AYO, TINGKATKAN L-FACTOR ANDA!

Willie Sutton, adalah seorang penjahat Amerika yang luar biasa. Seumur hidupnya, diperkirakan ia berhasil menggasak nyaris sekitar 2 juta dollar! Meskipun demikian, ia sendiri tidak menampilkan dirinya seperti seorang penjahat. Willie Sutton, menampilkan dirinya dengan penuh simpati dan banyak senyum. Itulah yang membuat ia menjadi begitu terkenal. Seorang saksi mata yang melihat perampokannya mengatakan, "Saya tidak takut sama sekali. Bahkan, ketika saya angkat tangan, saya merasa seperti ikut di dalam sebuah lakon film tentang perampokan". Bahkan, bukan hanya saksi mata saja yang terkesan padanya, ketika di penjarapun, para sipir bersimpati padanya. Karena berbagai usaha pelariannya, ia bahkan pernah dihukum seumur hidup, penjara selama 135 tahun. Bayangkan! Tetapi, nyatanya, ia tidak perlu dipenjara selama itu. Di tahun 1969, ia pun dibebaskan. Saat dibebaskanpun, ia pun banyak melakukan interview dan wawancara dengan televisi. Dan salah satu komentar Willie Sutton yang terkenal, yang kemudian disebut sebagai Hukum Sutton (The Sutton Law) adalah tatkala ia ditanya oleh wartawan, mengapakah ia merampok bank. Jawabannya pun sederhana, "Karena disitulah tempat dimana uang berada" (Because there where the money is!). Belakangan, Willie Sutton sendiri menolak bahwa ia pernah mengatakan hal itu. Tetapi, kalimat lainnya yang terkenal adalah, "Saya belajar, bahwa jauh lebih gampang membuat orang melakukan apapun dengan menggunakan senjata PLUS senyuman, daripada hanya menggunakan senjata saja!"

Harus saya akui, Wille Sutton adalah seorang penjahat dengan level Kecerdasan Emosional yang sangat tinggi! Seorang penjahat saja, tahu bagaimana cara menampilkan diri dengan baik. itulah yang membuat akhirnya, ia termasuk salah satu penjahat yang mendapatkan simpati yang sangat luar biasa. Bahkan, ia pun tidak perlu menghabiskan waktunya di penjara seumur hidupnya. Itulah penjahat dengan apa yang saya katakan, L-Factor-nya tinggi.

Apa itu L-Factor?

L-Factor, singkatan dari Likeability Factor. Istilah ini sebenernya  pertama kali menjadi populer oleh salah satu trainer favorit saya, Tim Sanders yang menuliskan buku dengan yang judul yang sama. Intinya, Likeability factor adalah faktor yang membuat orang terkesan, senang ataupun bersimpati kepada Anda.

Nah, realita menunjukkan bahwa seringkali L-Factor ini menjadi kunci sukses seseorang. Cobalah Anda terapkan dalam kehidupan Anda sehari-hari. Bukankah seseorang dengan L-factor yang tinggi itulah yang kemudian dipromosikan. Meskipun, bisa jadi pengetahuan teknisnya lebih kurang. Tetapi, karena ia lebih disukai dan lebih diterima, maka akhirnya ia pun diangkat. Sebaliknya, kita bertemu dengan banyak orang yang pintar dan sebenarnya bagus, tetapi akhirnya tidak bisa dipromosikan dan diterima hanya karena L-Factornya rendah. Bahkan, baru-baru ini, salah seorang kepala cabang sebuah perusahaan bisnis ritel berkonsultasi kepada saya. Tampangnya agak kacau, ia kelihatan depresi. Dan benar saja. Ia sendiri adalah seorang pimpinan yang tegas. Di bawah kepemimpinannya, ia berhasil membuat cabangnya yang sebelumnya selalu rugi,menjadi mulai untung. Sayangnya, caranya tidak terlalu disukai. Dalam empat tahun, anak buahnya mulai bersepakat untuk menentangnya. Puncaknya adalah demo di kantornya. Hingga akhirnya, manajemen puncak turun tangan. Padahal, dia adalah orang yang sangat pintar di bidangnya dan itupun terbukti. Sayangnya, caranya yang 'tangan besi' membuatnya tidak disukai. Dan singkat cerita, ia pun dipaksa untuk resign oleh manajemen. L-Factornya bermasalah!

Bukan hanya saja di bisnis, bahkan dalam penjualan ataupun pelayanan pun kita memerlukan L-Factor ini. Bukankah kita senang berbelanja dengan orang yang L-Factornya tinggi? Bukankah kita senang berbelanja pada orang-orang yang L-Factornya tinggi. Orang yang Anda terus-menerus membeli darinya, pastilah orang dengan L-Factor tinggi. Kecuali, memang produknya spesifik dan Amnda terpaksa membli darnya karena Anda tidak mampu menemukannya di tempat lain. Itulah pentingnya L-Factor Anda.

Bagaimana Menaikkan L-Factor Anda?

Berbicara mengenai L-Factor maka ada 4 komponen penting yang pengaruhnya besar terhadap kesuksesan Anda. Baru-baru ini, saya bahkan mensharingkannya dalam salah satu acara dimana komunitas lembaga kami, HR Excellency Club, bertemu dan berdiskusi secara rutin untuk pengembangan diri (nah, untuk bisa bergabung, Anda bisa memasukkan email Anda ke webiste kami di www.hrexcellency.com). Beberapa topik yang saya tulis di Bisnis Indonesia Minggu ini, juga saya sharingkan di forum tersebut. Nah, si dalam acara sharing dan diskusi tersebut, saya pun mulai bercerita soal L-Factor yang ternyata mendapat sambutan luar biasa. Rupanya, semua hadirin yang rata-rata pebisnis, sepakat bahwa L-Factor ini sangatlah penting untuk kesuksesan bisnis mereka.  Pertanyaannya, apa yang bisa dilakukan untuk menaikkan L-Factor ini?

Yang jelas, ada 4 komponen penting untuk menaikkan L-Faktor ini. Menyimpulkan dari hasil diskusi forum bisnis yang kami lakukan.

Pertama, faktor Keramahan. Keramahan ini mencakup kemudahan Anda untuk tersenyum dan didekati. Faktor inipun berbicara tentang seberapa besarnya minat Anda pada orang lain. Kenyataannya banyak orang yang hanya tertarik dengan dirinya dan nggak peduli dengan orang lain. Baginya, dirinyalah yang penting sehingga tatkala bertemu dengan orang lain, ia selalu memfokuskan pada pemikiran, masalah serta ide-idenya. Orang seperti ini, harusnya membayar orang lain yang telah meluangkan waktu untuk mendengarkan dia. Orang ini pada dasarnya terlalu egois dan tidak peduli orang lain. Sesekali, orang mungkin mau mendengarkan dirinya. Tetapi, lama kelamaan orang ini akan menjadi bosan.Karena itulah, orang yang ramah menyetel radarnya bukan ke dalam, tetapi keluar.

Kedua, faktor Koneksi. Dalam hal ini, orang dengan L-Factor yang tinggi dapat bicara dan 'nyambung' dengan apa yang orang lain katakan (kebayang nggak tatkala Anda bicara dengan orang yang nggak nyambung sama sekali. Capek banget kan?). Itulah yang saya maksudkan dengan koneksi ini. Konon, para geisha di Jepang, harus belajar mati-matian untuk memahami soal koneksi ini. Makanya, dalam tradisi Jepang, geisah tidak berkonotasi seksual tetapi tentang pekerjaan yang sifatnya menemani dan melayani. Dan untuk mencapai level ini, para geisha pun harus belajar dan meningkatkan kemampuannya dalam hal berbicara dan mengentertain orang-orang yang harus dilayaninya. Mereka harus belajar dan meningkatkan pengetahuannya agar nyambung dengan apa yang dikatakan para tamunya. Kalau para geisha saja bisa melakukannya, mestinya kita bisa melakukan dengan cara yang lebih baik lagi. Sayangnya, ego kitalah yang membuat kemampuan koneksi kita menjadi jelek!

Ketiga, faktor Kepekaan. Dalam hal ini, kemampuan empati Anda akan berperan penting. Disinilah Anda belajar bagaimana caranya untuk bisa memposisikan Anda dalam situasi orang lain. Inilah yang diajarkan oleh mereka-mereka yang melakukan servis dengan luar biasa kepada kita. Mereka mengajarkan, mereka mampu memposisikan diri mereka pada orang yang komplin dan menghadapi masalah. Pengertian inipun membuat orang merasa senang dan dihargai. Dan sebagai balasannya, mereka pun disukai.

Keempat, faktor terakhir adalah Ketulusan. Ketulusan inipun tampak, dari bagaimana kita melakukan sesuatu bukan karena "ada apanya" tetapi "apa adanya". Ini berbeda sekali dengan perilaku para pelayan di hotel ataupun restoran yang kadang melayani dengan luar biasa, tetapi dari perilakunya kita menangkap, bahwa mereka berharap mendapatkan tips dari kita. Ini yang kita katakan tidak tulus. Dan dalam bisnis, kita melihat orang melakukan servisnya dengan luar biasa tetapi mengharapkan order ataupun penjualan dari kita. Inilah yang akhirnya membuat orang menjadi tidak suka. Ketulusan terjadi tatkala kita melakukan sesuatu karena kita terdorong untuk membantu, menolong ataupun membuat situasi orang yang kita hada[i menjadi lebih ringan. Kenyataannya, orang dengan L-Factor tinggi adalah orang yang selalu menunjukkan kepada orang disekitarnya, "Apa yang bisa saya bantu? Apa yang bisa saya lakukan untuk membuat hidup Anda lebih baik?"

Ahirnya pembaca, kalau saja seorang penjahat tahu bagaimana cara membangun L-Factornya seharusnya Anda mulai memikirkan bagaimana Anda menaikkan L-Factor Anda. Caranya? Mulai sekarang, praktikkan apa yang telah diungkapkan diatas, seperti diajarkan oleh Willie Sutton. Ups...tentu saja Anda nggak perlu pegang senjata, cukup tingkatkan KERAMAHAN, KONEKSI, KEPEKAAN serta KETULUSAN Anda menghadapi siapapun yang ada disekeliling Anda!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *