Annoying Co-Worker: Tips Menghadapi Rekan Kerja Yang Menyebalkan

Annoying Co-Worker: Tips Menghadapi Rekan Kerja Yang Menyebalkan

Pernahkah menghadapi rekan kerja yang menyebalkan?

Mereka bisa muncul dalam berbagai bentuk sikap dan tingkah laku.

Lusi, misalnya. Ia adalah tipe teman kerja yang suka sirik. Ia tidak suka ketika teman-temannya menceritakan pengalaman, benda ataupun sesuatu yang lebih hebat. Pokoknya, dia akan menimpali dengan hal-hal yang lebih hebat menurut ukurannya. Caka, lain lagi. Hobinya adalah mencari muka di depan manajemen ataupun pimpinan. Ketika tidak ada agenda sama sekali, Caka sebenarnya menyenangkan sekali orangnya. Tapi, kalau sudah di ruang rapat ataupun dalam presentasi, Caka bisa menyerang orang lain untuk menunjukkan kehebatan dirinya. Selain itu, ada pula Sisi yang hobinya memancing emosi dan tampaknya suka cari masalah. Sisi suka lempar tanggung jawab, menyalahkan bagian lain. Pernah satu kali, Andre yang menerima tudingan Sisi, jadi naik pitam dan ngamuk di ruang rapat. Justru hal ini dipakai oleh Sisi untuk semakin memojokkan Andre. “Kalau nggak salah, nggak usah marah-marah dong! Justu biasanya kalau makin defeksif itu perlu kita curigai, ada yang disembunyiin!” Andre pun jadi makin ngamuk!

Itulah berbagai pola dan tingkah laku rekan-rekan kerja yang menyebalkan.

Hukum Ying Yang: Rekan Menyenangkan dan Yang Tidak Menyenangkan

Intinya. Akan ada banyak karakter dan kerpibadian yang kita hadapi di lingkungan kerja kita. Ada rekan kerja yang menyenangkan namun juga ada rekan kerja yang menyebalkan. Ini sudah menjadi dinamika kehidupan kantor yang banyak orang alami. Dimana kita akan semangat untuk bekerja berkat rekan kerja kita, namun kita juga dapat menjadi tidak bersemangat karena rekan kerja kita.

Kalau rekan kerja kita menyenangkan hal itu tidak menjadi masalah. Namun bagaimana kalau rekan kerja kita sebaliknya. Maka mau tidak mau kita harus berusaha mengatasinya.

Tips Menyikapi Rekan Kerja Yang Menyebalkan

Faktanya kita memang tidak bisa memilih-milih dengan siapa kita bekerja. Maka kalau terpaksa kita harus berhadapan dengan rekan kerja yang menyebalkan, kita harus dapat mencari solusi untuk hal ini. Pertama-tama yang harus kita lakukan tentu adalah bersikap tenang.

Terkadang orang yang menyebalkan di hadapan kita itu justru akan semakin senang kalau kita mudah terpancing emosi. Maka dari itu jangan turuti keinginannya dengan mudah terpancing. Justru sikap tenang kita yang konsisten akan meredakan ulahnya. Hal ini mirip seperti pelajaran menghadapi si tukang bully. Biasanya, orang yang senang mem-bully akan semakin bersemangat ketika yang di-bully semakin merasa terpojok, ataupun bereaksi secara emosional. Karena itu, berusahalah tidak terpengaruh. Tetapi, jika kelamaan, kita pun harus berani tegas dan keras menghadapi mereka untuk mengirimkan sinyal bahwa mereka pun tidak bisa seenaknya kepada kita. Ingatlah, memiliki kecerdasan emosional yang baik bukanlah kita tidak pernah marah. Tetapi, marah kita punya alasan.

Namun, yang pelru diingat, bedakanlah antara marah yang tegas dengan marah-marah. Hanya marah-marah melulu tanpa sikap yang tegas adalah percuma. Ada kalanya, memang sebaiknya diabaikan saja, supaya energi kita tidak terbuang percuma. Hal ini tidak ubahnya saat kita marah-marah pada orang yang terganggu pendengaranya. Justru karena kita merasa tidak ada gunanya memarahi orang yang telinganya bermasalah, maka kita tidak akan marah lagi. Buatlah rekan kerja kita yang menyebalkan tersebut merasa percuma mengganggu kita dengan sikap tenang yang konsisten. Pelajaran kecerdasan emosional mengajarkan bahwa cerdas emosi  menghadapi rekan kerja yang bermasalah adalah dengan fokus pada faktanya, bukan emosinya.

Ada teknik dalam ilmu Kecerdasan Emosi yang bisa kita gunakan, yakni Prinsip ABCDE.

Bagaimanakah prinsip ABCDE ini bisa kita gunakan?

Pertama-tama A, Adversity. Itulah masalahmu. Khususnya dalam hal ini adalah rekan yang bisa jengkel. Berikutnya adalah B, atau Beliefmu. Apa keyakinanmu. Kalau kamu meyakini orang ini menyebalkan ataupun, “orang ini perlu dikasih pelajaran”, hal itu akan pengaruhi C. C adalah Consequence atau akibat atau respon yang kamu akan lakukan. Kalau selama ini, cara meresponmu kepadanya tidak mempan ataupun tidak menjadi lebih baik, mungkin ada baikya kamu lakukan D, atau Disputing (menantang) khususnya keyakinan ataupun caramu yang selama ini keliru. Bisa jadi, kamu belajarlah meyakini bahwa orang seperti ini bisa memberi pelajaran buatmu. Bagi saya, tatkala menghadapi rekan kerja yang bermasalah, justru menantang bagaimana caranya “orang bisa bisa dibungkam dengan kinerja ataupun hasil saya yang lebih baik dari dia”. Ketika kita mampu memberikan keyakinan yang baru, maka kita pun menjadi lebih E yakni Energizing, atau lebih bersemangat lagi. Jadi, dengan demikian rekan kerja yang menyebalkan bukan lagi gangguan, tetapi tantangan!

Tentu hal ini membutuhkan kecerdasan emosi dari dalam diri kita untuk mengendalikan diri dalam mempraktekkan Prinsip ABCDE. Namun percayalah, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan. Tetap jaga ketenangan Anda dan jangan terpancing dengan keadaan. Atur nafas dan tetap kendalikan pikiran Anda, bentuk keyakinan jika tindakan rekan Anda tidak boleh mengganggu pekerjaan Anda. Alihkan pikiran Anda dari gangguannya. Maka liahtlah hasilnya secara perlahan.

#kecerdasanemosi #kecerdasanemosional

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *