EQ GOES TO PAPUA 2016: PAPUA..OH..PAPUA!

Ceritanya berawal dari undangan dan ajakan untuk memberikan inspirasi  di Tembagapura, Timika serta Kuala Kencana. Meskipun ini bukan pertama kalinya, tapi kali ini lebih berkesan dan lebih luas jangkauannya.

Dengan disponsori oleh Yayasan Pendidikan Jayawijaya (YPJ) dan juga Freeport Indonesia, tim kami di HR Excellency-pun berangkat menuju ke Tembagapura. Selama seminggu disana, kami menamakan program ini “EQ GOES TO PAPUA 24016”. Intinya, membagikan inspirasi dan ilmu Kecerdasan Emosional (EQ) kepada masyarakat yakni para guru, orang tua, siswa maupun para karyawan di Tembagapura, Timika dan Kuala Kencana. Respon mereka sungguhlah luar biasa. Terlihat bagaimana antusias dan semangat mereka untuk mendengarkan, bertanya, sharing serta memberikan apresiasinya. Secara total, kami mengadakan 8 kali seminar untuk kelompok masyarakat yang berbeda-beda.

Dari semua aktivitas, yang paling menarik bagi kami adalah kesempatan melakukan bakti sosial dengan mengunjungi suku Kekwa di hulu sungai di Timika. Itulah pemandangan yang kontras. Rumah-rumah kayu yang dibangun di atas sungai. Dengan kondisi kurangnya air bersih dan sanitasi. Anak-anakpun banyak yang tidak berpakaian dan tidak berkesempatan ke sekolah. Akhirnya, ada yang menyebutkan, salah satu penyebabnya sekolah itu terletak di seberang sungai, beberapa kilometer dari kampong tersebut. Dan problemnya, antar suku tersebut sedang berperang sehingga orang tua pun tidak ada yang berani menyekolahkan anaknya.

Ketika tim kami tiba di sana, masyarakatnya begitu ceria dan antusias menyambut kami. Bahkan, ketulusan dan kepolosan anak-anak yang begitu terbuka dengan orang asing, begitu mengharukan. Di tengah kemiskinan mereka, ada spirit kebahagiaan.

So, apa pembelajaran dari acara EQ GOES TO PAPUA ini?

  1. Pendidikan adalah akar kemiskinan. Rakyat Papua masih banyak yang tidak punya akses untuk mendapat pendidikan. Helo pemerintah Papua?
  2. Selama ini, rakyat Papua banyak dininabobokan dengan diberikan ikan, bukan kail. Mereka justru perlu dikasih kail, dilatih dengan tegas untuk tidak mudah puas dengan hanya menerima ikan-ikan saja. Teman- teman Papua perlu belajar untuk bisa mandiri dan survive.
  3. Pendidikan mental dan pola pikir menjadi kunci penting juga. Banyak yang terlalu polos dan pikirannya mudah diisi. Ini berita baik, juga buruk. Sayangnya, kalau diisi dengan isu dan hasutan negatif, maka pikiran mereka jadi destruktif. Karena itulah butuh disuntik dengan motivasi dan pola pikir yang positif.
  4. Perubahan di Papua tidak akan mudah dan terjadi dalam sekejap mata. Tapi juga bukannya tidak mungkin. Makanya, butuh keterlibatan banyak pihak yang peduli untuk memberikan kontribusi bagi tanah Papua.
  5. So, next time, ketika ada kesempatan untuk memberi, sharing berbagi dan berperan bagi rekan-rekan masyarakat di Papua, jangan menolak ya?

Salam Antusias!

Anthony Dio Martin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *