kesempatan memperbaiki kesalahannya.

Begitu pula, ada kisah tentang seorang pemuda yang malas untuk melanjutkan studinya. Ia pikir, lebih baik mencari uang dan tidak mau sekolah lagi. Ia bahkan berkali-kali menertawakan temannya yang masih melanjutkan kuliah. Memang, dalam beberapa tahun ke depan, hidupnya lebih mapan. Namun waktu terus berlalu hingga akhirnya karirnya mulai tersendat-sendat. Salah satunya, ia mulai melihat bahwa problemnya terletak di latar belakang pendidikannya. Latar pendidikannya dianggap sebagai salah satu catat untuk pengangkatannya. Akhirnya, ia cukup menyesal karena tidak menyelesaikan studinya.

Contoh-contoh di atas menunjukkan adanya situasi ataupun masalah di masa lalu yang ditinggalkan begitu saja oleh orang-orang yang hanya berpikir 'sekarang', tetapi tidak taunya masalah yang mereka tinggalkan justru kembali menghantui mereka lagi. Itulah contoh-contoh unfinished business. Biasanya unfinished business ini terjadi karena orang hanya ingin cepat melupakan sesuatu, menganggap sepele ataupun tidak berani menghadapi kenyataan. Akibatnya berbagai masalah itu, pada saat tersebut, memang tampak seakan-akan selesai. Tetapi pada akhirnya, tatkala waktu mulai berjalan, banyak orang yang menyadari bahwa kehidupan mereka tidak akan betul-betul bisa dinikmati dengan bahagia, sebelum mereka menyelesaikan apa yang perlu dilakukan di masa lalu.

Lima Langkah Menyelesaikan Unfinished Business

Mulai sekarang, pikirkanlah kembali hal-hal apakah yang telah Anda tunda, Anda biarkan tergeletak begitu saja ataupun masalah-masalah yang Anda coba lupakan begitu saja. Ingatlah, ada kemungkinan besar, semuanya akan menghantui Anda kembali di suatu saat nanti. Karena itu, jauh lebih baik, ketika ada kesempatan bagi kita untuk menyelesaikannya saat ini daripada menunggu waktu lebih lama untuk diselesaikan. Lagipula, ada masalah-masalah yang kita anggap begitu besar di masa lalu yang ternyata bisa diselesaikan, hanya dengan suatu langkah sederhana.

Salah seorang teman saya bercerita soal salah satu masalahnya dengan kakaknya yang mengakibatkan hubungan yang buruk. Dulu, ia pernah menuliskan surat panjang mencela perkawinan kakaknya yang beda suku dan agama. Ia begitu keras mencela kakaknya. Akibatnya hubungan merekapun menjadi buruk dan tidak ada komunikasi sama sekali. Bertahun-tahun hal itu terjadi hingga akhirnya rekan saya ini memutuskan untuk meminta maaf. Ternyata, ketika ia meminta maaf, ia disambut baik dan kakaknya dengan iklas memaafkan. Hubunganpun kembali pulih.

Begitu pula, ada seorang karyawan yang pernah mengkhianati perusahaan dimana ia bekerja. Ia mencuri semua formula dan menjualnya kepada kompetitor. Bahkan ia pun menjelek-jelekkan perusahaanya ketika ia keluar. Dengan berjalannya waktu, si karyawan ini pun ternyata tidak begitu berhasil. Akhirnya, si karyawan inipun menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada mantan bossnya. Ternyata, mantan bossnya tetap bersikap bijaksana dan akhirnya, mereka menjadi mitra bisnis hingga sekarang.

Maka, dengan belajar dari kasus-kasus di atas, adalah penting untuk mengambil kesempatan memperbaiki hal-hal yang pernah kita lakukan keliru di masa lalu. Caranya ada lima langkah. Menurut Lee Kravtz, inilah langkah-langkahnya. Pertama, daftarkan kembali hal-hal yang belum kita selesaikan di masa lalu. Dalam hal ini, pikirkan kembali apa saja hal-hal yang telah Anda biarkan atau coba Anda lupakan tetapi ternyata mengganggu dan berpeluang menghambat Anda di masa depan. Cobalah buat daftarnya.

Berikutnya, hadapi ketakutan dan masalah-masalah Anda tersebut. Memang ada resiko buat Anda dalam mencoba menyelesaikan hal tersebut. Ada risiko ditolak, risiko dicibir ataupun risiko dicemooh. Tetapi, ada baiknya Anda mencoba melakukan sesuatu daripada hingga akhir hayat Anda harus menghadapi kenyataan bahwa Anda adalah seorang 'penakut' ataupun 'pengecut' yang tidak pernah berani menyelesaikan masalah Anda.  Berikutnya, adalah mulailah Anda melakukan langkah-langkah untuk menyelesaikan hal itu.Misalkan, dengan menghubungi kembali, membuat kontak secara tidak langsung, menulis surat ataupun email untuk memperbaiki sebisa mungkn hal-hal yang bisa dilakukan. Berikutnya, lakukan suatu janji di kehidupan Anda dimasa yang akan datang, apa yang tidak akan Anda lakukan dan apa yang akan Anda lakukan jika menghadapi situasi ataupun kondisi yang sama. Dan langkah terakhir adalah mencoba untuk melihat apa pembelajaran dan hal-hal yang dipelatik dari pengalaman menyelesaikan unfinished business tersebut.

Seorang rekan saya mengatakan tatkala ia menyelesaikan unfisined business dengan orang yang ia benci selama ini, hidupnya menjadi "plong dan lega dan semua beban saya bisa saya lepaskan begitu saja". Karena itulah, seperti kisah pertama kita, jika memang diperlukan kita harus kembali ke lantai 20 mengambil kuncinya, agar kita bisa memasuki kehidupan indah yang kita impi-impikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *