Enam Komentar Negatif Para Leader Non HR soal “HR for Non HR”

Minggu lalu, secara intensif 2 hari tim kami berbagi pengetahuan dengan tim leaders di Kalbe Nutritionals. Kali ini, topiknya soal bagaimana mengelola orang (people management) serta sistemnya. Program ini disebut HR for Non HR. Dalam program ini, peserta belajar soal 6 pilar penting dalam manajemen orang (SDM): (1) selection & recruitment, (2) training & development, (3) talent management & competency, (4) performance management, (5) employee relation & labor relation serta (6) compensation & benefit. Sampai satu tahun ke depannya, tim kami commit dalam program untuk mengedukasi para leader disana soal bagaimana menjadi pimpinan yang makin peduli dengan orang-orang. Untungnya, mereka adalah leader-leader muda yang antusias, jadi terbuka dengan pembelajaran!

Why HR for Non HR? Memang ilmu ini adalah ilmunya orang HRD atau HC, tapi tatkala para leader non HRD memahami sistem ini lebih baik maka proses pengelolaan orang akan “take off” lebih mudah. Daripada, terus-menerus kepingin mengembangkan sistem HRD yang maju tapi tidak punya leader yang commit dan support. Pengalaman selama ini, sharing ilmu HR for Non HR itu gampang-gampang susah.

Sebagai ilustrasi, sejak beberapa tahun lalu, kami lakukan survei sebelum program “HR for Non HR” ini dilakukan. Ternyata inilah jawaban mereka dari beberapa tahun lalu.

  1. “Manusia itu Kan Urusannya HRD. Bukan Bagian Kita”

Bagi Non HR, banyak yang pikir manusia itu urusan HR. Lha, orang-orang yang ada di unit mereka itu apakah bukan manusia? Apakah itu robot atau aliens? Tak mengherankan, tatkala ada isu seputar orang di bagian Non HR banyak yang sering lepas tangan. Bisa jadi karena mereka berpikir itu urusannya HRD. Atau, bisa juga karena nggak kompeten sebab selama ini nggak berpikir hal itu diperlukan untuk diketahui.

  1. HR for Non HR? Hmm… Kok Kayak Lempar Kerjaan ya?”

Soal ini, HRD bukanlah lempar kerjaan. Justru, kalau mau dilayani lebih baik oleh HRD, maka semakin penting bagi para user Non HR untuk ngerti soal HR. Contohnya penulisan job description. Memang, soal cara penulisannya HRD paham, tetapi soal akurasi dan ketepatannya, para user dilapangan yang tahu, Atau soal kompetensi yang dibutuhkan. Sering pula terjadi, user Non HR complain dengan hasil rekrutmen dari HRD tetapi tatkala diajak dalam proses interview candidate, mereka tidak mau meluangkan waktu. Kenapa, karena ya itu..mereka pikir ityu sebenarnya kerjaanya HRD.

  1. Urus Kerjaan Sendiri Aja Udah Repot, Apalagi Disuruh Ngurus HRD”

Mengurusi bidang terkait HRD, bukanlah mengurusi pekerjaan HRD tetapi sebenarnya mengurusi orang di unit kerja. Inilah yang harus bisa dibedakan. HRD tidak bermaksud meminta kita mengambil alih tugas kerjaan HRD tetapi jadi mitra ataupun partner informasi. Masalahnya, sehebat-hebatnya orang HRD, Anda sebagai userlah yang paling tahu.  Karena itu, paradigma leader harus diubah. Anda sebagai leader Non HRD bukan mengurusi pekerjaannya HRD tapi mengurusi masa depan orang-orang Anda dengan bantuan sistem manajemen orang yang telah dikembangkan oleh HRD. So by understanding HR System, actually you help yourself!

  1. “Ngurus Orang itu Terlalu Complicated”

Semua kerjaan pada dasarnya juga complicated. Karena itulah kita dibayar. Untuk memecahkan masalah dan memberikan solusi. Sekarang tinggal kita berpendapat, “Mengurusi manusia itu complicated, tapi menyenangkan. Atau, mengurusi orang itu menyenangkan, tapi complicated”. Mana yang akan membuat pilihan kita lebih mudah? Seringkali, sesuatu menjadi complicated karena tidak paham dasar-dasarnya. Sama seperti saya yang susah paham soal otomotif karena tidak punya latar belakang ilmu mesin. Tetapi, ketika diterangkan dasar-dasarnya, saya jadi belajar bahwa sesuatu yang complicated ada ilmunya dan bisa dipelajari. Begitu juga soal manusia.

  1. “Ngurus Orang Kan Gitu-Gitu Aja, Apa Susahnya Sih Sampai Harus Dipelajari?”

Sebaliknya, ada banyak leader Non HR yang berpikir bahwa HR itu ilmu yang paling gampang dan mudah. Sampai mereka berpikir, “Siapa pun bisa ngurusin HR kok”. Memang, di dalam ilmu ke-HRD-an membutuhkan banyak ilmu “common sense”. Tetapi, HRD sekarang bukan lagi sekedar personalia seperti jaman dulu. Kalau tidak ingin ketinggalan, apalagi di organisasi dengan jumlah populasi masyarakat besar, pengelolaan HRD yang efektif dengan sistem yang baik, menjadi syarat mutlak. Kalau udah begitu, jika manusia di organisasi semakin banyak, hal itu membutuhkan strategi. Intinya, perlu sistem. Jadi nggak bisa lagi sekedar ilmu “kayaknya” atau “enaknya”. Bukan tanpa alasan mengapa dulu tidak ada ilmu ke-HRD-an tetapi sekarang ada program S-2 yang khusus mendalami Manajemen SDM atau ada jurusan Psikologi Industri dan Organisasi (PIO). Manusia, makin tambah pinter, makin langka yang talented dan orang pun berebutan mencari yang bagus-bagus!

  1. “Nggak Perlu Sistem HRD Yang Canggih-canggih, Kan Kita Perusahaan Yang Sederhana”

Setuju sih. Albert Einstein juga mengatakan bahwa tanda kejeniusan adalah kemampuan membuat yang complicated menjadi mudah. Dan harusnya sistem yang diterapkan itu, mempermudah bukannya mempersulit. Begitupun sistem HRD. Tapi, harus diakui dengan semakin banyaknya orang, sistem HRD akan menjadi lebih kompleks (ingat saya bilang komples, bukan ribet. Atau istilahnya …lebih banyak aspeknya). Memang nggak perlu yang canggih-canggih tetapi juga berarti bisa dibiarkan berjalan tanpa sistem. Sebagai conoth, apakah kita punya rekrutmen yang standar? Apakah sistem training kita terencana dengan baik? (Kalau tidak kita akan seperti membuang garam ke laut). Apakah kita kelola talent kita? Kalau nggak, mereka akan pergi. Bagaimana kita memngikuti aturan-aturan depnaker? Kalau nggak, siap-siap didemo. Dan masih banyak lagi. Kan ini tidak berarti sistemnya harus terlalu canggih dan complicated kan? Tapi harus ada sistemnya.

So, bagaimana membuat para leader Non HR lebih mau peduli?

Kami telah membagikan ilmunya melalui training (jika memang perusahaan komitmen tinggi terhadap pengelolaan manusia jangka panjang) serta mengalokasikan anggaran. Tetapi, jika tidakpun berkesempatan ikutan training, sekarang ini pun ada banyak ilmu tentang HR yang bisa dibaca dan diakses. Jadi tidak ada alasan bagi para leader Non HR untuk mau belajar. Persoalannya, kembali lagi ke obrolan yang sederhana, apakah ini hanya alasan saja untuk tidak mau tahu soal HRD ataukah mereka sebenarnya mereka belum melihat WHY (apa alasannya) mengapa perlu belajar HRD? Nah, kalau begitu tugas pimpinan di atasnya, juga rekan di HRD untuk meyakinkan mereka untuk mau peduli dengan ilmu HRD. Memahami HR, adalah memahami pengelolaan manusia.  Seperti kata Jack Welch soal peran HR yang bisa Anda saksikan disini https://www.youtube.com/watch?v=rByDmC0SqtM . Ilmu HR adalah salah satu ilmu terpenting di bisnis yang harus dipahami para leader!

Salam Antusias,

Anthony Dio Martin

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *