HIBERNASI PRODUKTIF

Baru-baru ini, saya membuat status di HP saya “Hibernasi Produktif”. Ternyata, status ini menimbulkan banyak pertanyaan dari sahabat saya. Mulai dari ada yang bertanya, “Apa sih hibernasi itu?” hingga pertanyaan yang lebih dalam “Memangnya bisa tuh hibernasi yang produktif?” Nah, mari kita obrolkan soal istilah hibernasi positif ini sebagai bentuk gaya hidup yang bisa Anda pertimbangkan untuk lakukan, sesekali!

Pertama-tama, mari kita obrolkan soal makna hibernasi ini. Semoga Anda pernah baca bahwa istilah hibernasi ini sebenarnya berawal dari dunia fauna. Diceritakan, khususnya binatang yang hidup di daerah yang sangat dingin seperti beruang akan melakukan periode hibernasi. Biasanya, di musim dingin, dimana makanan susah diperoleh maka sang beruang akan me-“non aktif”-kan diri, tidak melakukan apapun untuk menghemat energi yang akan dikeluarkannya. Kadang-kadang, hal ini juga terjadi pada binatang reptil, seperti ular. Nah, selain dipergunakan dalam dunia fauna. Istilah hibernasi inipun kemudian diadaptasi ke dalam dunia per-“komputer”-an dengan sebuatan “hibernate”. Istilah ini menggambarkan kondisi non-aktif (mati layar)-nya komputer untuk sementara tetapi berbagai aplikasi aktif sebenarnya masih tetap menyala. Sehingga pada saat komputer di-“on”-kan maka ia akan langsung bekerja. Intinya, baik dalam dunia fauna maupun komputer, hibernasi menggambarkan kondisi non aktif sementara.

Hibernasi Produktif

Lantas bagaimana bisa seseorang melakukan hibernasi, tapi produktif? Istilah hibernasi produktif ini tentu saja bukan istilah yang populer. Tetapi, saya ingin memperkenalkan istilah ini sebagai suatu upaya untuk menata dan memperbaiki kondisi diri kita. Sebelum saya cerita lebih jauh, saya ingin mengisahkan bagaimana para penulis terkenal masa dulu seperti Charles Dicken ataupun beberapa penemu yang terkemuka seperti Thomas Alva Edison. Dikisahkan, pada masa-masa tertentu, si penulis Charles Dicken akan mengurung dirinya dalam kamar, tidak kontak dengan dunia luar dan menghabiskan waktunya hanya dengan mencari ide. Yang diilakukannya hanya satu yakni menulis, menulis dan menulis. Lantas, Thomas Alva Edison, sesekali masuk ke dalam lab-nya tidak mau diganggu dan ia melakukan berbagai risetnya. Nah, itulah contoh bentuk tindakan yang saya sebut sebagai hibernasi produktif.

Jadi, tatkala kita melakukan hibernasi produktif, kita sebenarnya menon-aktifkan diri dari aktivitas luar tetapi memfokuskan pada sesuatu hal yang ingin tingkatkan pada diri. Misalkan saja, dahulu tatkala seseorang melakukan pertapaan, semedi ataupun mendalami ilmu tertentu, inilah yang kita masukkan dalam kategori hibenasi produktif. Mereka mengasingkan dari dunia tetapi sebenanya, mereka membuat kemampuan mereka menjadi lebih baik. Ataupun, hibernasi bisa pula dilakukan sebagai bentuk fokus kita untuk menuntaskan suatu kerjaan yang perlu segera kita bereskan. Misalkan saja, beberapa penulis terkenal juga melakukan “writer’s retreat” dengan cara tinggal di cabin (pondokan) jauh dari keramaian hanya untuk menyelesaikan bukunya, yang sudah dikejar-kejar penerbit. Ini juga termasuk suatu hibernasi produktif.

Mengapa Hibernasi Produktif?

Ada banyak alasan yang membuat mengapa orang-orang tertentu, termasuk saya, merasa pentingnya hibernasi produktif ini. Pertama-tama, umumnya terkait dengan target ataupun sasaran yang ingin diselesaikan. Bayangkan saja, disinyalir rata-rata orang hanya berhasil mencapai sekitar 20-30 saja dari target hidupnya. So, ini angka yang rendah sekali. Mengapa banyak yang tidak terwujud? Kebanyakan adalah karna faktor distraksi atau ganggung yang muncul dari orang-orang disekitarnya. Entah urusan yang mendadak, urusan keluarga, urusan kerja yang tidak bisa diabaikan. Akibatnya, berbagai hal tersebut membuat orang tidak bisa memfokuskan diri pada tujuannya.

Alasan kedua, ini sebenarnya berkaitan dengan upaya peningkatan kemampuan mental. Seperti saya ceritakan, pada jaman dulu, kita sering mendengar orang pergi bertapa dan bersemedi di atas gunung ataupun gua untuk memperdalam ilmu. Tujuannya satu yakni membuat diri mereka tambah sakti mandraguna, tambah hebat dirinya. Nah, alasan yang sama bisa kita terapkan pada diri kita. Tentunya, yang kita perhebat bukanlah ilmu yang “tidak jelas”. Tetapi, sesekali, Anda bisa meluangkan waktu “berhibenasi” di akhir pekan dengan membaca ataupun memperdalam suatu bidang ilmu tertentu ataupun menggali suatu pemahaman, yang selama ini sering Anda tunda. Misalkan saja, Anda bisa berhibernasi untuk menyelesaikan membaca buku-buku yang masih ‘tersegel’ selama bertahun-tahun, yang sudah direncanakan untuk dibaca sejak beberapa tahun lalu! Nah, Anda bisa lakukan hibernasi produktif untuk menyelesaikan dan menambah wawasan Anda dengan membaca buku-buku tersebut.

Dan alasan ketiga, ini menyangkut life style kita yang begitu cepat saat ini. Belakangan, saking sibuknya, ada begitu banyak pekerjaan yang tidak tertuntaskan. Karena itulah, sebagai bagian dari upaya “kejar tayang” agar pekerjaan Anda tepat waktu untuk diselesaikan, Anda bisa melakukan hibernasi produktif untuk menyelesaikan tugas ataupun janji-janji Anda.

How To Start?

Memang tidak mudah untuk melakukan proses hibenasi produktif ini. Pertama-tama, adalah soal tempatnya. Dan kedua adalah soal bagaimana caranya agar Anda bisa terbebas dari gangguan atau berada dalam kondisi gangguan seminim mungkin.

Bicara soal tempat, memang bukan lagi jamannya dimana Anda mengasingkan diri dengan bertapa di atas gunung ataupun gua. Tetapi, saat ini rumah ataupun kamar Anda bisa menjadi ‘gua alternatif’ Anda. Ataupun, saya mengenal pula beberapa CEO yang sengaja pergi ke tempat tertentu untuk mengasingkan diri. Bicara soal kebiasaannya ini, si CEO perusahaan distributor obat ini berkata, “Saya terbiasa retreat (mengasingkan diri) ke villa di Bali ataupun di Puncak. Tapi lebih sering saya pergi ke rumah semedi, rumah doa ataupun pergi ke seminari. Di situ yang biasanya saya lakukan adalah berdoa, membaca ataupun saya fokuskan untuk menyelesaikan berbagai proyek yang sudah lama tidak selesai-selesai, karena selalu terganggu”.

 Memang sih Anda tidak perlu gaya-gayaan pergi ke villa ataupun mengasingkan diri ke hotel ataupun tempat semedi. Rumah dan kamar Anda sendiri pun sebenarnya bisa menjadi tempat bagi Anda untuk melakukan hibernasi produktif Anda!

Namun, bicara tempat sebenarnya tidaklah sesulit bicara soal mendapatkan ijin. Hal ini, saya rasakan semakin sulit apabila Anda sudah berkeluarga ataupun pekerjaan Anda tidak bisa dilepas sama sekali. Biasanya, untuk melakukan hibernasi produktif ini, perijinannya cukup panjang. Memberitahukan pada keluarga dan rekan-rekan agar tidak diganggu jika tidak penting hingga membatalkan atau menghentikan janji ataupun pertemuan yang tidak penting. Inilah yang biasanya paling sulit.

Memulai Gaya Hidup Baru

Ada yang menyebutnya sebagai retreat, rekoleksi jika ini berkaitan dengan urusan spiritual. Tetapi, hibenasi produktif ini tidak selamanya harus selalu spiritual. Sebagaimana dijelaskan alasannya diatas, urusannya juga bisa mental, fisik ataupun untuk pekerjaan kita. Di tengah-tengah hiruk-pikuk kita dengan berbagai agenda serta tugas yang silih berganti menganggu kita, sangat mungkin terjadi akhirnya banyak “hal penting” dalam hidup kita dikalahkan oleh hal-hal yang “mendesak”. Karena itulah, kita membutuhkan saat tenang utuk fokus  menyelesaikan ataupun meluangkan waktu untuk mengembangkan diri kita kembali. Sebagaimana dikatakan oleh seorang penulis dan pembicara wanita Asia terkemuka Chi-Ning Chu yang pernah menjalani pendidikan biarawati, “The fastest is the slowest” (yang pingin cepat-cepat justru menjadi lambat). Nah, ditengah kecepatan dunia kita sekarang inilah, sangat perlu bagi kita untuk berhenti dan jeda sejenak untuk membuat kita melaju lebih kencang. Itulah sebabnya kita memerlukan hibenasi produktif ini. Nah sekarang, masalahnya tinggal dua: Anda tertarik untuk melakukannya dan kedua, Anda bisa dapat ijin atau nggak?

(Anthony Dio Martin, "Best EQ trainer Indonesia", direktur HR Excellency, ahli psikologi, speaker, penulis buku-buku best seller, host program Smart Emotion di radio SmartFM Jakarta, Instagram: @anthonydiomartin dan fanpage: https://www.facebook.com/anthonydiomartinhrexcellency website: www.anthonydiomartin.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *